Sahabat Guru Hebat,
Perubahan digital bukan hanya mengubah cara siswa belajar, tetapi juga cara kita, sebagai guru, menyampaikan makna. Hari ini, mengajar tidak lagi cukup berhenti di kelas. Kita ditantang untuk mengemas pembelajaran agar relevan, menarik, dan benar-benar berdampak, sebuah pendekatan yang, disadari atau tidak, semakin dekat dengan cara kerja dunia komunikasi.
Semangat inilah yang terasa dalam webinar kolaborasi Komunitas Guru Satkaara Berbagi (KGSB) dan Mentari Group pada 2 Mei 2026. Mengusung tema “Guru sebagai EduCreator”, kegiatan tersebut diikuti ratusan pendidik dari berbagai jenjang, baik anggota KGSB maupun non KGSB. Diskusi dan pembelajaran ini mengajak kita melihat peran guru dari sudut pandang baru, bukan semata sebagai pengajar, namun juga komunikator pembelajaran.
Pertanyaannya, jika kita adalah komunikator, sudahkah jelas apa pesan yang ingin kita sampaikan? Apa nilai unik yang kita bawa? Siapa sebenarnya “audiens” kita, dan apakah mereka merasa terhubung? Di sinilah tantangan sesungguhnya. Bukan sekadar menguasai teknologi, tetapi memahami bagaimana pesan kita bisa “sampai” dan “tinggal” dalam pikiran siswa.
Founder KGSB Ruth Andriani, menegaskan bahwa peran guru kini meluas yaitu menjadi fasilitator, mentor, sekaligus motivator. Ketiganya membutuhkan kemampuan membaca kebutuhan siswa, membangun keterlibatan, dan menjaga konsistensi pesan. Tanpa itu, konten akan mudah lewat begitu saja, sebaik apapun medianya.
Dari sisi praktis, EduCreator Fikri Suhardi mengingatkan pentingnya menemukan fokus atau niche. Bagi guru, ini bisa berarti kejelasan gaya mengajar, pendekatan, atau kekuatan materi. Tanpa fokus, pesan mudah kabur. Dengan fokus, dampak menjadi lebih terasa. Namun di titik ini, kita perlu jujur bertanya, apakah yang kita buat benar-benar menjawab kebutuhan siswa, atau sekadar mengikuti arus?
Sementara itu, Head of Marketing Communications Mentari Group Bunga Mega menekankan bahwa konten edukatif yang tepat tidak hanya membantu pemahaman, tetapi juga membentuk karakter. Artinya, setiap materi yang kita bagikan, baik di kelas maupun di platform digital, ikut membangun cara berpikir siswa.
Dalam kesempatan yang sama, Mentari Group juga memperkenalkan program Mentari National Awards for Educators (MNAE) 2026, sebuah ajang apresiasi berskala nasional untuk menjaring dan mengapresiasi guru serta kepala sekolah inspiratif sebagai agen perubahan di dunia pendidikan.
Salah satu kategori pada ajang ini adalah Mentari EduCreator Award. Kategori ini terbuka bagi guru di seluruh Indonesia yang memanfaatkan platform digital untuk menjadi EduCreator dengan berbagi praktik pengajaran serta memberikan dampak dalam penguatan literasi, numerasi, dan pendidikan karakter. Pendaftaran program MNAE dibuka mulai 25 Februari hingga 29 Mei 2026. Selengkapnya informasi pendaftaran dapat diakses pada kanal www.mentarigroups.com/mnae.
Antusiasme peserta webinar menunjukkan banyak guru mulai melihat peluang untuk memperluas dampak melalui media digital. Namun peluang ini datang bersama tanggung jawab yaitu menjaga kualitas, kredibilitas, dan tujuan pembelajaran tetap menjadi prioritas.
Mungkin refleksi terpentingnya ada di sini, jika kita adalah EduCreator, maka “jejak” apa yang sedang kita bangun? Dan apakah yang kita bagikan hari ini benar-benar mendekatkan siswa pada versi terbaik dirinya?



