Sahabat Guru Hebat
Hari ini, banjir, gempa bumi, tanah longsor, dan berbagai bencana lain kembali menjadi bagian dari pemberitaan harian kita. Di satu sisi, media membantu anak memahami realitas sosial. Namun di sisi lain, derasnya informasi dapat membuat mereka hanya menjadi penonton pasif : melihat, kaget sebentar, terlupa. Di sinilah peran pendidik menjadi sangat penting, bukan sekadar menyampaikan fakta, tetapi menumbuhkan sikap empati yang mendorong tindakan.
Empati bukan sekadar rasa kasihan. Ia adalah kemampuan merasakan penderitaan orang lain sekaligus dorongan untuk berbuat sesuatu. Dalam konteks pendidikan, empati menjadikan anak lebih peka, tidak egois, dan memiliki keinginan untuk berkontribusi bagi sesama. Maka, bagaimana guru dapat menumbuhkannya di tengah situasi bencana yang semakin sering terjadi?
1. Mengajak Anak Melihat dari Perspektif Korban
Guru dapat mulai dengan pertanyaan sederhana :
“Bagaimana perasaan anak-anak yang rumahnya hilang diterjang banjir?”
“Jika kamu berada di sana, apa yang paling kamu butuhkan?”
Aktivitas imajinatif seperti ini membuat anak tidak hanya mengetahui, tetapi juga merasakan. Ini memperdalam kesadaran, bukan hanya menghafal informasi.
2. Membiasakan Refleksi Singkat Setelah Menyimak Berita
Setelah menonton video edukasi atau membaca artikel tentang bencana, mintalah siswa menuliskan refleksi singkat: satu perasaan, satu pikiran, dan satu aksi yang bisa dilakukan. Latihan refleksi kecil namun konsisten membuat empati tumbuh sebagai habit, bukan sekadar momen.
3. Menghubungkan Empati dengan Aksi Konkret
Empati yang sehat selalu berujung pada tindakan, meskipun sederhana. Guru dapat menginisiasi:
- penggalangan pakaian layak pakai,
- membuat kartu doa dan dukungan untuk anak-anak korban bencana,
- atau program donasi kecil dari tabungan bersama.
Aksi nyata meneguhkan bahwa kepedulian tidak harus menunggu dewasa dan tidak harus dimulai dari hal besar.
4. Membedakan Empati dengan Ketakutan
Tak sedikit anak yang merasa cemas ketika melihat bencana di media. Di sinilah guru perlu mengarahkan bahwa memahami bencana bukan untuk ditakuti, melainkan untuk belajar berbuat baik dan lebih siap. Pengetahuan mitigasi bencana dapat digabungkan dengan nilai kemanusiaan, sehingga anak belajar dua hal sekaligus: peka dan tangguh.
5. Menjadi Teladan dalam Sikap dan Bahasa
Guru tidak perlu mengajarkan empati hanya lewat ceramah. Cara kita membahas bencana secara hormat, tidak sensasional, dan penuh kasih, akan menjadi contoh langsung bagi murid. Anak belajar empati bukan hanya dari kurikulum, tetapi dari cara gurunya memandang dunia.
Empati adalah Kehadiran
Di tengah frekuensi bencana yang meningkat, ruang kelas tidak boleh hanya menjadi tempat menyalurkan rasa takut atau sekadar mencatat fakta. Pendidikan harus melahirkan generasi yang peduli, yang mampu menoleh kepada saudaranya yang sedang sulit, dan siap berkontribusi walau melalui langkah-langkah kecil.
Empati adalah metode pendidikan yang paling manusiawi. Ketika guru menumbuhkan empati, ia sedang menyiapkan anak didik bukan hanya menjadi cerdas secara akademik, tetapi juga menjadi manusia yang hadir untuk sesamanya.



