Dari Kelas ke ARTJOG

Share this article

Pagi itu, halaman SMP Negeri 3 Tempel, Sleman, lebih ramai dari biasanya. Ratusan siswa berkumpul di halaman sekolah, namun bukan untuk mengikuti upacara atau kegiatan belajar mengajar seperti hari-hari biasa. Hari itu mereka akan dibawa dalam sebuah pembelajaran di luar ruang kelas.

Yup, ratusan anggota sekolah yang terdiri dari siswa, guru, karyawan, dan mahasiswa praktik kerja tersebut tengah bersiap menuju ARTJOG 2026 di Jogja National Museum, Yogyakarta. 14 bus berukuran sedang sudah menanti untuk mengangkut seluruh rombongan.

Perjalanan itu singkat. Mereka berangkat sekitar pukul 10.00 WIB dan sekitar 13.30 WIB, telah kembali ke sekolah. Namun bagi Bu Mulasih, Kepala Sekolah SMP Negeri 3 Tempel yang mendampingi rombongan, kesempatan tersebut memberikan pengalaman yang layak dibawa pulang ke sekolah.

“Alhamdulillah kami sudah melakukan kunjungan ke ARTJOG. Seluruh rombongan berjumlah 403 personil terdiri dari siswa kelas 7 dan 9, guru karyawan dan mahasiswa PK,” ujar Mulasih.

Kunjungan berlangsung lancar.  Mereka pulang tak hanya membawa oleh-oleh dokumentasi perjalanan,  namun juga pengalaman bagi siswa untuk berjumpa langsung dengan karya seni dan ruang pameran yang mungkin tidak setiap hari mereka datangi.

“Alhamdulillah lancar. Terima kasih Satkaara dan KGSB,  sudah diberi kesempatan berkunjung ke ARTJOG,” ujarnya.

Pengalaman SMP Negeri 3 Tempel tersebut  adalah salah satu bagian dari antusiasme yang lebih luas di kalangan guru yang tergabung dalam Komunitas Guru Satkaara Berbagi (KGSB). Melalui Satkaara Communications, sebagai lembaga payung KGSB, lebih dari 6.000 tiket gratis ARTJOG 2026 didistribusikan ke berbagai komunitas. KGSB kemudian membuka akses tersebut kepada para anggotanya, sekolah tempat mereka mengajar, siswa, rekan guru, hingga keluarga.

Di Kulon Progo, sejumlah sekolah dalam jejaring KGSB juga memanfaatkan tiket-tiket tersebut untuk memberi pengalaman berharga bagi para siswanya.  SD Muhammadiyah Worawari Kulon Progo dan SMP Negeri 1 Pengasih menyiapkan kunjungan satu kelas pada akhir pekan.

Antusiasme terlihat sejak pendaftaran dibuka. Pada salah satu tahap distribusi, pengurus KGSB mencatat 1.467 tiket telah terdaftar untuk dikirimkan. Jumlah tersebut kemudian meningkat menjadi sekitar 2.800 tiket, dan terus meningkat hingga menjelang penutupan event, hampir seluruh tiket telah berada di tangan yang tepat.

Pengurus KGSB memang memberi keluasan kepada para anggota KGSB untuk mengajak sebanyak mungkin siswa maupun komunitas di lingkungannya untuk hadir dalam event ARTJOG.  Bahkan, ketika jumlah penerima dalam satu sekolah cukup besar, kuota tiket masih memungkinkan untuk ditambah. Seorang guru, misalnya, mendapat kesempatan untuk mengajak keluarga atau memperluas manfaat tiket kepada lebih banyak anggota komunitas sekolah.

Dengan demikian, tiket gratis tersebut tidak berhenti sebagai fasilitas bagi guru. Ia berkembang menjadi kesempatan bagi satu komunitas pendidikan untuk mengalami ARTJOG bersama-sama.

Menariknya, tidak semua tiket yang telah dialokasikan kemudian digunakan. Ketika terdapat tiket yang tidak terpakai, ada sekolah yang melimpahkan tiket tersebut untuk mahasiswa seni dari ISI Yogyakarta dan Universitas Negeri Yogyakarta.

Pilihan itu membuat manfaat program bergerak lebih jauh. Tiket yang semula diperuntukkan bagi komunitas guru dan sekolah dapat diteruskan kepada generasi muda yang memang tengah menekuni bidang seni.

Bagi KGSB dan Satkaara, semangat semacam ini sejalan dengan gagasan awal program, yakni  menghadirkan seni sebagai salah satu ruang belajar yang dapat diakses lebih luas.  Sebab bagi seorang guru, membawa siswa ke ruang seni bukan semata-mata mengajak mereka melihat karya. Ada kesempatan untuk mengajak siswa bertanya, mengamati, menafsirkan, berdiskusi, bahkan mempertanyakan sesuatu yang sebelumnya tidak pernah mereka pikirkan.

Ketika belajar tidak berhenti di ruang kelas

ARTJOG 2026 berlangsung pada 19 Juni hingga 30 Agustus 2026 di Jogja National Museum. Tahun ini, ARTJOG mengusung tema “ARS LONGA: GENERATIO”, bagian pertama dari trilogi kuratorial Ars Longa Trilogia yang akan berlangsung hingga 2028. Tema tersebut mengeksplorasi dialog dan praktik lintas generasi dalam seni.

ARTJOG menghadirkan karya dari 25 seniman undangan dan 19 seniman muda berusia maksimal 35 tahun. Pada saat yang sama, festival ini juga menghadirkan ARTJOG Kids yang melibatkan 52 anak dan remaja berusia 6–15 tahun.

Kehadiran ARTJOG Kids menjadi menarik bagi komunitas pendidikan karena memperlihatkan bahwa seni tidak hanya berbicara dari perspektif seniman dewasa. Anak-anak dan remaja juga diberi ruang untuk menunjukkan cara mereka melihat dan memahami dunia.

Program ARTJOG Kids sendiri telah dirintis sejak 2022 sebagai medium pembelajaran seni dan melalui seni bagi anak-anak. Program ini menjadi bagian dari upaya ARTJOG menghadirkan pendekatan yang lebih dekat dengan dunia anak sekaligus memperkenalkan seni rupa kontemporer kepada generasi muda.

Bagi guru, pengalaman semacam ini dapat menjadi pintu masuk pembelajaran yang berbeda. Di situ, Guru bisa menularkan pemikiran kepada para siswanya. Bahwa sebuah karya seni tidak selalu hadir dengan jawaban. Ia justru bisa memunculkan pertanyaan: Mengapa karya ini dibuat? Apa yang ingin disampaikan senimannya? Mengapa benda sederhana dapat menjadi karya seni? Mengapa satu karya bisa dimaknai berbeda oleh setiap orang?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat dibawa kembali ke sekolah, menjadi bahan diskusi di kelas, bahkan menjadi cara baru bagi guru untuk mengajak siswa berpikir kritis dan melihat sesuatu dari perspektif berbeda.

ARTJOG sendiri telah berkembang sejak pertama kali hadir sebagai Jogja Art Fair pada 2008, kemudian menggunakan nama ARTJOG sejak 2010. Dalam perjalanannya, festival ini berkembang tidak hanya sebagai ajang presentasi karya seni, tetapi juga menjadi ruang pertemuan antara seniman, publik, komunitas, dan berbagai program edukasi.

Perjalanan 403 warga SMP Negeri 3 Tempel menuju ARTJOG mungkin terlihat seperti sebuah kunjungan singkat.  Namun di balik perjalanan itu ada sebuah gagasan yang lebih panjang, bahwa proses belajar dapat berlangsung di mana saja.

Di dalam kelas, guru mengajarkan siswa untuk membaca buku. Di ruang seni, mereka belajar membaca karya. Dan dari kedua ruang itu, bisa lahir hal yang sama. Kemampuan untuk melihat, bertanya, dan memahami dunia dengan cara ayang lebih luas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2023 Copyrights  kgsb.org