Kolaborasi antara Komunitas Guru Satkaara Berbagi (KGSB) dan Departemen Psikologi FISIP Universitas Brawijaya kembali menghadirkan ruang diskusi pendidikan melalui webinar bertajuk Student Contribution Index (SCI): Inovasi Penilaian untuk Meningkatkan Partisipasi dan Keadilan Belajar, Sabtu (16/5/2026). Webinar yang telah menjadi bagian dari kerja sama berkelanjutan sejak 2023 ini diikuti guru dan tenaga pendidik anggota KGSB dari berbagai daerah di Indonesia.
Dalam sambutannya, Ketua KGSB Ardyles Faesilio menyampaikan bahwa kolaborasi dengan Departemen Psikologi FISIP Universitas Brawijaya merupakan langkah strategis untuk mempertemukan dunia perguruan tinggi dengan praktik pendidikan di lapangan. Menurutnya, tantangan pembelajaran yang terus berubah membutuhkan ruang diskusi yang mampu menjawab persoalan nyata para pendidik.
“Kolaborasi ini menjadi momentum penting untuk menghadirkan ruang belajar bersama yang relevan dengan dinamika pembelajaran saat ini. Kami berharap para pendidik dapat memperoleh wawasan praktis untuk membangun pembelajaran yang lebih partisipatif, transparan, dan berkeadilan,” ujarnya.
Ketua Departemen Psikologi FISIP Universitas Brawijaya, Dita Rachmayani, menegaskan komitmen pihak kampus dalam menghadirkan program-program yang berdampak bagi dunia pendidikan. Ia menyebut SCI sebagai salah satu pendekatan inovatif yang dapat membantu guru melihat proses belajar siswa secara lebih utuh.
“Penilaian tidak hanya berfokus pada hasil akhir, tetapi juga proses dan kontribusi siswa dalam pembelajaran. Dengan begitu, iklim belajar yang lebih adil dapat tercipta dan siswa merasa dihargai,” katanya.
Materi utama webinar disampaikan oleh Omar K. Burhan, dosen sekaligus ilmuwan psikologi sosial dan organisasi yang meneliti relasi sosial, keadilan organisasi, dan inovasi pembelajaran. Dalam pemaparannya, Omar menjelaskan bahwa SCI lahir dari keresahan yang sering muncul dalam tugas kelompok mahasiswa.

“Saat masih mengajar di USU, banyak mahasiswa melaporkan anggota kelompok yang tidak berkontribusi. Persoalannya bukan sekadar ada laporan, tetapi bagaimana dosen memiliki dasar objektif untuk menaikkan atau menurunkan nilai berdasarkan kontribusi nyata masing-masing,” jelasnya.
Bersama dosen dari Universitas Syiah Kuala, Omar kemudian mengembangkan sistem SCI yang kini telah berbentuk aplikasi penilaian kontribusi individu dalam kerja kelompok.
Dalam paparannya, Omar menjelaskan adanya paradoks dalam pembelajaran berbasis tim (team-based learning). Di satu sisi, metode ini terbukti mampu meningkatkan keterlibatan belajar, self-directed learning, dan hasil akademik. Namun di sisi lain, banyak mahasiswa justru membenci kerja kelompok karena dianggap tidak efisien, menimbulkan frustrasi, dan terutama menghadirkan ketidakadilan dalam penilaian.
“Masalah utamanya sebenarnya bukan pada metode kerja kelompoknya, melainkan bagaimana kita menilainya,” tegas Omar.
Ia menjelaskan bahwa sistem penilaian kolektif tradisional sering kali menyembunyikan kontribusi individu, mendorong social loafing atau perilaku menumpang kerja teman, sekaligus menghukum mahasiswa yang bekerja lebih keras. Karena itu, SCI dirancang untuk menciptakan “keteridentifikasian kontribusi”, yaitu kemampuan sistem dalam mengukur kontribusi setiap anggota kelompok secara jelas dan terukur.

Melalui SCI, setiap anggota kelompok secara anonim mendistribusikan 100 poin kontribusi kepada seluruh anggota tim. Data tersebut kemudian diolah oleh SCI Engine untuk menghasilkan indeks kontribusi masing-masing individu. Mahasiswa dengan kontribusi lebih besar dapat memperoleh reward berupa penyesuaian nilai lebih tinggi, sementara kontribusi yang rendah dapat memperoleh penyesuaian nilai lebih rendah secara proporsional.


Dalam salah satu contoh yang dipaparkan, nilai dasar proyek kelompok sebesar 75 dapat direkalibrasi menjadi 77,5 bagi mahasiswa dengan SCI 1,10 karena bekerja melebihi porsi normal, sementara mahasiswa dengan SCI 0,85 memperoleh nilai 71,25 karena kontribusinya lebih rendah.
Omar juga memperkenalkan spektrum perilaku dalam kerja kelompok, mulai dari free-rider yang sengaja menahan kontribusi tetapi tetap menikmati hasil kelompok, social loafer yang bekerja di bawah standar, hingga compensator, yakni anggota yang bekerja ekstra keras untuk menutupi kekurangan anggota lain.
“Keadilan bukan berarti semua siswa mendapat nilai yang sama, tetapi nilai yang benar-benar merepresentasikan usaha,” ujarnya.

Diskusi webinar berlangsung aktif. Para guru mengangkat berbagai persoalan, mulai dari rendahnya motivasi belajar siswa, tantangan membangun tanggung jawab dalam tugas kelompok, hingga potensi kolusi antarsiswa dalam sistem penilaian kontribusi.

Salah satu peserta, Arum Eka Prihatiningsih, menyoroti fenomena siswa yang menganggap sekolah sekadar kewajiban hadir tanpa dorongan untuk berprestasi. Sementara itu, Tb Muhyidin mempertanyakan kemungkinan adanya “persekongkolan” antarsiswa dalam pemberian skor kontribusi.
Menanggapi hal tersebut, Omar menegaskan bahwa SCI tidak dirancang sebagai alat penghukuman, melainkan sebagai mekanisme refleksi dan kontrol sosial dalam kelompok. Transparansi kontribusi diyakini dapat membangun rasa tanggung jawab sekaligus mendorong budaya belajar yang lebih sehat dan adil.



