Sahabat guru hebat…
Pernahkah terpikir bahwa pembelajaran tidak harus berhenti ketika bel sekolah berbunyi?
Bagi Muhammad Hendrawan, guru Bahasa Indonesia yang mengajar siswa kelas 9 dan 11 di Bina Tunas Bangsa School, Jakarta, jawabannya adalah tidak. Baginya, menjadi guru di era digital berarti bersedia hadir di ruang yang dekat dengan kehidupan peserta didik. Termasuk melalui media sosial.
Sebagai guru Bahasa Indonesia, Hendrawan memandang bahasa bukan sekadar alat komunikasi. Bahasa adalah bagian dari identitas bangsa sekaligus jembatan yang menghubungkan generasi masa kini dengan nilai-nilai yang dimiliki. Karena itu, ia memilih media sosial sebagai salah satu ruang untuk memperluas pembelajaran bahasa Indonesia.
Ia secara rutin membuat konten edukatif mengenai kebahasaan. Mulai dari ejaan yang sering keliru digunakan, kata baku dan tidak baku, struktur kalimat, hingga keterampilan berbahasa yang relevan dengan konteks kehidupan sehari-hari.
Menariknya, Hendrawan tidak menyajikan materi tersebut dengan pendekatan yang kaku. Ia justru masuk ke percakapan yang sedang berlangsung di tengah masyarakat. Sambil menyelam minum air. Konten yang dibuatnya tidak hanya membahas bahasa, tetapi juga mengaitkannya dengan isu atau konteks yang sedang ramai diperbincangkan. Dengan cara tersebut, pembelajaran Bahasa Indonesia terasa lebih dekat, aktual, dan relevan bagi generasi muda.
Salah satu kekuatan inovasi Hendrawan adalah kemampuannya melihat bahwa peristiwa yang sedang ramai di media sosial pun dapat menjadi pintu masuk pembelajaran.
Ia pernah membuat konten mengenai penggunaan kata dan ejaan dalam berbagai isu aktual. Misalnya, membahas penggunaan kata dalam pemberitaan atau percakapan publik, kemudian mengajak audiens melihat apakah penggunaan bahasa tersebut sudah tepat.
Pada kesempatan lain, ia memanfaatkan siaran langsung YouTube yang tengah ramai ditonton masyarakat untuk mengajak audiens mengenali kata baku dan tidak baku. Konten tersebut bahkan memperoleh perhatian yang sangat besar dan disebut telah mencapai 2,8 juta views.
Bagi seorang guru, angka tersebut bukan sekadar jumlah penonton. Hal itu menunjukkan bahwa materi pembelajaran dapat menemukan audiens yang jauh lebih luas ketika guru mampu menerjemahkan pengetahuan ke dalam bahasa dan format yang sesuai dengan kebiasaan generasi digital.
Di sinilah inovasi Hendrawan menjadi menarik. Ia tidak berusaha membuat media sosial menjadi “kelas formal” baru. Sebaliknya, ia membawa semangat pembelajaran ke dalam ruang yang memang sudah digunakan oleh peserta didik dan masyarakat.
Yang lebih penting, inovasi digital tersebut tidak berdiri sendiri. Apa yang dilakukan Hendrawan di media sosial juga terhubung dengan praktik pembelajaran di kelas.
Ketika mengajarkan materi menulis surat kepada siswa kelas 9, misalnya, ia mengajak siswa menulis surat kepada Presiden. Namun, siswa tidak langsung diminta menulis. Mereka terlebih dahulu harus melakukan riset mengenai persoalan yang akan diangkat, kemudian menyusun dan mendekorasi bagian depan surat.
Pendekatan serupa juga terlihat ketika Hendrawan mengajarkan puisi. Ia memberikan contoh puisi yang kontekstual dan mengadaptasi karya WS Rendra sebagai bagian dari proses pembelajaran.
Dengan demikian, siswa tidak hanya belajar mengenai teori bahasa dan sastra. Mereka belajar menghubungkan teks dengan realitas, melakukan riset, menyampaikan gagasan, sekaligus mengembangkan kreativitas.
Memanfaatkan AI, Bukan Bergantung pada AI
Inovasi Hendrawan juga menyentuh perkembangan teknologi kecerdasan artifisial atau AI.
Ia berkolaborasi dengan AI Gemini untuk membuat konten edukasi mengenai penggunaan kata yang sering keliru. Contohnya beda dalam penggunaan “mengubah” dan “merubah”.
Namun, menariknya, teknologi dalam praktik Hendrawan bukanlah tujuan akhir. AI digunakan sebagai alat bantu untuk membuat pembelajaran bahasa menjadi lebih menarik dan mudah dipahami. Pengetahuan, konteks, dan keputusan pedagogis tetap berada di tangan guru.
Pandangan tersebut sejalan dengan pesan penting yang juga muncul dalam perbincangan mengenai inovasi pendidikan. Bahwa teknologi dapat membantu mempercepat proses, tetapi guru tetap menjadi pihak yang memahami kebutuhan peserta didik.
Dengan kata lain, teknologi tidak menggantikan guru yang memahami muridnya. Teknologi justru menjadi semakin bermakna ketika digunakan oleh guru untuk menjawab kebutuhan murid.
Guru Tidak Harus Menunggu Ruang Besar untuk Berdampak
Kisah Muhammad Hendrawan membawa satu pelajaran penting bagi kita. Bahwa inovasi tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar.
Satu konten tentang kata baku. Satu video pendek tentang ejaan. Satu pembelajaran menulis surat. Satu contoh puisi yang dikaitkan dengan kehidupan nyata. Bahkan satu kolaborasi sederhana dengan teknologi.
Hal-hal tersebut mungkin terlihat kecil. Namun, ketika dilakukan secara konsisten dan dibagikan melalui ruang digital, dampaknya dapat melampaui batas ruang kelas.
Semangat inilah yang diangkat melalui Mentari National Awards for Educators (MNAE). Setelah lebih dari 25 tahun berkontribusi di sektor pendidikan, Mentari Group menghadirkan MNAE sebagai platform untuk mengapresiasi sekaligus mengangkat praktik baik para pendidik di Indonesia.
Pada 2026, MNAE menjaring 770 pendidik dari 679 sekolah di 228 kota. Setelah melalui proses seleksi dan penjurian, sebanyak 20 pendidik terpilih sebagai penerima penghargaan dalam tiga kategori yaitu Mentari Leadership Awards, Mentari Changemaker Awards, dan Mentari Educreator Awards.
Kisah Hendrawan memperlihatkan mengapa praktik baik seperti ini layak mendapatkan panggung. Sebab, inovasi pendidikan bukan hanya tentang siapa yang memiliki teknologi paling canggih. Inovasi adalah tentang bagaimana seorang guru membaca kebutuhan murid, menemukan cara baru untuk menjawabnya, lalu terus belajar memperbaiki cara tersebut.
Dan di sinilah Sahabat Guru Hebat dapat mengambil pelajaran dari Muhammad Hendrawan. Tidak perlu menunggu memiliki fasilitas sempurna untuk mulai berinovasi. Tidak harus menunggu menjadi guru yang terkenal. Tidak pula harus selalu menciptakan sesuatu yang sepenuhnya baru.
Mulailah dari masalah yang kita lihat di kelas. Dengarkan kebutuhan murid. Cari cara yang lebih dekat dengan dunia mereka. Manfaatkan teknologi dengan bijak. Lalu, jangan simpan praktik baik itu sendirian. Bagikan agar guru lain dapat belajar darinya.
Karena bisa jadi, satu ide sederhana dari ruang kelas kita hari ini adalah inspirasi yang dibutuhkan guru lain di tempat yang berbeda.
Sahabat Guru Hebat,
Inovasi tidak selalu dimulai dari panggung nasional. Sering kali, ia lahir dari kegelisahan kecil seorang guru di ruang kelas. Yang membuatnya menjadi besar adalah keberanian untuk mencoba, konsistensi untuk menjalankan, dan kemauan untuk berbagi.



