Kebiasaan anak menggunakan gawai semakin menjadi tantangan bagi orang tua dan guru. Ketika waktu di depan layar tidak diimbangi pendampingan yang memadai, anak berisiko kehilangan kesempatan untuk mengembangkan keterampilan sosial, mengenali emosi, dan belajar mengelola rasa kecewa. Di ruang belajar, tantangan ini dapat terlihat ketika anak mudah marah, menangis saat ditegur, atau kesulitan bekerja sama dengan teman.
Situasi tersebut menjadi perhatian tim dosen Universitas Al Azhar Indonesia (UAI) yang menggelar seminar parenting bertema “Penguatan Komunikasi Empatik untuk Mendukung Kesehatan Mental Anak” bagi orang tua dan guru di Yayasan Yatim Piatu Pejaten (YYPP), Jakarta Selatan. Kegiatan ini membekali orang tua dan guru dengan pendekatan komunikasi yang membantu anak menghadapi tantangan emosional di tengah semakin dekatnya kehidupan mereka dengan teknologi digital.
Seminar yang berlangsung pada 26 Juli 2026 di Masjid Jami Pejaten ini merupakan bagian dari program pengabdian kepada masyarakat yang didanai Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) UAI melalui skema Public Service Grant 2026. Sebanyak 38 peserta mengikuti kegiatan, melampaui target awal 30 peserta. Mereka terdiri atas ibu wali santri yatim, anak asuh, serta guru TKA/TPA/TQA Tarbiyatul Islam 114.
Gawai dan Tantangan Emosi Anak
Program ini berangkat dari observasi dan diskusi kelompok kecil bersama pengelola yayasan, guru, dan orang tua pada Februari 2026. Hasilnya menunjukkan bahwa hampir semua anak menggunakan gawai lebih dari dua jam sehari, terutama untuk menonton video dan bermain gim. Namun, sebagian besar orang tua belum memiliki strategi pendampingan yang memadai.
Penggunaan gawai yang berlebihan tanpa pengaturan dan pendampingan dapat mengurangi kesempatan anak untuk berinteraksi langsung, berlatih menyelesaikan konflik, dan belajar menghadapi rasa bosan atau kecewa. Tantangan muncul ketika anak harus menghentikan aktivitas digital, mengikuti arahan guru, atau berbagi perhatian dengan teman-temannya.
Kondisi tersebut tidak berarti setiap anak yang menggunakan gawai akan mengalami masalah emosi. Namun, kebiasaan digital yang tidak seimbang perlu menjadi perhatian bersama karena perkembangan emosi anak membutuhkan interaksi, keteladanan, dan pendampingan dari orang dewasa.
“Kesehatan mental anak tidak cukup dijaga dengan larangan. Anak membutuhkan orang dewasa yang mau mendengarkan dan membantu mereka mengenali perasaannya. Karena itu, yang kami kuatkan adalah orang tua dan gurunya, sebab merekalah yang setiap hari berinteraksi dengan anak,” ujar Dr. Dra. Kussusanti, M.Si., Ketua Tim Pengabdian sekaligus dosen Program Studi Ilmu Komunikasi UAI.
Bagi guru, memahami perilaku anak menjadi langkah penting sebelum memberikan teguran. Anak yang marah ketika gawainya diambil, misalnya, tetap perlu belajar mematuhi batasan. Namun, guru dan orang tua juga perlu membantu anak mengenali kekecewaannya, memahami aturan, dan menemukan cara yang lebih sehat untuk mengungkapkan perasaan.

Empat Bekal Praktis untuk Guru dan Orang Tua
Untuk menjawab kebutuhan tersebut, seminar menghadirkan empat sesi yang memadukan psikologi perkembangan, ilmu komunikasi, pendidikan anak usia dini, dan nilai-nilai Islam.
Sesi pertama bersama Nurfadilah, S.Psi., M.Psi., membahas kesehatan mental anak serta peran orang tua dan guru. Peserta diajak memahami bahwa kesehatan mental tidak sekadar berarti bebas dari gangguan, tetapi juga mencakup kemampuan anak merasakan, mengekspresikan, dan mengelola emosi secara sehat sesuai tahap perkembangannya.
Pada sesi kedua, Kussusanti memperkenalkan komunikasi empatik dan asertif. Pendekatan ini mengajak orang dewasa memahami perasaan anak sebelum mengarahkan perilakunya, sekaligus menyampaikan kebutuhan secara jujur tanpa bersikap agresif maupun pasif. Penerapannya dapat dimulai dari kebiasaan sederhana, seperti menggunakan kata “tolong”, menghindari ucapan kasar, dan meminta maaf kepada anak ketika melakukan kesalahan.
Sesi ketiga bersama Ruvira Arindita, S.I.Kom., M.Si., secara khusus membahas pendampingan emosional anak di era digital. Materinya mencakup kesepakatan durasi layar, pemilihan konten, dan pentingnya kehadiran orang tua saat anak menggunakan gawai.
Sementara itu, Safira Hasna, S.I.Kom., M.Si., memperkenalkan kegiatan membaca dan bercerita sebagai sarana membantu anak mengenali berbagai emosi, melatih empati, serta membangun kedekatan dengan orang tua dan guru.
Diskusi berlangsung aktif. Sejumlah peserta menanyakan cara menghadapi anak yang tantrum ketika gawainya diambil, sementara ibu wali santri lainnya berbagi pengalaman tentang tantangan mengasuh anak seorang diri.
Ketua Yayasan Yatim Piatu Pejaten, Ir. Prima Haris Nuryawan, M.B.A., menyambut baik kegiatan tersebut. “Kami bersyukur orang tua dan guru di sini mendapat bekal yang selama ini belum pernah mereka terima. Banyak ibu wali santri yang mengasuh sendiri, sehingga pendampingan seperti ini sangat berarti,” ujarnya.
Pengetahuan Meningkat, Pendampingan Berlanjut
Dampak kegiatan diukur melalui pre-test sebelum penyampaian materi dan post-test setelah sesi tanya jawab. Hasilnya, rata-rata skor pengetahuan peserta meningkat dari 60 persen menjadi 90 persen. Sebanyak 80 persen peserta menilai materi bermanfaat, sedangkan 85 persen menyatakan akan menerapkannya di rumah.
Untuk menjaga keberlanjutan program, tim UAI membentuk komunitas belajar melalui grup WhatsApp yang mempertemukan orang tua, guru, dan tim pelaksana sebagai ruang konsultasi dan berbagi pengalaman. Tim juga membuka layanan hotline konsultasi pribadi serta tengah menyusun modul komunikasi empatik, panduan aktivitas penguatan emosi untuk kegiatan TKA/TPA/TQA, dan lembar observasi sederhana bagi guru.
“Kami ingin aspek emosinya juga dirawat, dengan nilai yang sudah dekat dengan keseharian mereka, yakni kasih sayang, kesabaran, dan tutur kata yang baik,” kata Kussusanti.
Ke depan, tim berencana mengembangkan simulasi dan role play, mengukur perubahan pola komunikasi orang tua dan guru, serta mereplikasi model pendampingan ini di lembaga pendidikan keagamaan nonformal lainnya.
Di tengah tantangan kebiasaan bergawai, guru memiliki peran penting untuk membantu anak membangun keseimbangan antara aktivitas digital, interaksi sosial, dan pengelolaan emosi. Melalui komunikasi empatik, pendidikan tidak hanya berfokus pada penguasaan materi dan pembentukan akhlak, tetapi juga pada kemampuan anak memahami diri sendiri dan menghargai orang lain.
Upaya ini sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya poin 4 tentang pendidikan berkualitas dan poin 16 tentang masyarakat yang damai dan bebas kekerasan.



