Sahabat Guru Hebat,
Beberapa bulan terakhir kita sama-sama dikejutkan oleh serangkaian kasus bullying yang viral. Bukan hanya karena kekerasannya, tetapi karena satu hal yang lebih menyesakkan, kekerasan itu direkam, ditonton, bahkan disebarkan oleh teman-teman sekelas korban.
Fenomena ini menunjukkan bahwa kita sedang menghadapi situasi darurat. Bukan sekadar meningkatnya kasus, tapi berubahnya budaya: siswa lebih cepat mengeluarkan ponsel untuk merekam daripada mengulurkan tangan untuk menghentikan. Ketika kamera dinyalakan, empati sering padam.
Budaya Konten yang Mengikis Kepekaan
Di banyak sekolah, humor antarsiswa sering dianggap lumrah. Padahal, sahabat guru hebat, interaksi yang tampak “canda” sering menjadi pintu masuk perundungan. Ketika ejekan direkam dan ditertawakan bersama, batas antara bercanda dan merendahkan menjadi kabur.
Dan ketika siswa menganggap rekaman itu sebagai ‘konten’, mereka berhenti melihat bahwa yang di depan kamera adalah manusia yang sedang terluka. Inilah titik paling memprihatinkan, budaya konten yang telah mengalahkan naluri menolong.
Kasus-kasus Bullying Viral yang Mengguncang
1) Kasus Tangerang Selatan — SMPN 19 (2025)
Sumber utama: Detik News (2025)
Kronologi Lengkap : Korban MH (13 tahun), siswa kelas VII SMPN 19 Tangsel, mulai mengalami perundungan sejak Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS), berupa ejekan, tendangan, dan pukulan ringan. 20 Oktober 2025 terjadi puncak kekerasan, MH dipukul menggunakan kursi oleh teman sekelasnya (diduga di bagian kepala). Setelah itu MH mengalami keluhan muntah, sakit kepala, lemas, dan tidak bisa menjalankan aktivitas normal. Ia kemudian dibawa dan dirawat di RS swasta, kondisi memburuk, lalu dirujuk ke RS Fatmawati. Dan pada 16 November 2025, MH meninggal dunia setelah beberapa hari dirawat intensif.
Apa yang Terungkap?
Orang tua MH mengatakan bahwa anaknya takut menceritakan kekerasan karena malu dan takut dianggap “lemah”. Sekolah sempat melakukan mediasi, namun keluarga menilai respons sekolah lambat dan kurang sigap sejak awal. Beberapa teman korban mengetahui dan menyaksikan kekerasan sebelumnya, tetapi tidak berani melapor.
Pelajaran yang Bisa Dipetik :
- Bullying jarang muncul langsung dalam bentuk ekstrem.
- Biasanya dimulai dari ejekan → dorongan → pukulan ringan → kekerasan serius.
- Guru perlu peka terhadap perubahan fisik atau perilaku siswa, karena korban sering menyembunyikan kejadian.
- Penonton pasif (students as bystanders) memperkuat keberanian pelaku.
- Sistem pelaporan sekolah harus mudah, aman, dan tidak membuat siswa takut dianggap pengadu.
2) Kasus Probolinggo – SD (2025)
Sumber utama: Detik 20 (video viral)
Kronologi Lengkap : Video viral memperlihatkan seorang siswa SD ditarik bajunya, dijambak, dan didorong oleh teman sebayanya. Beberapa siswa terlihat menonton dan merekam, bukan melerai. Korban menangis dan menutup wajahnya sambil mundur, sementara pelaku terus mengejek. Orang tua melapor setelah melihat video itu beredar di grup WhatsApp warga. Polisi turun tangan, sekolah diminta memberi pendampingan psikologis.
Apa yang Terungkap?
Guru tidak berada di lokasi kejadian, yang diduga terjadi saat pergantian mata pelajaran. Aksi rekaman menunjukkan bahwa anak-anak melihat kejadian itu sebagai “konten menarik”, bukan tindakan berbahaya.
Pelajaran yang Bisa Dipetik :
- Zona tanpa pengawasan (change time, jam istirahat) adalah titik paling rawan.
- Siswa SD sangat mudah menganggap kekerasan sebagai hiburan jika tidak dibimbing secara eksplisit.
- Budaya membuat konten telah masuk hingga level anak SD.
3) Kasus Blitar – SMPN saat MPLS (2025)
Sumber utama: UM Surabaya (2025)
Kronologi Lengkap : Seorang siswa baru mengalami perundungan saat MPLS. Ia dipukul, dipaksa push-up berlebihan, dan diejek oleh kakak kelas. Beberapa siswa lain menonton dan merekam, tanpa menghentikan. Kasus tersebut baru terungkap setelah orang tua melihat rekaman video dari grup internal siswa.
Pelajaran yang Bisa Dipetik :
- Perundungan di masa MPLS sering dianggap “tradisi pembentukan mental”. Ini persepsi yang salah kaprah.
- Rekaman memperlihatkan betapa norma sosial di sekolah sudah bergeser: kekerasan dianggap hiburan.
- Guru wajib mendampingi MPLS penuh, bukan menyerahkan sepenuhnya pada kakak kelas.
Kewaspadaan Guru Menguatkan Mata, Telinga, dan Hati
Sahabat Guru Hebat, apa yang bisa kita lakukan? Ada beberapa titik waspada yang sering terlewat:
- Waspadai humor yang merendahkan. Ketika siswa saling mengejek dan gurunya tertawa, siswa membaca pesan ini: “ini boleh.” Padahal, banyak perundungan dimulai dari satu kalimat yang dianggap gurauan. Canda yang merendahkan harus dihentikan sejak awal, bukan ditoleransi.
- Amati reaksi penonton. Siswa yang merekam, menonton, atau bersorak sama pentingnya untuk diperhatikan seperti pelaku. Mereka adalah barometer budaya kelas: apakah kelas itu aman, atau sedang mengalami erosi empati.
- Bangun norma sosial yang sehat. Budaya tidak bisa dilawan hanya dengan aturan. Ia perlu diganti dengan budaya baru:
- Apresiasi keberanian menolong
- Puji Siswa yang Melerai
- Menormalisasi laporan sebagai sikap peduli, bukan mengadu.
- Ajarkan Respon 10 Detik. Ajari siswa satu hal sederhana; ketika melihat teman dilukai, berhenti, lihat wajahnya dan putuskan tindakan terbaik dalam 10 detik pertama. Langkah kecil ini seringkali cukup untuk menghidupkan kembali naluri menolong.
Kita Bisa Mencegah Bersama
Sahabat Guru Hebat,
Situasi ini memang darurat, tetapi tidak tanpa harapan. Setiap guru yang lebih peka terhadap humor merendahkan, setiap kelas yang mendorong keberanian menolong, setiap sekolah yang menolak menutup-nutupi kasus—itulah yang mengembalikan empati ke tempat asalnya.
Indonesia mungkin sedang darurat bullying. Tetapi bersama, kita bisa mengembalikan wajah sekolah sebagai tempat tumbuh, bukan takut.




