Bagaimana mengenali tanda-tanda suicide attempt yang sering terjadi pada remaja dan apa upaya yang bisa dilakukan untuk mencegahnya? Jakarta, 17 Desember 2023 – Kasus bunuh diri, yang kini semakin marak terjadi, menjadi permasalahan yang sangat memprihatinkan, terutama di kalangan remaja. Data menunjukkan hampir setengah dari pelaku bunuh diri berusia remaja, dengan angka yang terus meningkat. Untuk itu, sangat penting bagi kita semua untuk mengenali gejala-gejala bunuh diri pada remaja dan mengambil langkah-langkah pencegahan yang efektif. Dalam upaya mencari solusi atas permasalahan tersebut, Komunitas Guru Satkaara Berbagi (KGSB) mengadakan webinar bertajuk “Literasi Kesehatan Mental untuk Pencegahan Kasus Bunuh Diri pada Remaja” pada Sabtu, 16 Desember 2023. Webinar itu diadakan dalam rangka merayakan ulang tahun kedua KGSB dan bertujuan memberikan solusi konkret untuk meningkatkan literasi kesehatan mental di kalangan pendidik. Webinar menghadirkan dua narasumber ahli, yaitu Ulifa Rahma, S.Psi, M.Psi, Psikolog dan Dosen Prodi Psikologi dari FISIP Universitas Brawijaya, serta Ana Susanti, M.Pd. CEP, CHt., Founder Rumah Guru BK dan Widyaiswara di Kemendikbud Ristek RI. Para peserta yang terdiri dari lebih 200 orang, termasuk guru, mahasiswa, dan orang tua, mendapatkan wawasan dan solusi dalam upaya preventif terhadap tingginya angka bunuh diri remaja. Tantangan Kesehatan Mental Remaja Menurut data Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), dalam kurun waktu 11 tahun terakhir (2012-2023), tercatat lebih dari 2.100 kasus bunuh diri, dengan hampir 1.000 di antaranya melibatkan remaja. Secara global, data dari WHO 2019 juga menunjukkan bahwa bunuh diri adalah penyebab kematian terbesar keempat di kalangan remaja usia 15-29 tahun. Survei yang dilakukan oleh I-NAMHS (Indonesia National Adolescent Mental Health Survey) pada 2022 menambah kecemasan. Dari sejumlah responden yang mereka survei terungkap, 1,4% remaja mengaku memiliki ide untuk bunuh diri, 0,5% sudah merencanakan, dan 0,2% telah melakukan percobaan bunuh diri. Masalah kesehatan mental, seperti depresi dan gangguan kecemasan, menjadi penyebab utama tingginya angka bunuh diri di kalangan remaja. Hasil survei I-NAMHS menunjukkan bahwa 5,5% remaja usia 10-17 tahun mengalami gangguan mental (sering disebut orang dengan gangguan jiwa ODGJ oleh orang-orang di sekitarnya), dan lebih dari sepertiga lainnya (34,9%) menunjukkan tanda-tanda masalah kesehatan mental atau tergolong orang dengan masalah kejiwaan (ODMK). Ana Susanti, Founder Rumah Guru BK dan Widyaiswara di Kemendikbud Ristek RI memaparkan, faktor-faktor yang memicu masalah kesehatan mental pada remaja antara lain adalah tekanan akademik, pergeseran sosial, pengaruh media sosial, serta harapan orang tua yang sering kali terlalu tinggi. Tanda-tanda masalah kesehatan mental pada remaja dapat dikenali melalui perubahan mood yang drastis, gangguan pola tidur dan makan, penurunan minat dan energi, serta perubahan perilaku yang mencakup penarikan diri dan perilaku merusak. Ulifa Rahma, Psikolog dari Universitas Brawijaya, mengungkapkan bahwa faktor-faktor seperti efikasi diri (kepercayaan diri), penerimaan sosial, dan depresi berkontribusi sebesar 52% terhadap munculnya ide bunuh diri pada remaja. Untuk itu, sangat penting bagi orang tua, guru, dan masyarakat untuk lebih waspada terhadap tanda-tanda dan gejala yang muncul. Warning Signs Sebagai salah satu prediktor munculnya ide bunuh diri, depresi -yang dalam ilmu psikologi dikenal sebagai Mayor Depressive Disorder(MDD), memiliki beberapa karakteristik. Di antaranya adalah suasana perasaan rendah yang berlangsung hampir di semua situasi, setidaknya selama dua minggu. Gejala ini sering kali disertai dengan rendahnya harga diri, hilangnya minat terhadap aktivitas yang biasanya disukai, penurunan energi, serta munculnya rasa nyeri tanpa penyebab yang jelas. Lebih lanjut, Ulifa Rahma mengungkapkan beberapa respons yang dapat muncul dari remaja yang mengalami gangguan kesehatan mental. Respons tersebut meliputi menyakiti diri sendiri (self-harm), seperti menyayat kulit, membakar atau membenturkan bagian tubuh, munculnya ide untuk bunuh diri (suicide ideation), kecanduan game dan pornografi, serta kecanduan alkohol. Self-harm sendiri belum tergolong sebagai percobaan bunuh diri, tetapi perilaku ini dapat berkembang menjadi tindakan bunuh diri jika tidak ditangani dengan serius. Ulifa juga memaparkan beberapa “warning signs” atau tanda-tanda peringatan kecenderungan bunuh diri pada remaja yang memerlukan respons cepat dan tepat. Tanda-tanda tersebut meliputi: Bagi pelajar, tanda-tanda lain yang perlu diwaspadai adalah penurunan prestasi akademik, hilangnya minat terhadap sekolah, dan kurangnya interaksi dengan guru maupun teman. Beberapa remaja yang berencana untuk bunuh diri bahkan telah menunjukkan perilaku spesifik, seperti mempersiapkan surat wasiat atau memberikan barang-barang favoritnya kepada orang lain. Selain itu, remaja yang mengalami kesulitan mengungkapkan emosi intens secara verbal sering kali menyalurkannya melalui tulisan atau gambar tentang kematian atau bunuh diri. Tanda-tanda ini memerlukan perhatian serius untuk mencegah terjadinya hal yang lebih buruk. Anak yang pernah melakukan upaya bunuh diri memiliki risiko lebih tinggi untuk mengulangi tindakannya. Risiko ini juga meningkat pada anak yang mengalami kehilangan, seperti kesedihan mendalam atau hilangnya hubungan akibat perceraian atau konflik keluarga, penolakan, kekerasan, atau menyaksikan kekerasan. Ulifa Rahma menekankan bahwa sinyal-sinyal tersebut harus ditanggapi dengan serius dan bijak. Jangan pernah mengabaikan ancaman bunuh diri dengan menganggapnya sebagai cara untuk mencari perhatian. Sebaliknya, ajukan pertanyaan spesifik terkait apa yang disampaikan oleh anak, berikan empati, dan pahami krisis emosional yang sedang dialaminya. Selain itu, berikan dukungan yang sesuai agar anak mampu mengatasi perasaan negatif serta faktor pemicunya. Jika masih merasa ragu atau kurang yakin dalam menangani situasi tersebut, jangan tunda untuk segera merujuk anak kepada profesional, seperti psikolog atau psikiater, untuk mendapatkan bantuan yang tepat. KGSB Berupaya Meningkatkan Literasi Kesehatan Mental Ulifa juga menekankan pentingnya peningkatan literasi kesehatan mental baik di kalangan remaja, guru, maupun orang tua. Literasi ini dapat membantu mereka untuk mengidentifikasi faktor risiko dan melakukan manajemen kesehatan mental secara lebih baik. Dengan pemahaman yang lebih mendalam tentang kesehatan mental, diharapkan dapat tercipta lingkungan yang lebih mendukung bagi remaja dalam mengatasi masalah emosional yang mereka hadapi. Sebagai organisasi yang peduli terhadap isu kesehatan mental, KGSB berkomitmen untuk menjadikan literasi kesehatan mental sebagai prioritas utama dalam pendidikan. Ruth Andriani, pendiri KGSB, menyampaikan bahwa organisasi ini tidak hanya berfokus pada masalah kekerasan seksual dan bullying, tetapi juga berperan aktif dalam peningkatan literasi kesehatan mental. Melalui kegiatan ini, KGSB berharap dapat mencegah semakin banyak remaja yang terjebak dalam krisis emosional, dan memberikan dukungan yang mereka butuhkan. “Isu Kesehatan Mental menjadi salah satu prioritas KGSB, selain masalah kekerasan seksual dan bullying. Kami mengajak para anggota KGSB untuk berperan aktif dalam membantu meningkatkan literasi kesehatan mental di lingkungan terdekatnya,” tambah Ruth Melalui webinar tersebut, Ruth berharap dapat membuka wawasan bagi lebih banyak pendidik, orang tua,
Mengatasi Generation Gap Guru dan Murid
Jika tidak ditangani dengan baik, kesenjangan generasi antara pengajar dan siswa potensial memicu konflik. Untuk itu, guru perlu meningkatkan ketrampilan sosialnya. Jakarta, 18 November 2023 – Berdasarkan hasil sensus 2020, generasi Z (Gen Z) kini menjadi kelompok penduduk terbesar di Indonesia, mencakup 27,94% dari total populasi. Generasi ini lahir antara tahun 1997-2012 dan lebih banyak jumlahnya dibandingkan generasi Milenial (kelahiran 1981-1996) yang mencakup 25,87%. Gen Z, yang sering disebut sebagai “Zoomers,” tumbuh di era digital sehingga memiliki keterampilan bawaan dalam menavigasi media digital dan internet. Pengelompokan generasi dari baby boomer hingga Gen Z, dan kini generasi Alfa, menciptakan kesenjangan usia yang signifikan. Perbedaan ini tidak hanya terlihat dari gaya hidup, persepsi, dan pengalaman, tetapi juga dalam perilaku dan cara berkomunikasi. Fenomena ini dikenal sebagai generation gap atau kesenjangan generasi. Menyikapi tantangan ini, Komunitas Guru Satkaara Berbagi (KGSB) menyelenggarakan webinar bertema “Menjembatani Generation Gap Antara Guru dan Siswa Melalui Keterampilan Sosial yang Baik” pada Sabtu, 18 November 2023. Webinar ini menghadirkan dua pembicara, yaitu Founder Rumah Guru BK dan Widyaiswara Kemendikbud Ristek RI Ana Susanti, M.Pd., CEP, CHt., serta Dosen dan Psikolog Klinis Fakultas Psikologi Unika Atma Jaya, Nanda Rosalia, M.Psi. Acara ini diikuti oleh 200 guru dari berbagai jenjang pendidikan di Indonesia dan Timor Leste. Ketua KGSB, Ardyles Faesilio, yang akrab disapa Lio, menyampaikan bahwa kesenjangan generasi sering menjadi penghambat dalam pembelajaran. “Generation gap ini rawan akan konflik bila ditangani dengan kurang baik, termasuk perbedaan pemahaman antara guru dan murid. Hal ini sering menjadi hambatan dalam proses belajar-mengajar,” ujarnya. Memahami Dinamika Generasi di Kelas Perbedaan karakteristik antara guru dan murid sering kali memicu kesenjangan dalam pembelajaran. Siswa Gen Z, misalnya, cenderung menyukai sesi paralel, multi-tasking, dan memiliki ekspektasi tinggi terhadap proses belajar karena akses luas terhadap informasi melalui berbagai platform. Sebaliknya, guru umumnya mengadopsi pendekatan belajar yang lebih terstruktur, bertahap, dan individu. Lebih jauh lagi, guru kadang-kadang kurang yakin bahwa murid-muridnya dapat belajar dengan maksimal saat melakukan banyak hal dalam satu waktu. Dalam hal ini, Dosen dan Psikolog Klinis Fakultas Psikologi Unika Atma Jaya Nanda Rosalia menekankan bahwa guru perlu memahami bagaimana Gen Z memadukan kecakapan digital dalam kehidupan sehari-hari. “Gen Z memiliki rasa ingin tahu yang tinggi terhadap hal-hal baru dan mengakses informasi dengan cepat. Sebagai pendidik, kita harus mampu mengimbangi dan mengarahkan mereka pada hal-hal yang positif,” paparnya. Namun, tantangan tidak hanya berhenti di situ. Gen Z juga menghadapi ancaman serius terhadap kesehatan mental. Mereka sering merasa takut gagal, memiliki tekanan tinggi untuk sukses, dan cenderung menghindari pengambilan keputusan karena rasa takut tersebut. Jika dibiarkan, hal ini dapat memicu depresi, kecemasan, dan gangguan perilaku. Pentingnya Komunikasi dan Kolaborasi Founder Rumah Guru BK dan Widyaiswara Kemendikbud Ristek RI, Ana Susanti menekankan bahwa komunikasi adalah kunci utama untuk mengatasi kesenjangan generasi. “Saling memahami lebih indah daripada saling menghakimi. Kolaborasi antar generasi perlu dijalin dengan membuka ruang untuk berbagi dan bekerja sama. Guru juga harus mengadopsi metode komunikasi yang sesuai dengan karakteristik generasi,” paparnya. Webinar ini menekankan pentingnya konsistensi dalam upaya menjembatani kesenjangan generasi. Guru diharapkan lebih memahami murid melalui penyesuaian teknologi, perspektif, dan perilaku. “Harapan kami, webinar ini dapat membuka perspektif baru bagi para guru dalam menumbuhkan pemahaman lintas generasi serta meminimalisir konflik yang muncul akibat kesenjangan generasi,” tutup Lio.
SAS dan Garda Ampuh, Rahasia Sukses Kab. Banyuwangi Atasi Angka Putus Sekolah
Program SAS adalah inovasi berbasis semangat berbagi yang melibatkan siswa untuk membantu rekan-rekan mereka yang kurang mampu, selaras dengan nilai-nilai kolaborasi dan kepedulian. Sejak 2011, program ini berhasil mengumpulkan dana lebih dari Rp26 miliar dan telah memberikan manfaat nyata bagi lebih dari 300 ribu siswa di Banyuwangi. Banyuwangi, 13 Oktober 2023 – Masalah putus sekolah masih menjadi tantangan besar di Indonesia. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan peningkatan angka putus sekolah secara nasional dari 2019 hingga 2022, mencakup jenjang SD, SMP, hingga SMA. Berdasarkan Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2021, 76% keluarga mengakui bahwa putus sekolah terjadi akibat alasan ekonomi, dengan mayoritas (67%) disebabkan ketidakmampuan membayar biaya pendidikan, sementara sisanya yaitu 8,7% disebabkan anak harus mencari nafkah. Merespons permasalahan ini, Dinas Pendidikan (Dispendik) Kabupaten Banyuwangi menciptakan dua program inovatif: Siswa Asuh Sebaya (SAS) dan Gerakan Daerah Angkat Anak Muda Putus Sekolah (Garda Ampuh). Kedua program ini telah terbukti efektif dalam menekan angka putus sekolah. Sebagai dukungan, Komunitas Guru Satkaara Berbagi (KGSB) menggelar diskusi bertema “Mencegah Anak Putus Sekolah melalui Program Garda Ampuh dan SAS” pada Kamis, 12 Oktober 2023. Diskusi yang disiarkan melalui platform YouTube Live ini menghadirkan dua narasumber utama, yaitu Lina Kamalin, S.Pd., M.Pd., Staf Ahli Dewan Pendidikan Kabupaten Banyuwangi, dan Ana Susanti, M.Pd., CEP, CHt., Founder Rumah Guru BK sekaligus Widyaiswara Kemdikbud Ristek RI. Program SAS: Mengajarkan Kepedulian sejak Dini Program SAS dimulai pada tahun 2011 berdasarkan Keputusan Kepala Dispendik Kabupaten Banyuwangi No. 421/1939.a/KEP/429.101/2011 tentang program SiswaAsuh Sebaya (SAS) SD, SMP, dan SMA sederajat. Kemudian dikukuhkan dengan Keputusan Bupati Banyuwangi No. 188/182/KEP/429.101/2014 tentang program Siswa Asuh Sebaya.. Program ini melibatkan siswa untuk membantu teman-teman mereka yang kurang mampu dengan cara menggalang dana secara sukarela. Dana tersebut dikelola oleh sekolah dan dilaporkan secara transparan kepada Dinas Pendidikan. Staf Ahli Dewan Pendidikan Kabupaten Banyuwangi dan Pengawas Sekolah Dinas Pendidikan Kabupaten Banyuwangi, Lina Kamalin , S.Pd., M.Pd mengakui, tidak semua permasalahan pendidikan mampu ditangani oleh pemerintah daerah oleh karena itu pihaknya membutuhkan kolaborasi dari berbagai pihak. “Program SAS ini merupakan inovasi yang menjadi solusi untuk mengatasi keterbatasan tangan pemerintah dalam membiayai pendidikan masyarakat,” ujarnya. Lina Kamalin mengungkapkan, hingga kini program SAS berhasil mengumpulkan dana sebesar Rp26,68 miliar, dan membantu lebih dari 300 ribu siswa di Banyuwangi. “Program ini menjadi solusi atas keterbatasan pemerintah daerah dalam membiayai pendidikan masyarakat,” ungkapnya. Pasca pandemi di tahun 2021, program ini dikembangkan dengan program Sekolah Asuh Sekolah. Tercatat dalam kurun satu tahun tersebut, ada 175 sekolah berperan sebagai sekolah asuh bagi 525 sekolah. Karena pencapaian tersebut, Program SAS mendapatkan beberapa penghargaan. Di antaranya MDS (Millennium Development Goals) Awards 2014, Penghargaan Cedas Berkarakter Kemendikbud RI 2020, TOP 12 Kategori Terbaik Kompetisi Inovasi Pelayanan Publik, Provinsi Jatim 2016 dan 99 Inovasi Terbaik Kompetisi Inovasi Pelayanan Publik (Sinovik) Kementerian PAN-RB 2017. Karena pencapaiannya, program ini telah direplikasi beberapa kabupaten/kota dan provinsi di Indonesia. Founder Rumah Guru BK dan Widyaiswara Kemdikbud Ristek RI, Ana Susanti, M.Pd., CEP, CHt., memberikan apresiasi tinggi terhadap inisiatif Program SAS. “Saya sangat kagum dengan program ini karena mampu menggugah dan melibatkan banyak partisipan, terutama anak-anak. Bayangkan, dengan koin-koin kecil yang mereka miliki, mereka belajar mandiri dan berbagi, hingga berhasil mengumpulkan dana lebih dari Rp26 miliar. Jika ditarik ke belakang sejak program ini dimulai pada 2011, kini mereka telah tumbuh menjadi individu dewasa. Percayalah, pengalaman berbagi ini menjadi modal besar dalam membentuk karakter kepedulian mereka dan mewariskan nilai-nilai kebaikan kepada generasi berikutnya,” ungkapnya. Founder KGSB, Ruth Andriani menambahkan, inti program SAS adalah semangat berbagi yang selaras dengan filosofi KGSB. “Selain karena kami concern dengan data angka putus sekolah yang masih memprihatinkan, melalui diskusi ini kami harap value berbagi yang menjadi landasan dari program SAS dapat ditiru dan menginspirasi para guru anggota KGSB,” pungkasnya. Garda Ampuh: ‘Memburu’ Anak Putus Sekolah Selain SAS, Pemkab Banyuwangi juga memiliki program Garda Ampuh yang berfokus pada menjemput dan mengembalikan anak-anak putus sekolah ke jalur pendidikan. Program ini dijalankan oleh tim khusus dari Dispendik Banyuwangi, bekerja sama dengan elemen masyarakat berlandaskan Peraturan Bupati Banyuwangi Nomor 4 Tahun 2014 tentang Program Gerakan Masyarakat Pemberantasan Tributa dan Pengangkatan Murid Putus Sekolah (GEMPITA-PERPUS) Kabupaten Banyuwangi. Program Garda Ampuh menerapkan tiga skema utama untuk menuntaskan kasus putus sekolah: Pada Agustus 2023, jumlah Anak Tidak Sekolah (ATS) di Banyuwangi tercatat mencapai 11.289 anak. Berkat program Garda Ampuh, angka ini berhasil ditekan menjadi 5.664 anak pada September 2023. Program ini juga telah membawa Banyuwangi meraih penghargaan Innovation Government Award sebagai Kabupaten Terinovatif di Indonesia sejak 2018.
Bagaimana Konseling yang Tepat untuk Korban Bullying?
Program Roots yang digagas Kemendikbud Ristek RI bersama dengan UNICEF Indonesia untuk mengatasi bullying di sekolah terbukti efektif mengurangi tingkat perundungan hingga 30%. Seperti apa praktiknya? Jakarta, 15 April 2023 – Bullying atau perundungan masih menjadi salah satu masalah serius di Indonesia, terutama di lingkungan sekolah. Berdasarkan data Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), terdapat lebih dari 226 kasus kekerasan fisik dan psikis, termasuk perundungan, hingga saat ini. Selain itu, antara 2016-2020, sebanyak 665 anak terlibat kasus hukum sebagai pelaku kekerasan, dengan rincian 506 melakukan kekerasan fisik dan 149 melakukan kekerasan psikis. Laporan Programme for International Students Assessment (PISA) 2018 mengungkapkan bahwa 41,1% siswa di Indonesia mengaku pernah menjadi korban bullying. Pada tahun yang sama, Indonesia menempati peringkat kelima dari 78 negara dengan kasus bullying tertinggi di sekolah. Sementara itu, survei oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) menunjukkan bahwa 2 dari 3 remaja pernah mengalami kekerasan, dengan 3 dari 4 kasus terjadi antar teman sebaya. Dampak bullying dapat bersifat jangka panjang, mulai dari stres, depresi, hingga trauma. Selain itu, korban bullying juga dapat mengalami gangguan kesehatan dan penurunan performa akademis. Menyikapi persoalan ini, peran tenaga pendidik menjadi krusial dalam memberikan konseling yang tepat bagi korban untuk memitigasi dampaknya. Komunitas Guru Satkaara Berbagi (KGSB) menggelar webinar bertajuk Teknik Konseling kepada Korban Bullying di Sekolah pada Sabtu, 15 April 2023. Kegiatan ini diikuti oleh ratusan tenaga pendidik dari Indonesia dan Timor Leste, dengan menghadirkan tiga narasumber ahli. Masing-masing adalah Nanda Rossalia, M.Psi., Psikolog yang merupakan Sekretaris Program Studi S1 Fakultas Psikologi UNIKA Atma Jaya. Lalu Ana Susanti, M.Pd., CEP., CHt. Founder Rumah Guru BK sekaligus Widyaiswara Balai Besar Guru Penggerak Provinsi Jawa Barat, Kemendikbud Ristek RI. Serta Manggar Istanti, S.Pd., M.Pd., Guru BK SMPN 2 Jayapura dan anggota KGSB. Peran Sekolah sebagai Ruang Aman Ruth Andriani, Founder KGSB, menyatakan bahwa kasus bullying, terutama yang melibatkan kekerasan fisik, semakin mengkhawatirkan. Padahal, lingkungan sekolah seharusnya menjadi tempat belajar yang aman dan menyenangkan bagi semua siswa. “Peran tenaga pendidik sangat penting dalam membantu korban bullying melalui konseling yang tepat. Kami berharap upaya ini tidak hanya membantu mengatasi dampak bullying, tetapi juga mencegah dan memutus mata rantai perundungan di sekolah. Sekolah harus menjadi ruang aman bagi anak untuk belajar dan berkembang,” ujarnya. Sesuai data dari Comparitech di tahun 2018, 82,8% kasus bullying terjadi di sekolah, menjadikan sekolah menjadi lokasi paling banyak terdapat kasus bullying. Oleh karena itu, Ana Susanti menekankan pentingnya kolaborasi berbagai pihak untuk menangani bullying di sekolah. Ana memaparkan bahwa program Roots yang dikembangkan oleh Kemendikbud Ristek RI dan UNICEF sejak 2017 telah terbukti efektif mengurangi bullying hingga 30% di wilayah penerapan awal seperti Sulawesi Selatan, Jawa Tengah, dan Papua Barat. Program tersebut melibatkan teman sebaya untuk membantu menciptakan lingkungan yang lebih aman. Sementara itu, Nanda Rossalia memaparkan teknik konseling ABC irrational belief untuk membantu korban, saksi, maupun pelaku bullying. “Teknik ini mengenali pikiran negatif atau irrational belief dan mengubahnya menjadi rational belief, sehingga individu dapat menghadapi kejadian negatif dengan cara yang lebih konstruktif,” jelasnya. “Untuk membantu korban bullying, seorang konselor harus memberikan konseling yang tepat dengan mengenali pikiran negatif apa yang dimiliki oleh korban, sehingga dampak buruk dari bullying dapat dihindari,” tegas Nanda. Dengan memberikan konseling yang tepat dan melibatkan semua pihak terkait, diharapkan kasus bullying di sekolah dapat diminimalkan, menciptakan lingkungan pendidikan yang lebih aman dan mendukung bagi siswa.
Konseling Psikososial untuk Kurangi Angka Putus Sekolah
KGSB mendorong guru untuk aktif mendampingi siswa dan mencegah putus sekolah melalui pendekatan psikososial. Kolaborasi sekolah, keluarga, dan pemerintah diharapkan mampu menciptakan lingkungan pendidikan yang mendukung dan menekan angka putus sekolah. Jakarta, 24 Juni 2023 – Fenomena putus sekolah di Indonesia terus meningkat, sebagaimana dilaporkan Badan Pusat Statistik (BPS). Pada tahun 2022, angka putus sekolah di tingkat SD, SMP, dan SMA mengalami kenaikan, dengan faktor utama berupa masalah ekonomi, motivasi belajar rendah, serta konflik keluarga. Pada tahun 2022, angka putus sekolah di jenjang SD mencapai 0,13%, meningkat 0,01% dari tahun 2021. Di jenjang SMP, angka tersebut mencapai 1,06%, naik 0,16% dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara di jenjang SMA, angka putus sekolah mencapai 1,38%, meningkat 0,26% dari tahun sebelumnya. Secara keseluruhan, data ini mengindikasikan bahwa terdapat 13 anak dari setiap 1.000 penduduk yang putus sekolah di jenjang SMA. Menanggapi kondisi yang memprihatinkan tersebut, Komunitas Guru Satkaara Berbagi (KGSB) menggelar webinar bertema “Mencegah dan Menangani Remaja Putus Sekolah Melalui Konseling Psikososial,” melibatkan para ahli di bidang pendidikan dan konseling. Webinar menghadirkan Ana Susanti, M.Pd., CEP, CHt., Founder Rumah Guru BK, serta Yuliezar Perwira Dara, S.Psi., M.Psi., Psikolog, Dosen Universitas Brawijaya. Mereka membahas langkah prevensi dan intervensi untuk mengurangi angka putus sekolah. Perlu Prevensi, Intervensi dan Kolaborasi Founder KGSB, Ruth Andriani, menegaskan bahwa masalah putus sekolah memerlukan kolaborasi dari berbagai pihak, terutama guru sebagai garda terdepan. “Sebanyak 81% guru anggota KGSB melaporkan memiliki siswa yang putus sekolah. Penyebab utamanya meliputi pengaruh lingkungan yang buruk, kurangnya motivasi belajar, dan kondisi keluarga yang tidak harmonis. Kami berharap kegiatan ini dapat menjadi solusi sekaligus mendorong para guru untuk bertindak nyata dalam mencegah siswa putus sekolah,” ungkap Ruth. Sementara itu, berdasarkan Survei Ekonomi Nasional (Susenas) 2021 oleh BPS, sebanyak 76% keluarga mengakui alasan putus sekolah anaknya adalah faktor ekonomi. Dari angka tersebut, 67% disebabkan ketidakmampuan membayar biaya sekolah, sementara 8,7% lainnya karena anak harus bekerja untuk membantu keluarga. Dosen Departemen Psikologi Universitas Brawijaya, Yuliezar Perwira Dara, S.Psi., M.Psi., Psikolog, menjelaskan bahwa penyebab putus sekolah tidak hanya berasal dari faktor ekonomi, tetapi juga dipengaruhi oleh berbagai faktor lain. Di antaranya pernikahan dini, bullying, kurangnya motivasi, rendahnya kesadaran siswa dan orang tua terhadap pentingnya pendidikan, hingga keragaman atau heterogenitas siswa yang memicu perilaku maladaptif. Untuk menangani masalah tersebut, diperlukan dua jenis pendekatan yakni prevensi untuk mencegah masalah sebelum terjadi dan intervensi untuk mengatasinya jika sudah terjadi. Prevensi dapat dilakukan melalui empat langkah utama. Pertama, melakukan identifikasi dini terhadap siswa yang berisiko putus sekolah dengan melihat sikap, perilaku, dan kedisiplinan di sekolah. Kedua, memberikan pendampingan intensif oleh guru atau lingkungan siswa. Ketiga, melaksanakan psikoedukasi berupa pembekalan kepada siswa agar terhindar dari faktor-faktor penyebab putus sekolah. Keempat, memberikan pelatihan atau keterampilan hidup sesuai dengan minat siswa. Intervensi, di sisi lain, dapat dilakukan melalui konseling baik secara individu maupun kelompok. Konseling ini melibatkan siswa, keluarga, teman sebaya, dan pihak sekolah. Pendekatan ini bertujuan untuk menekan angka putus sekolah sekaligus meningkatkan kesejahteraan psikologis serta kualitas siswa. Yuliezar juga menekankan pentingnya pendekatan psikososial dalam pencegahan dan penanganan putus sekolah. Guru dapat menggali faktor internal siswa, seperti identifikasi masalah, peningkatan harga diri, GRIT (passion dan kegigihan), resiliensi, efikasi diri, gambaran masa depan, hingga pilihan karier. Sementara itu, pada faktor eksternal, perhatian dapat diarahkan pada dukungan sosial dari lingkungan, peran sekolah dalam menciptakan suasana yang nyaman, bantuan sosial ekonomi, kunjungan rumah (home visit), serta pengembangan keterampilan sosial seperti komunikasi asertif. “Konselor atau guru yang baik harus mampu membangun hubungan positif dengan siswa, menerapkan konseling yang berfokus pada siswa, memiliki empati, memberikan perhatian positif tanpa pamrih, serta bersikap tulus dan terbuka,” ujar Yuliezar. Founder Rumah Guru BK, Ana Susanti, M.Pd. CEP, CHt., menegaskan bahwa guru Bimbingan Konseling (BK) memiliki peran penting dalam mengenali siswa yang berpotensi putus sekolah. “Guru BK dapat melakukan asesmen dengan mengumpulkan data terkait bakat dan minat siswa. Data ini mencakup kehadiran, perilaku di sekolah, serta perkembangan akademik siswa. Hal terpenting adalah guru harus mampu meyakinkan siswa tentang dampak yang mungkin terjadi jika mereka memutuskan untuk berhenti sekolah,” ujar Ana. Inspirasi dari Inovasi LokalUntuk menangani fenomena kasus putus sekolah, kita bisa melihat program Siswa Asuh Sebaya (SAS) dan Gerakan Daerah Angkat Anak Muda Putus Sekolah (Garda Ampuh) yang diterapkan di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Program-program tersebut berhasil membantu ribuan siswa kembali bersekolah sehingga meraih penghargaan nasional. Bagaimana penjabaran programnya, ikuti informasi kami selanjutnya.
Pengajaran Inklusi untuk Siswa ABK
KGSB Dorong Tenaga Pendidik Menemukenali dan Terapkan Pengajaran Inklusi yang Tepat Bagi Siswa ABK Jakarta, 5 Maret 2023. Berdasarkan data Kemenko PMK yang dirilis pada Juni 2022, jumlah anak penyandang disabilitas usia 5-19 tahun di Indonesia mencapai 3,3% dari total penduduk kelompok usia tersebut, yakni sekitar 2,2 juta jiwa. Namun, data Kemendikbud Ristek per Agustus 2021 menunjukkan hanya 12,26% dari mereka yang menempuh pendidikan formal melalui Sekolah Luar Biasa (SLB) atau sekolah inklusif. Hal ini menunjukkan adanya kesenjangan yang signifikan dalam akses pendidikan inklusif bagi anak berkebutuhan khusus (ABK). Untuk menjawab tantangan tersebut, Komunitas Guru Satkaara Berbagi (KGSB) bersama Rumah Guru BK (RGBK) menyelenggarakan webinar bertema “Konseling Bagi Keluarga dan Anak Berkebutuhan Khusus” pada 4 Maret 2023. Webinar ini menghadirkan narasumber Unita Werdi Rahajeng, S.Psi., M.Psi., psikolog dari Universitas Brawijaya, dan Ana Susanti, M.Pd., CEP, CHt, Founder RGBK sekaligus Widyaiswara Balai Besar Guru Penggerak Provinsi Jawa Barat. Pemahaman dan Praktik Inklusi Webinar diikuti oleh ratusan tenaga pendidik dari PAUD hingga perguruan tinggi, serta orang tua siswa ABK dari Indonesia dan Timor Leste. Salah satu bahasan utama adalah bagaimana menemukenali siswa ABK dan mengimplementasikan metode pengajaran inklusif yang efektif. Ruth Andriani, Founder KGSB, menegaskan pentingnya kolaborasi antara sekolah dan orang tua dalam mendukung pendidikan ABK. “Kami berharap webinar ini bisa menginspirasi pendidik dan orang tua agar mampu menerapkan pengajaran inklusi dengan metode yang tepat. Layanan bimbingan konseling bertujuan agar ABK dapat berkembang sesuai kemampuan dan potensinya,” ujarnya. Founder Rumah Guru BK, Ana Susanti, M.Pd., CEP, CHt., menjelaskan bahwa pendidikan inklusif merupakan paradigma baru yang mengharuskan sistem sekolah menyesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan belajar peserta didik. Namun, salah satu tantangan utama bagi sekolah reguler yang mulai menyelenggarakan pendidikan inklusif adalah kesulitan dalam mengidentifikasi atau menemukenali Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) di lingkungan mereka. Menemukenali ABK adalah langkah awal yang penting untuk memahami kondisi seorang anak, termasuk kelainan atau penyimpangan dalam aspek fisik, intelektual, sosial, emosional, atau sensoris neurologis. Proses ini dilakukan dengan membandingkan pertumbuhan dan perkembangan anak tersebut dengan anak-anak seusianya. Langkah awal menemukenali dapat dilakukan dengan mengamati perbedaan sederhana, seperti anak balita yang tidak melalui fase merangkak, kontrol emosi yang buruk dengan sering tantrum, atau hambatan dalam mengenali huruf, benda, dan angka. Setelah proses awal ini, langkah berikutnya adalah melakukan asesmen lebih mendalam oleh tenaga profesional, seperti dokter, psikolog, neurolog, orthopedagog, atau terapis. Salah satu jenis asesmen yang penting adalah asesmen untuk menggali potensi unik dari setiap ABK. “Dari hasil menemukenali ABK, kita dapat mengumpulkan data untuk menghimpun informasi penting. Data ini sangat dibutuhkan untuk mengenali potensi masing-masing ABK, sehingga metode pengajaran yang tepat dapat dirancang,” ujar Ana. Ia menekankan pentingnya kolaborasi antara guru dan orang tua dalam proses ini. “Saya berharap kita semua, terutama para orang tua, dapat menjadi pihak yang berdaya dalam mendukung anak-anak kita tanpa merasa malu akan kondisi mereka. Karena sejatinya, setiap anak itu istimewa dan memiliki kelebihan yang unik,” tambahnya. Tantangan dan Harapan untuk Pendidikan Inklusi Dosen Departemen Psikologi Universitas Brawijaya, Unita Werdi Rahajeng, S.Psi., M.Psi., Psikolog, menjelaskan bahwa kebutuhan Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) dapat terpenuhi jika didukung dengan aksesibilitas dan akomodasi yang memadai. Aksesibilitas diperlukan untuk memastikan bahwa ABK mendapatkan kesempatan dan dukungan yang setara dengan warga negara lainnya, seperti penerapan Universal Design for Learning (UDL). Sementara itu, akomodasi penting untuk memberikan kesempatan yang setara meskipun metode yang digunakan berbeda. Contohnya adalah penyediaan penjelasan dalam bahasa isyarat untuk siswa Tuli agar mereka dapat memahami materi yang disampaikan di sekolah. “Peran sekolah sangat penting sebagai mitra keluarga dalam mendukung pengasuhan ABK. Sekolah juga dapat mengadvokasi hak-hak ABK serta memberdayakan mereka dan keluarganya,” ujar Unita. Ia menekankan pentingnya kolaborasi dari semua pihak untuk bersama-sama memberikan layanan pendidikan yang setara bagi ABK. Unita juga mendorong guru agar menjadi pelopor dalam inisiatif ini. “Kiranya guru dapat menginisiasi pembentukan Unit Layanan Disabilitas di masing-masing sekolah. Hal ini akan menjadi langkah awal yang konkret untuk mendukung kebutuhan ABK,” tambahnya saat menyampaikan paparannya dalam webinar “Konseling Bagi Keluarga dan ABK.” Peserta webinar, Aulianti, Guru BK dari SMAN 76 Jakarta, menyampaikan apresiasi atas program ini. “Saya bersyukur dapat mengikuti kegiatan yang sangat bermanfaat dalam memahami anak-anak spesial. Sebagai Guru BK, saya akan mengembangkan program layanan khusus untuk menggali potensi ABK bersama orang tua,” ujarnya. Melalui webinar ini, KGSB dan RGBK berharap dapat meningkatkan pemahaman tenaga pendidik dan orang tua, sekaligus mendorong terciptanya pendidikan inklusi yang lebih baik di Indonesia. *** .
Guru KGSB Susun Buku Pencegahan Cyberbullying
KGSB Bersama APJII Dorong Guru Menulis Karya Buku Antologi Best Practice Pencegahan dan Penanganan Cyberbullying di Lingkungan Sekolah Jakarta, 28 Januari 2023. Dengan semakin tingginya penetrasi internet di kalangan pelajar Indonesia, kasus perundungan di dunia maya atau cyberbullying menjadi perhatian serius. Berdasarkan data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) periode 2021-2022, kelompok usia 13-18 tahun memiliki tingkat penetrasi internet tertinggi di Indonesia, mencapai 98,64%. Sayangnya, penggunaan internet ini juga memicu peningkatan kasus cyberbullying. Penelitian yang dilakukan Center for Digital Society (CfDS) pada Agustus 2021 menunjukkan dari 3.077 siswa SMP dan SMA yang disurvei di 34 provinsi, sebanyak 45,35% siswa pernah menjadi korban cyberbullying, sementara 38,41% lainnya mengaku pernah menjadi pelaku. Platform yang sering digunakan untuk cyberbullying di antaranya adalah WhatsApp, Instagram, dan Facebook. Menyikapi kondisi tersebut, Komunitas Guru Satkaara Berbagi (KGSB) bekerja sama dengan APJII menggagas penerbitan buku antologi bertema “Best Practice Pencegahan dan Penanganan Cyberbullying di Lingkungan Sekolah”. Buku itu ditulis oleh 40 guru dan dosen dari berbagai jenjang pendidikan, mulai dari PAUD hingga universitas, baik dari sekolah negeri maupun swasta. Selain itu, juga dilibatkan perwakilan universitas dari Timor Leste. Sejak pelatihan pertama pada bulan Desember 2022, buku antologi tersebut ditargetkan terbit pada Februari 2023 dengan rencana distribusi ke 150 sekolah di Indonesia serta Timor Leste. “Kami berharap pengalaman para guru dalam buku ini dapat menginspirasi pembaca, khususnya di bidang pendidikan, untuk aktif mencegah tindakan cyberbullying pada pelajar,” ujar Ruth Andriani, Founder KGSB. Pelatihan Intensif Bagi Penulis Buku Untuk menyusun buku antologi tersebut, KGSB dan APJII, didukung oleh Rumah Guru BK (RGBK) dan WIN Media (Wong Nulis Indonesia), menyelenggarakan pelatihan secara daring melalui platform Zoom. Sebagai narasumber, dihadirkan Danang Wijayanto (Ketua Bidang Hubungan Antar Lembaga APJII) dan Ririn Astutiningrum (Founder WIN Media). Sebelum mengikuti pelatihan, peserta menjalani seleksi ketat dan diwajibkan mengikuti pelatihan awal bersama penulis senior Titik Kartitiani pada 17 Desember 2022 dan 7 Januari 2023. Pelatihan awal ituni mencakup pembuatan outline hingga penulisan esai populer, dengan pendampingan intensif selama lebih dari satu bulan. Peserta yang lolos seleksi kemudian mengikuti pelatihan lanjutan untuk menyelesaikan naskah buku antologi. “Penulisan buku antologi ini merupakan salah satu upaya kami untuk mensosialisasikan penggunaan internet yang bijak kepada masyarakat,” kata Danang Wijayanto dalam sambutannya. “Kami berharap buku ini dapat membantu guru dan pengajar dalam mengatasi kasus cyberbullying,” tambahnya. Ririn Astutiningrum mengungkapkan apresiasinya terhadap semangat peserta. “Kami sangat senang melihat antusiasme peserta pelatihan ini. Kami berharap karya tulis mereka dapat memberikan manfaat luas bagi masyarakat. Masalah cyberbullying membutuhkan keterlibatan aktif seluruh pemangku kepentingan, bukan hanya tugas guru semata,” tuturnya. Melalui inisiatif tersebut, KGSB bersama APJII berharap dapat mendorong kesadaran akan pentingnya pencegahan dan penanganan cyberbullying, sekaligus menginspirasi tenaga pendidik untuk berbagi praktik terbaik dalam menciptakan lingkungan belajar yang aman dan sehat di era digital.
KGSB Tingkatkan Kemampuan Literasi Menulis Guru
Untuk mengajarkan kemampuan literasi dasar sesuai Kurikulum Merdeka, para guru juga perlu menguasai literasi, termasuk keterampilan menulis. Jakarta, 26 November 2022. Dalam rangka memperingati Hari Guru Nasional yang jatuh pada 25 November 2022, Komunitas Guru Satkaara Berbagi (KGSB) bekerja sama dengan Rumah Guru BK (RGBK) menggelar rangkaian pelatihan menulis untuk anggota KGSB. Pelatihan yang dilakukan secara daring dari 26 November hingga 10 Desember 2022 ini berangkat dari kebutuhan untuk meningkatkan literasi dasar, sebagaimana tertuang dalam Kurikulum Merdeka. Kurikulum Merdeka menetapkan enam literasi dasar yang harus dikuasai siswa: Literasi Baca Tulis, Numerasi, Sains, Digital, Finansial, serta Budaya dan Kewargaan. Untuk mengajarkan kemampuan tersebut, para guru juga perlu menguasai literasi, termasuk keterampilan menulis. Dalam berkomunikasi dengan siswa, guru memanfaatkan dua keterampilan utama yakni berbicara dan menulis. Keterampilan menulis tidak hanya mencakup penyusunan materi di papan tulis atau jurnal, tetapi juga pembuatan bahan ajar yang kreatif dan inspiratif. Namun, masih banyak guru yang menganggap keterampilan menulis sebagai sesuatu yang sederhana. Berdasarkan survei internal KGSB, sebanyak 96,8% anggota berminat meningkatkan keterampilan menulis melalui pelatihan intensif. Sebanyak 70% dari mereka memilih tulisan nonfiksi sebagai fokus pelatihan, dan 73,3% menginginkan pelatihan yang mendukung pekerjaan sebagai guru. Meningkatkan Kualitas Guru melalui Menulis Menjawab kebutuhan tersebut, KGSB meluncurkan Kelas Penulisan Batch 1, yang dimulai dengan pendaftaran dan pengiriman opini bertema “Merdeka Belajar”. Pelatihan ini terdiri atas: Struktur pelatihan mencakup asesmen awal, pembekalan materi, praktik mandiri, pendampingan, serta evaluasi. Total waktu pelatihan setara dengan 44 Jam Pelajaran (JP). Founder KGSB, Ruth Andriani, menjelaskan bahwa pelatihan tersebut bertujuan menghasilkan karya terbaru dari anggota KGSB. “Kumpulan tulisan tersebut akan diterbitkan dalam buku antologi kisah inspiratif, yang memuat praktik baik anggota dalam menerapkan inovasi dan kreativitas Merdeka Belajar,” ujar Ruth seraya menyampaikan harapan agar buku tersebut bisa menginspirasi guru lainnya untuk berinovasi. Sementara itu, Ana Susanti, Widyaiswara Balai Besar Guru Penggerak Provinsi Jawa Barat sekaligus Founder Rumah Guru BK, menyatakan pentingnya keterampilan menulis bagi guru. “Guru harus menyusun kata demi kata dengan baik agar tulisannya bermakna. Menulis juga mendorong guru untuk rajin membaca, yang akan meningkatkan kualitas sebagai pengajar,” ungkap Ana. Kelas tersebut menghadirkan Titik Kartitiani, jurnalis senior dan penulis berpengalaman selama 20 tahun, sebagai fasilitator. Titik menekankan pentingnya membaca untuk memperkaya referensi dalam menulis. “Semakin banyak bacaan yang kita serap, semakin kaya diksi kita, yang akan memudahkan proses menulis dan memunculkan ide kreatif,” jelasnya. Salah satu peserta, Finalia Meiriana, Guru Bahasa Inggris di SMKN 2 Bangkalan, menyatakan kepuasannya mengikuti pelatihan. “Walaupun baru tahap awal, kami sudah diminta membuat tulisan spontan dalam waktu terbatas. Ini mendorong kami untuk berlatih serius. Materi yang disampaikan fasilitator sangat menarik karena teori langsung diterapkan dalam praktik,” kata Finalia. Dengan pelatihan tersebut, KGSB berharap dapat meningkatkan keterampilan menulis para guru sebagai bagian dari upaya menciptakan pendidik yang lebih kreatif, inspiratif, dan siap menghadapi tantangan Kurikulum Merdeka.
Personal Branding untuk Guru
Langkah Strategis sebagai Agen Perubahan Jakarta, 29 Oktober 2022 – Sebagai pendidik sekaligus agen perubahan di masyarakat, guru memiliki peran yang penting dalam membangun citra positif di mata publik, khususnya di kalangan peserta didik. Personal branding menjadi langkah strategis bagi tenaga pendidik untuk menciptakan reputasi yang kuat dan berkesan. Dalam rangka mendukung hal ini, Komunitas Guru Satkaara Berbagi (KGSB) menyelenggarakan webinar bertajuk “Membangun Personal Branding untuk Tenaga Pendidik” pada Sabtu, 29 Oktober 2022. Webinar tersebut diikuti oleh ratusan guru dari tingkat PAUD hingga perguruan tinggi di Indonesia dan Timor Leste. Acara tersebut menghadirkan dua narasumber inspiratif, yaitu Nina Septiana Nugroho, seorang Fashion Designer, CEO PT Nina Nugroho Internasional, sekaligus Inisiator Gerakan #AkuBerdaya, serta Ana Susanti, M.Pd. CEP, CHt, Founder Rumah Guru BK dan Widyaiswara Balai Besar Guru Penggerak Provinsi Jawa Barat Kemendikbud Ristek RI. Mengapa Personal Branding Penting bagi Guru? Marietta Gentles Crawford, seorang penulis dan Personal Brand Strategist asal Amerika Serikat, menekankan bahwa personal branding untuk guru bukan hanya tentang promosi diri, melainkan juga layanan yang diberikan kepada masyarakat. Guru adalah fasilitator utama dalam proses pembelajaran. Oleh karena itu, citra yang baik akan memperkuat hubungan mereka dengan siswa sekaligus meningkatkan efektivitas pembelajaran. Ruth Andriani, Founder KGSB, menambahkan bahwa personal branding adalah bagian dari perjalanan pembelajaran sepanjang hayat bagi seorang guru. Guru perlu melakukan penilaian diri (self-assessment) untuk mengenali kelebihan dan kekurangan sebelum membangun personal branding. “Cara bersikap dan kemampuan komunikasi menjadi hal yang penting. Melalui komunikasi yang baik, terbentuk lingkungan belajar yang nyaman dan hubungan yang erat dengan peserta didik sehingga menciptakan pembelajaran yang menyenangkan,” ujar Ruth. Proses dan Manfaat Personal Branding Dalam sesi webinar, Nina Septiana Nugroho menjelaskan bahwa personal branding adalah proses menuju keberdayaan diri. Menurutnya, keberdayaan dapat dicapai jika seseorang mampu mengenali kekuatan dirinya, membangun kepercayaan, dan konsisten dalam bersikap. “Dimulai dengan mengenali siapa diri kita, memahami kelebihan dan kekuatan, serta fokus mengembangkan keterampilan. Kemudian, kita perlu membangun kepercayaan orang lain melalui kepribadian yang autentik dan konsistensi dalam tindakan,” tutur Nina. Ia juga menyoroti pentingnya memanfaatkan media sosial sebagai alat untuk memperkuat personal branding. Guru yang bijak menggunakan platform digital dapat memperluas pengaruh dan membangun hubungan positif dengan berbagai pihak. Sementara itu, Ana Susanti memaparkan sejumlah manfaat personal branding bagi guru, antara lain: “Prestasi seorang guru tidak hanya diukur dari pencapaian pribadi, tetapi juga dari keberhasilan siswa dalam mengadopsi dan memahami pelajaran, baik secara akademik maupun non-akademik,” jelas Ana. Teladan Guru sebagai Role Model Personal branding tidak hanya membantu guru menciptakan citra positif, tetapi juga memberikan dampak nyata dalam proses pembelajaran. Guru yang menjadi role model mampu menginspirasi siswa untuk mengikuti nilai-nilai baik yang diajarkan. Melalui webinar ini, KGSB kembali menegaskan komitmennya untuk mendukung pengembangan kompetensi guru. Proses membangun personal branding bagi guru adalah investasi jangka panjang yang akan membawa manfaat besar bagi dunia pendidikan, baik dalam menciptakan lingkungan belajar yang positif maupun mencetak generasi penerus yang unggul. Melalui langkah membangun personal branding, guru dapat menciptakan pengaruh positif yang mendalam, tidak hanya untuk siswa tetapi juga untuk masyarakat luas. Webinar ini menjadi pengingat pentingnya peran guru sebagai agen perubahan yang senantiasa belajar dan berkembang.
Alteraksi, Tingkatkan Literasi Melalui Media Film
Alteraksi adalah program yang memanfaatkan film dan fasilitasi untuk membahas serta mengalami isu keragaman, keadilan, dan inklusi sosial. Jakarta, 18 September 2022. Dalam rangka memperingati Hari Literasi Internasional yang jatuh pada 8 September, Komunitas Guru Satkaara Berbagi (KGSB) bekerja sama dengan BesiBerani menggelar kegiatan “Alteraksi Pesantren”. Acara tersebut juga menjadi momen peluncuran Klub Literasi KGSB, sebuah inisiatif yang dipimpin oleh Ninik Febriani, S.Pd Kons C.Ht, Guru BK SMPN 40 Jakarta. Pada 2022, Hari Literasi Internasional mengambil tema, “Transforming Literacy Learning Spaces” atau “Transformasi Ruang Belajar Literasi”. Tema ini menggarisbawahi pentingnya menciptakan ruang belajar yang mendukung ketahanan pendidikan serta menjamin pendidikan yang berkualitas, inklusif, dan adil untuk semua. Dalam konteks Indonesia, stagnansi literasi menjadi isu krusial yang berkaitan erat dengan Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Menurut target Sustainable Development Goals (SDGs) poin 4.6, pada tahun 2030 diharapkan semua remaja dan sebagian kelompok dewasa, baik laki-laki maupun perempuan, memiliki kemampuan literasi dan numerasi. Upaya ini menjadi relevan dalam meningkatkan kualitas hidup manusia melalui pendidikan. Film sebagai Media Pembelajaran Literasi Alteraksi merupakan sebuah program yang menggunakan film dan metode fasilitasi sebagai alat bantu untuk membicarakan sekaligus mengalami beragam opini, pandangan, perasaan, dan pemikiran mengenai persoalan keragaman, keadilan, dan inklusi sosial dalam hidup sehari-hari. Kegiatan Alteraksi Pesantren menggunakan film dokumenter “Pesantren” karya Shalahuddin Siregar sebagai materi utama. Film ini mengajak penonton menyelami kehidupan para penghuni Pondok Kebon Jambu Al-Islamy, salah satu pondok pesantren terbesar di Kabupaten Cirebon. Menariknya, institusi pendidikan tradisional yang memiliki 2000an santri ini dipimpin oleh seorang ulama perempuan. Santri di Pondok Kebun Jambu dididik untuk menghargai dan mengasihi semua ciptaan Allah tanpa terkecuali. Film Pesantren telah diputar perdana di Ajang International Documentary Film Festival Amsterdam (IDFA) pada akhir 2019. Ruth Andriani, founder KGSB, menyatakan bahwa pemilihan film Pesantren sejalan dengan misi KGSB dalam menangani tiga dosa besar pendidikan di Indonesia: intoleransi, kekerasan seksual, dan perundungan. “Melalui Alteraksi Pesantren ini, kami berharap para guru mendapatkan pengalaman baru dalam menggunakan film sebagai media pembelajaran serta pandangan mengenai keberagaman dan toleransi,” ujar Ruth. Metode Alteraksi: Tukar Pandang dan Lontar Suara Setelah pemutaran film berdurasi 96 menit, peserta mengikuti fasilitasi kreasi yang dirancang oleh BesiBerani, yaitu metode Tukar Pandang dan Lontar Suara. BesiBerani adalah sebuah inisiatif interferensi sosial melalui medium film yang telah merancang dan melaksanakan program Alteraksi sejak 2018. Alur fasilitasi dalam “Tukar Pandang” secara umum terdiri dari lima tahap proses yaitu saling mengenal karakter peserta (character), mengeluarkan pendapat (voice), saling berbagi nilai (exchange), memberikan tanggapan (response) dan membuat tindak lanjut nyata dalam keseharian peserta (possibility). Para penggagas Alteraksi Suryani Liauw dan Rival Ahmad, memaparkan bahwa penggabungan film Pesantren dan metode fasilitasi dalam kerangka program Alteraksi Pesantren adalah sebuah pasangan yang tepat dan efektif dalam memperkuat efek riak (ripple efect) dari dampak yang disasar. Dalam setiap kegiatan Alteraksi, eksplorasi paling besar dan cerita yang paling berharga sesungguhnya datang dari para peserta (penonton film). Dalam konteks kemasyarakatan, kesadaran (consciouness) dan makna bersama (shared meaning) merupakan faktor kunci yang menjadi perekat dan pengeras setiap hubungan sosial, baik yang menghargai keberagaman maupun sebaliknya. Febri Triwahyudi, Guru BK SMP Islam Nurul Hidayah Depok, mengapresiasi program tersebut. Ia menyebutkan bahwa metode Alteraksi memberikan pengalaman baru bagi para guru dalam menggunakan film sebagai media literasi. “Alteraksi bisa menjadi pembelajaran baru untuk diterapkan di sekolah. Tanpa disadari, film rupanya bisa menjadi pembelajaran secara umum melalui sharing pengalaman. Film yang memiliki media audio visual mampu membuat anak lebih tertarik untuk belajar dari tiap adegan, jalur cerita dan bisa dibedah sesuai pemahaman masing-masing anak,” tandas Febri. Ana Susanti, founder Rumah Guru BK, menambahkan bahwa metode ini sangat potensial diterapkan oleh guru dalam pembelajaran sehari-hari. “Metode ini merupakan perwujudan nyata dari ‘the art full of pedagogy’. Metode ini sangat mungkin diterapkan para guru dalam pengajaran sehari-hari untuk mengajak siswa mengungkapkan pendapat dan mempelajari hikmah dari film. Aktivitasnya menarik sehingga siswa tidak mudah bosan,” tuturnya.
