KGSB Bersama APJII Dorong Guru Menulis Karya Buku Antologi Best Practice Pencegahan dan Penanganan Cyberbullying di Lingkungan Sekolah Jakarta, 28 Januari 2023. Dengan semakin tingginya penetrasi internet di kalangan pelajar Indonesia, kasus perundungan di dunia maya atau cyberbullying menjadi perhatian serius. Berdasarkan data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) periode 2021-2022, kelompok usia 13-18 tahun memiliki tingkat penetrasi internet tertinggi di Indonesia, mencapai 98,64%. Sayangnya, penggunaan internet ini juga memicu peningkatan kasus cyberbullying. Penelitian yang dilakukan Center for Digital Society (CfDS) pada Agustus 2021 menunjukkan dari 3.077 siswa SMP dan SMA yang disurvei di 34 provinsi, sebanyak 45,35% siswa pernah menjadi korban cyberbullying, sementara 38,41% lainnya mengaku pernah menjadi pelaku. Platform yang sering digunakan untuk cyberbullying di antaranya adalah WhatsApp, Instagram, dan Facebook. Menyikapi kondisi tersebut, Komunitas Guru Satkaara Berbagi (KGSB) bekerja sama dengan APJII menggagas penerbitan buku antologi bertema “Best Practice Pencegahan dan Penanganan Cyberbullying di Lingkungan Sekolah”. Buku itu ditulis oleh 40 guru dan dosen dari berbagai jenjang pendidikan, mulai dari PAUD hingga universitas, baik dari sekolah negeri maupun swasta. Selain itu, juga dilibatkan perwakilan universitas dari Timor Leste. Sejak pelatihan pertama pada bulan Desember 2022, buku antologi tersebut ditargetkan terbit pada Februari 2023 dengan rencana distribusi ke 150 sekolah di Indonesia serta Timor Leste. “Kami berharap pengalaman para guru dalam buku ini dapat menginspirasi pembaca, khususnya di bidang pendidikan, untuk aktif mencegah tindakan cyberbullying pada pelajar,” ujar Ruth Andriani, Founder KGSB. Pelatihan Intensif Bagi Penulis Buku Untuk menyusun buku antologi tersebut, KGSB dan APJII, didukung oleh Rumah Guru BK (RGBK) dan WIN Media (Wong Nulis Indonesia), menyelenggarakan pelatihan secara daring melalui platform Zoom. Sebagai narasumber, dihadirkan Danang Wijayanto (Ketua Bidang Hubungan Antar Lembaga APJII) dan Ririn Astutiningrum (Founder WIN Media). Sebelum mengikuti pelatihan, peserta menjalani seleksi ketat dan diwajibkan mengikuti pelatihan awal bersama penulis senior Titik Kartitiani pada 17 Desember 2022 dan 7 Januari 2023. Pelatihan awal ituni mencakup pembuatan outline hingga penulisan esai populer, dengan pendampingan intensif selama lebih dari satu bulan. Peserta yang lolos seleksi kemudian mengikuti pelatihan lanjutan untuk menyelesaikan naskah buku antologi. “Penulisan buku antologi ini merupakan salah satu upaya kami untuk mensosialisasikan penggunaan internet yang bijak kepada masyarakat,” kata Danang Wijayanto dalam sambutannya. “Kami berharap buku ini dapat membantu guru dan pengajar dalam mengatasi kasus cyberbullying,” tambahnya. Ririn Astutiningrum mengungkapkan apresiasinya terhadap semangat peserta. “Kami sangat senang melihat antusiasme peserta pelatihan ini. Kami berharap karya tulis mereka dapat memberikan manfaat luas bagi masyarakat. Masalah cyberbullying membutuhkan keterlibatan aktif seluruh pemangku kepentingan, bukan hanya tugas guru semata,” tuturnya. Melalui inisiatif tersebut, KGSB bersama APJII berharap dapat mendorong kesadaran akan pentingnya pencegahan dan penanganan cyberbullying, sekaligus menginspirasi tenaga pendidik untuk berbagi praktik terbaik dalam menciptakan lingkungan belajar yang aman dan sehat di era digital.
KGSB Tingkatkan Kemampuan Literasi Menulis Guru
Untuk mengajarkan kemampuan literasi dasar sesuai Kurikulum Merdeka, para guru juga perlu menguasai literasi, termasuk keterampilan menulis. Jakarta, 26 November 2022. Dalam rangka memperingati Hari Guru Nasional yang jatuh pada 25 November 2022, Komunitas Guru Satkaara Berbagi (KGSB) bekerja sama dengan Rumah Guru BK (RGBK) menggelar rangkaian pelatihan menulis untuk anggota KGSB. Pelatihan yang dilakukan secara daring dari 26 November hingga 10 Desember 2022 ini berangkat dari kebutuhan untuk meningkatkan literasi dasar, sebagaimana tertuang dalam Kurikulum Merdeka. Kurikulum Merdeka menetapkan enam literasi dasar yang harus dikuasai siswa: Literasi Baca Tulis, Numerasi, Sains, Digital, Finansial, serta Budaya dan Kewargaan. Untuk mengajarkan kemampuan tersebut, para guru juga perlu menguasai literasi, termasuk keterampilan menulis. Dalam berkomunikasi dengan siswa, guru memanfaatkan dua keterampilan utama yakni berbicara dan menulis. Keterampilan menulis tidak hanya mencakup penyusunan materi di papan tulis atau jurnal, tetapi juga pembuatan bahan ajar yang kreatif dan inspiratif. Namun, masih banyak guru yang menganggap keterampilan menulis sebagai sesuatu yang sederhana. Berdasarkan survei internal KGSB, sebanyak 96,8% anggota berminat meningkatkan keterampilan menulis melalui pelatihan intensif. Sebanyak 70% dari mereka memilih tulisan nonfiksi sebagai fokus pelatihan, dan 73,3% menginginkan pelatihan yang mendukung pekerjaan sebagai guru. Meningkatkan Kualitas Guru melalui Menulis Menjawab kebutuhan tersebut, KGSB meluncurkan Kelas Penulisan Batch 1, yang dimulai dengan pendaftaran dan pengiriman opini bertema “Merdeka Belajar”. Pelatihan ini terdiri atas: Struktur pelatihan mencakup asesmen awal, pembekalan materi, praktik mandiri, pendampingan, serta evaluasi. Total waktu pelatihan setara dengan 44 Jam Pelajaran (JP). Founder KGSB, Ruth Andriani, menjelaskan bahwa pelatihan tersebut bertujuan menghasilkan karya terbaru dari anggota KGSB. “Kumpulan tulisan tersebut akan diterbitkan dalam buku antologi kisah inspiratif, yang memuat praktik baik anggota dalam menerapkan inovasi dan kreativitas Merdeka Belajar,” ujar Ruth seraya menyampaikan harapan agar buku tersebut bisa menginspirasi guru lainnya untuk berinovasi. Sementara itu, Ana Susanti, Widyaiswara Balai Besar Guru Penggerak Provinsi Jawa Barat sekaligus Founder Rumah Guru BK, menyatakan pentingnya keterampilan menulis bagi guru. “Guru harus menyusun kata demi kata dengan baik agar tulisannya bermakna. Menulis juga mendorong guru untuk rajin membaca, yang akan meningkatkan kualitas sebagai pengajar,” ungkap Ana. Kelas tersebut menghadirkan Titik Kartitiani, jurnalis senior dan penulis berpengalaman selama 20 tahun, sebagai fasilitator. Titik menekankan pentingnya membaca untuk memperkaya referensi dalam menulis. “Semakin banyak bacaan yang kita serap, semakin kaya diksi kita, yang akan memudahkan proses menulis dan memunculkan ide kreatif,” jelasnya. Salah satu peserta, Finalia Meiriana, Guru Bahasa Inggris di SMKN 2 Bangkalan, menyatakan kepuasannya mengikuti pelatihan. “Walaupun baru tahap awal, kami sudah diminta membuat tulisan spontan dalam waktu terbatas. Ini mendorong kami untuk berlatih serius. Materi yang disampaikan fasilitator sangat menarik karena teori langsung diterapkan dalam praktik,” kata Finalia. Dengan pelatihan tersebut, KGSB berharap dapat meningkatkan keterampilan menulis para guru sebagai bagian dari upaya menciptakan pendidik yang lebih kreatif, inspiratif, dan siap menghadapi tantangan Kurikulum Merdeka.
Personal Branding untuk Guru
Langkah Strategis sebagai Agen Perubahan Jakarta, 29 Oktober 2022 – Sebagai pendidik sekaligus agen perubahan di masyarakat, guru memiliki peran yang penting dalam membangun citra positif di mata publik, khususnya di kalangan peserta didik. Personal branding menjadi langkah strategis bagi tenaga pendidik untuk menciptakan reputasi yang kuat dan berkesan. Dalam rangka mendukung hal ini, Komunitas Guru Satkaara Berbagi (KGSB) menyelenggarakan webinar bertajuk “Membangun Personal Branding untuk Tenaga Pendidik” pada Sabtu, 29 Oktober 2022. Webinar tersebut diikuti oleh ratusan guru dari tingkat PAUD hingga perguruan tinggi di Indonesia dan Timor Leste. Acara tersebut menghadirkan dua narasumber inspiratif, yaitu Nina Septiana Nugroho, seorang Fashion Designer, CEO PT Nina Nugroho Internasional, sekaligus Inisiator Gerakan #AkuBerdaya, serta Ana Susanti, M.Pd. CEP, CHt, Founder Rumah Guru BK dan Widyaiswara Balai Besar Guru Penggerak Provinsi Jawa Barat Kemendikbud Ristek RI. Mengapa Personal Branding Penting bagi Guru? Marietta Gentles Crawford, seorang penulis dan Personal Brand Strategist asal Amerika Serikat, menekankan bahwa personal branding untuk guru bukan hanya tentang promosi diri, melainkan juga layanan yang diberikan kepada masyarakat. Guru adalah fasilitator utama dalam proses pembelajaran. Oleh karena itu, citra yang baik akan memperkuat hubungan mereka dengan siswa sekaligus meningkatkan efektivitas pembelajaran. Ruth Andriani, Founder KGSB, menambahkan bahwa personal branding adalah bagian dari perjalanan pembelajaran sepanjang hayat bagi seorang guru. Guru perlu melakukan penilaian diri (self-assessment) untuk mengenali kelebihan dan kekurangan sebelum membangun personal branding. “Cara bersikap dan kemampuan komunikasi menjadi hal yang penting. Melalui komunikasi yang baik, terbentuk lingkungan belajar yang nyaman dan hubungan yang erat dengan peserta didik sehingga menciptakan pembelajaran yang menyenangkan,” ujar Ruth. Proses dan Manfaat Personal Branding Dalam sesi webinar, Nina Septiana Nugroho menjelaskan bahwa personal branding adalah proses menuju keberdayaan diri. Menurutnya, keberdayaan dapat dicapai jika seseorang mampu mengenali kekuatan dirinya, membangun kepercayaan, dan konsisten dalam bersikap. “Dimulai dengan mengenali siapa diri kita, memahami kelebihan dan kekuatan, serta fokus mengembangkan keterampilan. Kemudian, kita perlu membangun kepercayaan orang lain melalui kepribadian yang autentik dan konsistensi dalam tindakan,” tutur Nina. Ia juga menyoroti pentingnya memanfaatkan media sosial sebagai alat untuk memperkuat personal branding. Guru yang bijak menggunakan platform digital dapat memperluas pengaruh dan membangun hubungan positif dengan berbagai pihak. Sementara itu, Ana Susanti memaparkan sejumlah manfaat personal branding bagi guru, antara lain: “Prestasi seorang guru tidak hanya diukur dari pencapaian pribadi, tetapi juga dari keberhasilan siswa dalam mengadopsi dan memahami pelajaran, baik secara akademik maupun non-akademik,” jelas Ana. Teladan Guru sebagai Role Model Personal branding tidak hanya membantu guru menciptakan citra positif, tetapi juga memberikan dampak nyata dalam proses pembelajaran. Guru yang menjadi role model mampu menginspirasi siswa untuk mengikuti nilai-nilai baik yang diajarkan. Melalui webinar ini, KGSB kembali menegaskan komitmennya untuk mendukung pengembangan kompetensi guru. Proses membangun personal branding bagi guru adalah investasi jangka panjang yang akan membawa manfaat besar bagi dunia pendidikan, baik dalam menciptakan lingkungan belajar yang positif maupun mencetak generasi penerus yang unggul. Melalui langkah membangun personal branding, guru dapat menciptakan pengaruh positif yang mendalam, tidak hanya untuk siswa tetapi juga untuk masyarakat luas. Webinar ini menjadi pengingat pentingnya peran guru sebagai agen perubahan yang senantiasa belajar dan berkembang.
Alteraksi, Tingkatkan Literasi Melalui Media Film
Alteraksi adalah program yang memanfaatkan film dan fasilitasi untuk membahas serta mengalami isu keragaman, keadilan, dan inklusi sosial. Jakarta, 18 September 2022. Dalam rangka memperingati Hari Literasi Internasional yang jatuh pada 8 September, Komunitas Guru Satkaara Berbagi (KGSB) bekerja sama dengan BesiBerani menggelar kegiatan “Alteraksi Pesantren”. Acara tersebut juga menjadi momen peluncuran Klub Literasi KGSB, sebuah inisiatif yang dipimpin oleh Ninik Febriani, S.Pd Kons C.Ht, Guru BK SMPN 40 Jakarta. Pada 2022, Hari Literasi Internasional mengambil tema, “Transforming Literacy Learning Spaces” atau “Transformasi Ruang Belajar Literasi”. Tema ini menggarisbawahi pentingnya menciptakan ruang belajar yang mendukung ketahanan pendidikan serta menjamin pendidikan yang berkualitas, inklusif, dan adil untuk semua. Dalam konteks Indonesia, stagnansi literasi menjadi isu krusial yang berkaitan erat dengan Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Menurut target Sustainable Development Goals (SDGs) poin 4.6, pada tahun 2030 diharapkan semua remaja dan sebagian kelompok dewasa, baik laki-laki maupun perempuan, memiliki kemampuan literasi dan numerasi. Upaya ini menjadi relevan dalam meningkatkan kualitas hidup manusia melalui pendidikan. Film sebagai Media Pembelajaran Literasi Alteraksi merupakan sebuah program yang menggunakan film dan metode fasilitasi sebagai alat bantu untuk membicarakan sekaligus mengalami beragam opini, pandangan, perasaan, dan pemikiran mengenai persoalan keragaman, keadilan, dan inklusi sosial dalam hidup sehari-hari. Kegiatan Alteraksi Pesantren menggunakan film dokumenter “Pesantren” karya Shalahuddin Siregar sebagai materi utama. Film ini mengajak penonton menyelami kehidupan para penghuni Pondok Kebon Jambu Al-Islamy, salah satu pondok pesantren terbesar di Kabupaten Cirebon. Menariknya, institusi pendidikan tradisional yang memiliki 2000an santri ini dipimpin oleh seorang ulama perempuan. Santri di Pondok Kebun Jambu dididik untuk menghargai dan mengasihi semua ciptaan Allah tanpa terkecuali. Film Pesantren telah diputar perdana di Ajang International Documentary Film Festival Amsterdam (IDFA) pada akhir 2019. Ruth Andriani, founder KGSB, menyatakan bahwa pemilihan film Pesantren sejalan dengan misi KGSB dalam menangani tiga dosa besar pendidikan di Indonesia: intoleransi, kekerasan seksual, dan perundungan. “Melalui Alteraksi Pesantren ini, kami berharap para guru mendapatkan pengalaman baru dalam menggunakan film sebagai media pembelajaran serta pandangan mengenai keberagaman dan toleransi,” ujar Ruth. Metode Alteraksi: Tukar Pandang dan Lontar Suara Setelah pemutaran film berdurasi 96 menit, peserta mengikuti fasilitasi kreasi yang dirancang oleh BesiBerani, yaitu metode Tukar Pandang dan Lontar Suara. BesiBerani adalah sebuah inisiatif interferensi sosial melalui medium film yang telah merancang dan melaksanakan program Alteraksi sejak 2018. Alur fasilitasi dalam “Tukar Pandang” secara umum terdiri dari lima tahap proses yaitu saling mengenal karakter peserta (character), mengeluarkan pendapat (voice), saling berbagi nilai (exchange), memberikan tanggapan (response) dan membuat tindak lanjut nyata dalam keseharian peserta (possibility). Para penggagas Alteraksi Suryani Liauw dan Rival Ahmad, memaparkan bahwa penggabungan film Pesantren dan metode fasilitasi dalam kerangka program Alteraksi Pesantren adalah sebuah pasangan yang tepat dan efektif dalam memperkuat efek riak (ripple efect) dari dampak yang disasar. Dalam setiap kegiatan Alteraksi, eksplorasi paling besar dan cerita yang paling berharga sesungguhnya datang dari para peserta (penonton film). Dalam konteks kemasyarakatan, kesadaran (consciouness) dan makna bersama (shared meaning) merupakan faktor kunci yang menjadi perekat dan pengeras setiap hubungan sosial, baik yang menghargai keberagaman maupun sebaliknya. Febri Triwahyudi, Guru BK SMP Islam Nurul Hidayah Depok, mengapresiasi program tersebut. Ia menyebutkan bahwa metode Alteraksi memberikan pengalaman baru bagi para guru dalam menggunakan film sebagai media literasi. “Alteraksi bisa menjadi pembelajaran baru untuk diterapkan di sekolah. Tanpa disadari, film rupanya bisa menjadi pembelajaran secara umum melalui sharing pengalaman. Film yang memiliki media audio visual mampu membuat anak lebih tertarik untuk belajar dari tiap adegan, jalur cerita dan bisa dibedah sesuai pemahaman masing-masing anak,” tandas Febri. Ana Susanti, founder Rumah Guru BK, menambahkan bahwa metode ini sangat potensial diterapkan oleh guru dalam pembelajaran sehari-hari. “Metode ini merupakan perwujudan nyata dari ‘the art full of pedagogy’. Metode ini sangat mungkin diterapkan para guru dalam pengajaran sehari-hari untuk mengajak siswa mengungkapkan pendapat dan mempelajari hikmah dari film. Aktivitasnya menarik sehingga siswa tidak mudah bosan,” tuturnya.
“The Art of Pedagogy”, Inspirasi untuk Pembelajaran Kreatif
Konsep ini mendorong integrasi aspek bermain, eksplorasi, dan ekspresi dalam pembelajaran. Jakarta, 27 Agustus 2022. Era disrupsi teknologi telah membawa perubahan signifikan dalam dunia pendidikan. Anak-anak kini semakin dekat dengan teknologi internet dan media sosial, yang di satu sisi mendukung pembelajaran namun di sisi lain dapat membuat mereka lebih individualistis. Untuk menjawab tantangan ini, tenaga pendidik perlu mengadaptasi teknologi ke dalam metode pembelajaran, salah satunya melalui pendekatan kreatif yang dikenal sebagai “The Art of Pedagogy.” Berangkat dari kebutuhan tersebut, Komunitas Guru Satkaara Berbagi (KGSB) bekerja sama dengan Rumah Guru BK (RGBK) menyelenggarakan Webinar Series “Layanan Bimbingan Konseling Kreatif bagi Siswa” pada Sabtu, 27 Agustus 2022. Webinar ini diadakan bertepatan dengan peringatan Hari Guru Sedunia, dan dimanfaatkan sebagai momen untuk mendorong tenaga pendidik mengembangkan pendekatan kreatif dalam pembelajaran. Webinar menghadirkan narasumber inspiratif seperti Guru BK SMP Darul Hikam Bandung sekaligus konten kreator Fikri Faturrahman, S.Pd, dan Founder Rumah Guru BK Ana Susanti, M.Pd., CEP, CHt. Kegiatan ini diikuti oleh ratusan tenaga pendidik mulai dari PAUD hingga perguruan tinggi di Indonesia dan Timor Leste. Dalam acara tersebut, peserta diajak untuk memahami konsep “The Art of Pedagogy” dan bagaimana seni dapat menjadi sarana kreatif untuk membangun karakter siswa. Mengintegrasikan Seni dalam Metode Pembelajaran Pedagogy adalah ilmu atau seni mengajar yang mencakup berbagai pendekatan, metode, strategi, dan prinsip yang digunakan oleh pendidik untuk memfasilitasi proses pembelajaran. Istilah ini berasal dari bahasa Yunani kuno “paidagogos,” yang berarti orang yang membimbing anak-anak. Dalam konteks pendidikan modern, pedagogi mencakup bagaimana seorang pendidik merancang, mengelola, dan mengevaluasi pembelajaran agar siswa dapat mencapai hasil belajar yang optimal. Pendekatan pedagogis dapat bervariasi tergantung pada kebutuhan siswa, subjek yang diajarkan, budaya, serta lingkungan belajar. Founder KGSB, Ruth Andriani, menyampaikan bahwa pendekatan kreatif melalui seni pedagogi dapat membantu siswa berpikir kritis, percaya diri, dan termotivasi untuk belajar. “Webinar ini diharapkan menginspirasi Sahabat Guru Hebat untuk memanfaatkan imajinasi, gambar, drama, musik, dan cerita dalam proses pembelajaran,” ujar Ruth. Sementara itu, Ana Susanti menjelaskan bahwa “The Art of Pedagogy” yang dikembangkan oleh Profesor Robyn Ewing dari The University of Sydney mendorong integrasi aspek bermain, eksplorasi, dan ekspresi dalam pembelajaran. Konsep layanan konseling ini melibatkan aspek aspek bermain, imajinasi, desain, ekspresimen, eksplorasi, provokasi, metafor, ekspresi & representasi serta komunikasi. Sementara sarana yang digunakan bisa mengambil bentuk seni tari, musik, melukis, hingga puisi yang berguna untuk membantu siswa mengembangkan kreativitas, keberanian, dan kemampuan refleksi. Indikator keberhasilan pendekatan ini meliputi kemampuan siswa dalam berimajinasi, berpikir kritis, disiplin, kegigihan, keberanian, kemampuan mengambil risiko serta merefleksikan diri. “The Art of Pedagogy adalah alat yang efektif untuk membuat layanan BK menjadi lebih menarik dan disukai. Dalam penerapannya, baik dan buruk karya yang dibuat siswa tidak terlalu penting. Pengalaman emosional yang dialami siswa jauh lebih utama untuk membuatnya tumbuh dan mengetahui apa yang diinginkan,” terang Ana. Strategi Praktis untuk Guru Fikri Faturrahman, narasumber lainnya, mengajak guru untuk mengadopsi “Feel, Imagine, Do, Share” sebagai panduan dalam menciptakan layanan bimbingan konseling kreatif. Guru perlu memahami kebutuhan siswa melalui observasi, serta mengadopsi tren kekinian yang relevan dengan siswa untuk membangun keterhubungan. Sebagai contoh, Fikri memperkenalkan gamifikasi interaktif “Misi Agen Penyelamat Keadilan,” sebuah alat kreatif untuk meningkatkan minat belajar siswa. “Gamifikasi ini dapat membantu siswa memahami nilai keadilan dan empati dengan cara yang menarik,” jelasnya. Dalam sesi ini, disoroti praktik terbaik terkait literasi layanan bimbingan konseling kreatif. Fikri Faturahman menjelaskan bahwa langkah awal yang perlu dilakukan para guru bimbingan konseling (BK) adalah membangun persepsi kreatif. Hal ini meliputi tiga aspek utama: pengetahuan tentang BK (knowledge BK), pendekatan Design Thinking, dan sifat adaptif atau fleksibel. Pengetahuan tentang BK berfungsi sebagai dasar untuk pengambilan keputusan yang tepat. Sementara itu, Design Thinking menjadi kunci dalam merencanakan layanan berbasis ide kreatif untuk mengatasi berbagai permasalahan di lingkungan sekolah. Di sisi lain, sifat adaptif memungkinkan guru BK untuk menyesuaikan diri dengan perubahan kondisi sekolah yang dinamis. Dalam implementasi layanan BK kreatif, Fikri menekankan pentingnya empat aspek yang harus diperhatikan guru BK, yaitu Feel, Do, Imagine, dan Share. Keempat aspek ini dapat diterapkan dalam tiga segmentasi layanan BK: untuk semua siswa, sebagian siswa, dan beberapa siswa tertentu. “Sebelum memberikan layanan kreatif, seorang guru harus melakukan observasi terlebih dahulu untuk memahami kebutuhan siswa. Guru juga perlu mengikuti tren kekinian yang relevan dengan siswa, sehingga dapat membangun kedekatan dan kepercayaan yang kuat. Dengan demikian, tercipta keterlibatan (engagement) yang positif, misalnya melalui pendekatan gamifikasi,” jelas Fikri. Dalam webinar ini, Fikri juga mempraktikkan gamifikasi interaktif berjudul “Misi Agen Penyelamat Keadilan” bersama para peserta. Gamifikasi ini menjadi salah satu contoh alat yang efektif digunakan untuk meningkatkan minat belajar siswa sekaligus menciptakan pengalaman belajar yang menarik dan menyenangkan. Peran KGSB dalam Pendidikan Kreatif KGSB terus berkomitmen untuk mendukung pengembangan tenaga pendidik melalui berbagai pelatihan dan seminar. Komunitas ini didirikan pada tahun 2021 sebagai bagian dari program Satkaara Berbagi yang fokus pada pendidikan. Dengan anggota yang tersebar di 32 provinsi di Indonesia dan Timor Leste, KGSB menjadi wadah bagi guru untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman. “Kami berharap melalui pendekatan pedagogi kreatif, guru dapat membantu siswa menjadi pencipta masa depan yang lebih baik,” tutup Ruth. Webinar ini tidak hanya memberikan wawasan baru tetapi juga menjadi langkah nyata dalam menciptakan pembelajaran yang lebih inklusif dan kreatif.
Solusi Preventif Cyberbullying pada Siswa
Menurut UNICEF, cyberbullying memiliki dampak serius pada tiga aspek, yaitu mental, emosional dan fisik. Internet telah menjadi kebutuhan dasar yang tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari, termasuk bagi anak-anak. Berdasarkan Laporan Survei Internet Indonesia 2021-2022 oleh Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), penetrasi internet di kalangan anak usia 5-12 tahun mencapai 62,43%, sementara pada usia 13-18 tahun bahkan mencapai 99,16%. Sebagian besar anak usia sekolah ini mengakses internet melalui gawai. Meski internet membawa banyak manfaat, seperti menunjang pembelajaran dan komunikasi, penggunaannya juga memunculkan tantangan serius, salah satunya adalah cyberbullying. Fenomena ini semakin marak di kalangan siswa, sebagaimana terungkap dalam penelitian Center for Digital Society (CfDS) pada Agustus 2021. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa 45,35% siswa usia 13-18 tahun pernah menjadi korban cyberbullying, dan 38,41% lainnya mengaku pernah menjadi pelaku. Pada peringatan Hari Anak Nasional 23 Juli 2022, Komunitas Guru Satkaara Berbagi (KGSB) menunjukkan komitmennya dalam melindungi siswa dengan mengadakan webinar bertema “Mencegah Tindakan Cyberbullying pada Siswa.” Webinar ini menjadi bagian dari upaya menciptakan lingkungan yang aman dan mendukung perkembangan anak, sesuai dengan tema Hari Anak Nasional 2022: “Anak Terlindungi, Indonesia Maju.” Webinar diikuti oleh ratusan guru dan tenaga pendidik dari Indonesia dan Timor Leste. Acara ini menghadirkan narasumber dari berbagai bidang, seperti Zulfadly Syam (Sekretaris Jenderal APJII), Asfinawati (Wakil Ketua Bidang Pengabdian Masyarakat STH Indonesia Jentera), dan Ana Susanti (Founder Rumah Guru BK). Diskusi mendalam dilakukan untuk mengupas fenomena cyberbullying dari perspektif hukum, teknologi, dan psikologi pendidikan. Dampak Cyberbullying Menurut UNICEF, cyberbullying memiliki dampak serius pada tiga aspek, yaitu: Dalam kasus yang ekstrem, cyberbullying dapat menyebabkan depresi hingga tindakan bunuh diri. Upaya Pencegahan Cyberbullying Untuk mengatasi ancaman ini, langkah preventif perlu diambil oleh semua pihak, terutama oleh guru dan tenaga pendidik sebagai support system siswa. Berikut adalah solusi yang dapat diterapkan: 1. Meningkatkan Literasi Digital Sekolah harus mengintegrasikan literasi digital ke dalam kurikulum. Literasi ini mencakup: 2. Menggunakan Pendekatan Bijak Sekretaris Jenderal APJII, Zulfadly Syam, memperkenalkan pendekatan B-I-J-A-K: 3. Peningkatan Awareness di Sekolah 4. Pendekatan Empati Ana Susanti, Founder Rumah Guru BK, menekankan pentingnya pendekatan empati oleh guru. Dalam banyak kasus, respon positif dari lingkungan terdekat seperti guru lebih efektif dibandingkan hukuman atau pendisiplinan. 5. Sosialisasi Regulasi Hukum Wakil Ketua Bidang Pengabdian Masyarakat STH Indonesia Jentera, Asfinawati, menjelaskan bahwa regulasi seperti UU ITE dan UU TPKS dapat digunakan untuk menangani kasus cyberbullying. Namun, sanksi hukum sebaiknya menjadi langkah terakhir setelah berbagai pendekatan lain dilakukan. Peran KGSB dalam Mencegah Cyberbullying KGSB mengambil peran penting dalam upaya preventif ini dengan menjadi fasilitator diskusi antar tenaga pendidik, ahli hukum, dan pakar teknologi. Founder KGSB, Ruth Andriani, menyampaikan bahwa fenomena cyberbullying membutuhkan perhatian serius dari semua pihak, terutama guru. “Webinar ini adalah upaya kami untuk memberikan pembekalan kepada guru agar dapat merespons secara tepat atas tindakan cyberbullying di lingkungan sekolah. Mari kita bersama-sama memutus mata rantai perundungan dan menciptakan lingkungan sekolah yang bebas dari perundungan dalam bentuk apa pun,” ujar Ruth. Cyberbullying adalah tantangan yang membutuhkan perhatian serius dari semua pihak. Dengan momentum Hari Anak Nasional 2022 dan inisiatif seperti webinar oleh KGSB, diharapkan semakin banyak guru dan tenaga pendidik yang memiliki pemahaman serta kemampuan untuk mencegah dan menangani cyberbullying. Dengan meningkatkan literasi digital, memperkuat kesadaran, menerapkan regulasi yang tepat, dan menunjukkan empati, kita dapat menciptakan lingkungan yang aman dan positif bagi siswa untuk berkembang di era digital.
Metode Read Aloud untuk Tingkatkan Minat Baca Siswa
Jakarta, 11 Juni 2022 – Rendahnya tingkat literasi membaca siswa di Indonesia, seperti yang diungkap dalam studi PISA 2018, menjadi tantangan besar bagi dunia pendidikan. Hasil studi PISA 2018 yang dirilis oleh Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) menunjukkan bahwa kemampuan siswa Indonesia dalam membaca, meraih skor rata-rata yakni 371, di bawah rata-rata skor OECD yakni 487. Studi tersebut diikuti oleh murid-murid berusia 15 tahun dari 79 negara di seluruh dunia. Untuk menghadapi masalah tersebut, Komunitas Guru Satkaara Berbagi (KGSB) bersama Rumah Guru BK (RGBK) menggelar webinar bertema “Meningkatkan Minat Baca pada Siswa Melalui Read Aloud” pada Sabtu, 11 Juni 2022. Webinar ini juga menggandeng komunitas Read Aloud Indonesia (RAI) dan dihadiri oleh ratusan guru dari Indonesia sertaTimor Leste. Bagaimana Penerapan Metode Read Aloud? Read Aloud adalah metode membaca nyaring yang menggabungkan pelafalan kata dengan interaksi. Metode ini bertujuan tidak hanya untuk meningkatkan keterampilan membaca, tetapi juga menumbuhkan minat dan kebiasaan membaca sejak usia dini. Roosie Setiawan, Founder Reading Bugs dan Penasehat RAI, menjelaskan bahwa membaca adalah keterampilan yang membutuhkan pembelajaran terstruktur. “Guru dapat memanfaatkan metode ini untuk melatih keterampilan menyimak, memperkuat kedekatan dengan siswa, dan membuat pembelajaran menjadi lebih menyenangkan,” jelasnya. Menurut Roosie, sebagai salah satu pendekatan efektif untuk meningkatkan minat baca siswa, Interactive Read Aloud (IRA) memiliki lima tahap utama: Ihdinal Hikmatin Tajdidah, Penggerak Reading Bugs, menambahkan bahwa ada tiga tahap penting dalam menerapkan metode read aloud, yakni : Metode reaad aloud tidak hanya meningkatkan kemampuan membaca, tetapi juga membantu siswa dalam : Dalam webinar ini, para peserta juga berkesempatan mengikuti simulasi gamifikasi interaktif untuk meningkatkan minat siswa. Dengan kolaborasi komunitas, pelatihan, dan penerapan metode yang tepat, Read Aloud diharapkan mampu menjadi solusi praktis dalam membangun budaya literasi di Indonesia. Guru sebagai Role Model Literasi Founder KGSB, Ruth Andriani, menekankan bahwa guru perlu menjadi teladan dalam membangun budaya literasi di sekolah. “Kami berharap webinar ini dapat memberikan pemahaman yang cukup kepada guru untuk menerapkan metode read aloud di kelas,” ungkap Ruth. Sementara Ana Susanti, Founder Rumah Guru BK, menambahkan bahwa guru harus berani mengkampanyekan membaca dan berbagi praktik baik di lingkungan sekolah. “Membaca adalah kunci sukses belajar,” tegasnya. Dengan komitmen dan kerja sama semua pihak, generasi muda yang lebih literat dan siap menghadapi tantangan masa depan dapat diwujudkan.
Ajari Siswa Bijak Bergawai
Komunitas Guru Satkaara Berbagi (KGSB) bekerja sama dengan Rumah Guru BK (RGBK) menggelar webinar bertajuk “Remaja dan Gawai” pada Sabtu, 14 Mei 2022. Acara diikuti oleh ratusan guru dan pengajar dari tingkat PAUD hingga perguruan tinggi di Indonesia serta Timor Leste. Webinar tersebut bertujuan memberikan wawasan kepada para guru tentang cara mengedukasi siswa dalam penggunaan gawai yang tepat. Sebagai narasumber, KGSB menghadirkan dua ahli di bidang psikologi dan pendidikan yaitu Sekretaris Program Studi Sarjana Psikologi/Psikolog Klinis Fakultas Psikologi UNIKA Atma Jaya, Nanda Rosalia, M.Psi serta Founder Rumah Guru BK serta Widyaiswara Kemendikbud Ristek RI, Ana Susanti, M.Pd. CEP, CHt. Gawai, Pisau Bermanta Dua Gawai kini telah menjadi kebutuhan utama bagi masyarakat modern. Tidak lagi sekadar alat pelengkap gaya hidup (lifestyle), penggunaannya telah menjadi bagian dari cara hidup kita sehari-hari (way of life). Menurut laporan We Are Social pada Februari 2022, jumlah pengguna internet di Indonesia mencapai 204,7 juta orang atau sekitar 73,7% dari total populasi. Dari jumlah tersebut, 96% mengakses internet melalui ponsel pintar. Bagi remaja, gawai ibarat pisau bermata dua. Di satu sisi, fitur-fiturnya memberikan manfaat besar, tetapi di sisi lain dapat menimbulkan dampak negatif jika tidak digunakan secara bijak. Data dari Kementerian Komunikasi dan Informatika pada 2018 menunjukkan bahwa 65,34% pengguna internet di Indonesia adalah individu berusia 9–19 tahun. Dari kelompok usia ini, 93,52% menggunakan internet untuk mengakses media sosial, selain YouTube dan permainan daring. Founder KGSB, Ruth Andriani, mengungkapkan bahwa gawai telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan remaja masa kini. “Selama pandemi, penggunaan internet dan gawai semakin meningkat di kalangan remaja. Dalam dunia pendidikan, kemajuan teknologi menuntut para guru untuk berperan aktif memberikan edukasi kepada siswa agar dapat menggunakan gawai secara bijaksana,” jelas Ruth. Perihal sikap bijak bergawai ini, Nanda Rosalia, M.Psi., Psikolog Klinis dan Sekretaris Program Studi Sarjana Psikologi di Fakultas Psikologi UNIKA Atma Jaya, menyoroti bahwa sisi negatif gawai sering mendapat perhatian lebih dibandingkan sisi positifnya. Padahal, bagi generasi sekarang, melakukan sesuatu tanpa bantuan gawai terasa menghambat. Nanda menyebut terdapat tiga bentuk utama pemanfaatan teknologi positif bagi remaja. Masing-masing adalah untuk : Menurut Nanda, perubahan pada aspek fisik, kognitif, dan sosioemosional turut memengaruhi kehidupan sosial remaja. Dalam hal ini, pengaruh teman sebaya sering kali lebih besar dibandingkan keluarga. “Teknologi dan media sosial kini menjadi sarana bagi remaja untuk menemukan jati diri mereka, terutama melalui lingkungan yang mereka anggap nyaman.” Peran Guru Ajak Siswa Bijak Bergawai Lebih lanjut, Nanda menekankan pentingnya peran guru dalam membimbing siswa memanfaatkan teknologi secara positif. Guru dapat memberikan tugas-tugas yang memanfaatkan teknologi, seperti menggunakan media sosial untuk pembelajaran. Guru harus memahami platform media sosial yang digunakan agar mudah diakses dan dipahami oleh siswa. Namun, menjadi guru modern bukan hanya soal menguasai teknologi terbaru. Guru juga bertugas membangun rasa senang belajar yang mendorong daya pikir kritis dan kreativitas siswa. Di samping itu, guru harus tetap memberikan human touch agar siswa tetap memiliki kesantunan, empati, dan jiwa sosial. Menyambung pernyataan Nanda, Ana Susanti, M.Pd., CEP, CHt., Founder Rumah Guru BK sekaligus Widyaiswara Kemendikbud Ristek RI, menyoroti pentingnya peran guru dalam memantau penggunaan gawai oleh siswa. Ana kemudian mengungkapkan hasil survei yang dilakukan oleh Gregoria Serra dari Unit of Pediatrics, Campus Bio-Medico University, Roma, Italia, pada Juli 2021. Survei ini melibatkan anak-anak Italia berusia 6–18 tahun dan menunjukkan adanya perubahan tujuan penggunaan smartphone selama pandemi COVID-19 dibandingkan masa sebelumnya. Selama pandemi, smartphone digunakan terutama untuk menjaga koneksi sosial, mendukung pembelajaran, dan sebagai sarana hiburan. Namun, survei tersebut juga mengungkapkan peningkatan signifikan dalam penggunaan berlebihan dan kasus kecanduan gawai. Sebelum pandemi, jumlah anak yang kecanduan gawai lebih kecil dibandingkan anak yang berisiko tinggi kecanduan. Ironisnya, setelah pandemi, jumlah anak berisiko menurun, tetapi jumlah anak yang benar-benar kecanduan meningkat. Ana menekankan bahwa guru perlu menyadari risiko yang terkait dengan penggunaan smartphone yang tidak tepat. “Salah satu tugas Guru BK adalah memantau, bekerja sama dengan orang tua, serta mengidentifikasi kemungkinan efek samping dari penggunaan smartphone. Hal ini mencakup mengenali tanda-tanda awal atau risiko tinggi kecanduan,” ungkapnya. Lebih jauh, Ana menegaskan bahwa kolaborasi adalah kunci dalam upaya memantau dan mengelola penggunaan gawai oleh siswa. Guru BK perlu melakukan intervensi yang diperlukan untuk mencegah atau mengurangi dampak negatif dari penggunaan smartphone secara berlebihan terhadap kesehatan anak dan remaja. “Fokus kita harus pada kesehatan anak dan remaja, yang mencakup upaya menjaga perkembangan fisik dan psikologis yang optimal, serta membangun hubungan sosial yang sehat,” pungkas Ana.
Tangkal Kekerasan Seksual di Sekolah
Webinar KGSB Libatkan Rumah Guru BK dan Sekolah Tinggi Hukum Indonesia Jentera Jakarta, 26 Maret 2022 – Komunitas Guru Satkaara Berbagi (KGSB) menyelenggarakan webinar bertajuk “Menghadapi Ancaman Kekerasan Seksual di Lingkungan Sekolah” untuk meningkatkan kesadaran guru terkait ancaman kekerasan seksual terhadap anak dan remaja. Webinar ini menggandeng Rumah Guru BK dan Sekolah Tinggi Hukum Indonesia Jentera, serta menghadirkan guru dan akademisi dari 31 provinsi di Indonesia dan Timor Leste. Menurut data Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, 45,1% dari 14.517 kasus kekerasan terhadap anak pada Januari 2022, merupakan kekerasan seksual. Data SIMFONI PPA juga menunjukkan korban terbesar berasal dari murid SLTA (1.727), SLTP (1.196), dan SD (1.095). Sementara dari tingkat Perguruan Tinggi tercatat sebanyak 502 korban dan 742 korban masih merupakan siswa dari lingkungan PAUD. Dari ribuan kasus itu, pelaku kekerasan terbanyak adalah teman atau pacar (879 kasus), disusul orang tua (622 kasus). Selain itu juga ada yang datang dari lingkungan keluarga atau saudara (332) dan guru (147). Paparan data tersebut sudah tentu sangat memperihatinkan, terlebih ancaman kekerasan seksual yang terjadi masih dalam lingkungan pendidikan. Padahal lingkungan pendidikan yang direpresentatifkan lewat perangkat sekolah seharusnya menjadi pihak yang paling bertanggungjawab dalam melindungi anak dari ancaman kekerasan seksual. Namun kenyataannya, upaya perlindungan anak dan remaja dari kekerasan seksual ini ternyata memiliki banyak tantangan. Mulai dari rendahnya kesadaran akan ancaman kekerasan seksual, tindakan hukum apa yang harus dilakukan untuk mengatasinya sampai upaya preventif guna mencegah kekerasan seksual terjadi pada anak dan remaja. Kebanyakan perangkat sekolah masih awam terhadap hal-hal terkait kekerasan seksual. Menyikapi persoalan yang memprihatinkan ini, Komunitas Guru Satkaara Berbagi (KGSB) bersama Rumah Guru BK dan Sekolah Tinggi Hukum Indonesia Jentera mengadakan Webinar “Menghadapi Ancaman Kekerasan Seksual di Lingkungan Sekolah” pada Sabtu 26 Maret 2022. Webinar yang diselenggarakan melalui platform zoom online ini diikuti anggota KGSB dari tingkat PAUD hingga Perguruan Tinggi dari 31 Provinsi di Indonesia serta Timor Leste. Founder KGSB, Ruth Andriani, menjelaskan bahwa webinar tersebut bertujuan membekali para guru agar mampu mencegah dan melindungi anak dari kekerasan seksual. Menurutnya, untuk mengembalikan fungsi sekolah sebagai tempat belajar yang aman dan nyaman bagi anak, sangat penting bagi guru memahami lebih lanjut soal kekerasan seksual. “Sekolah idealnya merupakan jaring pengaman bagi peserta didiknya. Kami berinisiatif untuk melindungi masa depan anak melalui para guru. Oleh karena itu, narasumber yang dihadirkan dalam webinar ini kami ambil dari pakar di bidang hukum dan penanganan kekerasan seksual,” tambahnya. Webinar tersebut menghadirkan narasumber Bivitri Susanti, S.H., LL.M., dan Sri Bayuningsih Praptadina, S.H., dari Sekolah Tinggi Hukum Indonesia Jentera, serta Ana Susanti, M.Pd., CEP, CHt., Founder Rumah Guru BK. Dalam paparannya, Bivitri Susanti menjelaskan bentuk-bentuk kekerasan seksual, baik verbal maupun nonverbal, serta upaya pencegahan dan penanganannya. Ia menekankan bahwa kekerasan seksual harus ditangani secara serius, tidak hanya dari aspek penghukuman, tetapi juga melalui pencegahan, penanganan cepat, dan pemulihan korban. Bivitri juga mengkritisi peraturan perundang-undangan yang ada, yang menurutnya belum menyediakan skema pemulihan yang memadai bagi korban kekerasan seksual. Lebih lanjut Bivitri mengkritisi UU TPKS (Tentang Penghapusan Kekerasan Seksual). “Saat ini baru terdapat 3 jenis kekerasan seksual yang diatur dalam peraturan perundang-undangan dengan uraian delik dan unsur yang masih terbatas. KUHAP yang ada tidak mengenal korban. Peraturan perundang-undangan yang ada tidak menyediakan skema pemulihan bagi perempuan korban kekerasan seksual. Selain itu, skema perlindungan bagi korban kekerasan seksual masih sangat terbatas,” ungkapnya Sri Bayuningsih menambahkan bahwa lembaga pendidikan perlu menyusun Standar Operasional Prosedur (SOP) dalam pencegahan dan penanganan kekerasan seksual. Hal itu bertujuan untuk memberikan pendampingan, perlindungan, dan pemulihan bagi korban, serta membantu menciptakan sekolah yang aman, bermartabat, inklusif, kolaboratif, setara, dan bebas dari kekerasan. “Tim penyusun SOP di lingkungan sekolah perlu melibatkan kepala sekolah, guru BK, perwakilan guru, dan perwakilan siswa. Kerangka peraturan pencegahan dan penanganan kekerasan seksual mencakup definisi, ruang lingkup, prinsip pencegahan dan penanganan, sasaran, serta mekanisme penanganan,” jelasnya. Founder Rumah Guru BK, Ana Susanti, menambahkan bahwa webinar ini merupakan langkah konkret untuk meningkatkan kesadaran akan isu kekerasan seksual di lingkungan pendidikan. “Kolaborasi dari berbagai pihak sangat dibutuhkan untuk menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan inklusif,” katanya. Melalui webinar tersebut, KGSB berharap dapat memotivasi guru, lembaga pendidikan, dan masyarakat luas untuk bersama-sama menangani kekerasan seksual demi masa depan generasi bangsa yang lebih baik. ***
KGSB Bekali Guru Kemampuan Dukungan Psikologis Awal (DPA) Kesehatan Mental Siswa
3 Langkah Efektif DPA : Look, Listen & Link Problem kesehatan mental siswa terus meningkat. Data dari Komisi Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) menunjukkan lebih dari 3.200 (13%) siswa di Indonesia mengalami gejala depresi ringan hingga berat. Sebanyak 93% gejala depresi pada anak terjadi pada rentang usia 14–18 tahun, sementara 7% sisanya dialami oleh anak berusia 10–13 tahun. Pandemi menjadi salah satu faktor utama yang memicu masalah kesehatan mental pada kelompok usia tersebut. Dampaknya beragam, mulai dari rasa cemas, mudah marah, stres, hingga depresi yang dalam beberapa kasus bahkan memicu keinginan bunuh diri. Kondisi ini menegaskan pentingnya peran guru dan sekolah dalam memberikan Dukungan Psikologis Awal (DPA) guna membantu siswa menghadapi masalah kesehatan mental. Menjawab kebutuhan mendesak tersebut, Komunitas Guru Satkaara Berbagi (KGSB), Rumah Guru BK, dan Konsultan Psikologi Pelangi menggelar Pelatihan Psychological First Aid (PFA) Batch I. Pelatihan yang diikuti oleh 60 guru dari tingkat SD hingga SMA/SMK di Indonesia dan Timor Leste itu dilaksanakan secara daring melalui platform Zoom. Dalam dua sesi pada 19 Februari dan 5 Maret 2022, peserta menerima pembekalan dari para narasumber kompeten, seperti psikolog Reneta Kristiani, M.Psi., dan dan Lita Patricia Lunanta, M.Psi., serta Ana Susanti, M.Pd., CEP, CHt dari Komunitas Guru BK dan Widyaiswara PPPPTK Penjas dan BK Kemendikbud Ristek RI. Founder KGSB, Ruth Adriani, menyatakan bahwa Pelatihan Dukungan Psikologis Awal (PFA) bertujuan membantu guru dan sekolah memahami serta memberikan dukungan psikologis tepat bagi siswa yang mengalami masalah mental. Menurutnya, sekolah seharusnya menjadi jaring pengaman bagi anak dan remaja, sehingga pelatihan ini diinisiasi untuk meningkatkan kemampuan guru dalam menangani kesehatan mental siswa. Ana Susanti menambahkan bahwa pelatihan ini melengkapi program serupa dari Kemendikbud Ristek RI yang cakupannya masih terbatas. “KGSB berperan penting memeratakan kompetensi guru dalam mendukung kesehatan mental siswa,” ujarnya. Look, Listen & Link Pelatihan PFA berlangsung dalam tiga tahap: pembekalan teori, praktik mandiri, serta sesi permainan peran (role play) dan evaluasi. Dalam sesi role play para peserta terbagi dalam kelas kecil.Secara bergantian masing-masing menjadi guru dan siswa. Mereka diminta melakukan komunikasi yang buruk (bad communication) serta komunikasi yang baik (good communication) saat konseling terkait mental health yang dialami. Dari role play ini, guru mendapat perspektif baru dari sudut pandang murid. Melalui role play, guru mempraktikkan komunikasi baik dan buruk dalam konseling mental siswa, serta memahami tiga langkah PFA, yaitu Look, Listen, dan Link. Psikolog Reneta Kristiani, M.Psi., menjelaskan bahwa tahapan Look melibatkan asesmen keadaan siswa, Listen menekankan mendengarkan aktif tanpa memberi nasihat terlalu cepat, dan Link menghubungkan siswa dengan bantuan profesional jika diperlukan. Reneta memberi catatan penting yang tidak boleh dilakukan guru saat DPA yaitu terlalu cepat memberi nasehat, melabel siswa, meremehkan permasalahannya, serta menyalahkan siswa. Selain itu, ia mengingatkan para guru untuk juga memperhatikan kesejahteraan dirinya dengan secara rutin melakukan self-care dan manajemen stres agar terhindari dari stress, burn-out, dan compassion fatigue sehingga tetap dapat memberikan dukungan secara optimal. “Saat Listen hindari terlalu cepat memberikan nasehat, solusi dan saran pada siswa. Berusahalah untuk hadir sepenuhnya, dengarkan secara aktif, terima dan pahami perasaan siswa agar siswa merasa nyaman untuk bercerita, merasa dipahami dan dimengerti,” ujarnya. Salah satu peserta, Harmoko, S.Pd., M.Pd., Kons., dari SMA Negeri 1 Mataram, mengapresiasi pelatihan ini. Ia merasa terbantu dalam menangani tantangan mental siswa, terutama setelah bencana gempa Lombok 2018 dan pandemi. “Pelatihan ini menyadarkan saya bahwa langkah yang selama ini saya terapkan sudah sesuai,” ungkapnya. Melihat tingginya minat guru terhadap pelatihan ini, KGSB berkomitmen melanjutkan program serupa sebagai wujud kepedulian terhadap pengembangan kapasitas guru dalam menangani masalah kesehatan mental siswa.
