Menyiapkan Generasi Emas Anti Hoaks Komunitas Guru Satkaara Berbagi (KGSB) bekerja sama dengan Politeknik Tempo menyelenggarakan Webinar Cek Fakta bertajuk “Sinergi Guru KGSB dan KORSTE dalam Menjaga Integritas Informasi di Sekolah” melalui Zoom Meeting. Kegiatan ini diikuti oleh anggota KGSB sebagai upaya memperkuat peran guru dalam menghadapi banjir hoaks di era media sosial. Dalam pemaparannya, Ariadne Khatarina Moniaga dan Richard Kannedy dari komunitas cek fakta KORSTE Politeknik Tempo menegaskan bahwa jurnalisme pada dasarnya adalah proses verifikasi informasi menjadi berita. Artinya, sebuah informasi tidak layak disebut “berita” sebelum melewati proses pengecekan fakta yang sistematis, kontekstual, dan berbasis bukti. Narasumber menekankan bahwa menentukan “fakta” tidak selalu sederhana, karena bergantung pada konteks, definisi istilah, serta kualitas sumber rujukan. Di sinilah peran guru menjadi krusial. Ia harus mampu membiasakan siswa berpikir presisi, bukan reaktif. Dalam sesi praktik, peserta dikenalkan pada berbagai tools cek fakta yang digunakan tim KORSTE serta peran AI dalam membantu penelusuran gambar, lokasi, dan konteks visual. Melalui sebuah games , peserta diajak berlatih menguji keaslian konten visual yang sering dimanipulasi di media sosial. Namun, narasumber menegaskan bahwa AI hanyalah alat bantu, bukan pengganti nalar kritis. Interpretasi akhir tetap harus dilakukan manusia dengan mempertimbangkan konteks dan etika. Guru sebagai Benteng Integritas Informasi Melalui webinar ini, KGSB dan Politeknik Tempo menegaskan bahwa guru bukan sekadar pengajar materi pelajaran, tetapi penjaga integritas informasi di sekolah. Dengan membekali diri pada konsep-konsep yang diajarkan dalam webinar tersebut, serta penguasaan literasi digital, guru diharapkan mampu menjadi sumber informasi yang kredibel serta menumbuhkan budaya berpikir kritis pada siswa. Selain itu juga mampu membentengi sekolah dari infiltrasi hoaks yang merusak nalar dan karakter
Menapaki Tahun Baru dengan Sikap Konstruktif
Tahun 2026 hadir setelah 2025 menguji banyak hal dalam dunia pendidikan. Di tengah tantangan yang berlanjut, KGSB memilih untuk tetap konstruktif. Merawat akal sehat, menjaga etika, dan melanjutkan kerja bersama yang bermakna
Menumbuhkan Empati Anak Didik di Tengah Banyaknya Bencana
Bencana dapat menjadi ruang belajar empati ketika sekolah mengarahkan kepedulian anak untuk diwujudkan dalam aksi nyata.
KGSB 4 Tahun
KGSB 4 tahun – merayakan sikap konstruktif para guru yang terus membangun nilai di tengah tantangan pendidikan yang tidak mudah. Langkah kecil yang dijalani bersama menjadi arah kolektif untuk tumbuh, bertahan, dan memberikan dampak yang bermakna.
“Ruang Kosong di Rumah Megah”
Anak itu bukan bermasalah. Ia hanya sedang berkata pelan,”Ada ruang kosong di diri saya. Tolong jangan biarkan tetap kosong.”
Bagaimana Mengembalikan Minat Belajar Matematika?
Anjloknya nilai TKA Matematika 2025 bukan cermin kemampuan siswa yang lemah, melainkan akumulasi luka pembelajaran generasi pandemi.
Artikel ini mengurai akar masalahnya secara jernih—dan menawarkan langkah nyata untuk membuat siswa kembali menikmati proses, merasa
tertantang, dan akhirnya mencintai matematika.
Saat Konten Mengalahkan Naluri Menolong
Kasus bullying terus meningkat dan banyak di antaranya direkam dan disebarkan oleh teman-teman sekelas sendiri. Budaya konten telah menggeser empati, menandakan pentingnya kewaspadaan guru untuk menjaga keamanan siswa.
Pentingnya Skrining Kanker Payudara bagi Sahabat Guru Hebat
Deteksi dini kanker payudara dapat menyelamatkan nyawa. Pelajari cara SADARI dan SADANIS agar Sahabat Guru Hebat berani skrining dan peduli kesehatan diri.
Guru Tidak Pernah Sendirian
Bergabunglah dalam komunitas untuk bertumbuh bersama. Karena Guru Hebat tak seharusnya melangkah sendirian. KGSB siap menyambutmu.
Kesehatan Reproduksi Dimulai dari Toilet Sekolah
Pelajari pentingnya kesehatan reproduksi bagi guru dan siswa di sekolah. Artikel KGSB ini membahas kaitan antara kebersihan toilet, sanitasi, dan pendidikan karakter, serta langkah nyata untuk menciptakan lingkungan belajar yang sehat dan bermartabat.
