Kebiasaan anak menggunakan gawai semakin menjadi tantangan bagi orang tua dan guru. Ketika waktu di depan layar tidak diimbangi pendampingan yang memadai, anak berisiko kehilangan kesempatan untuk mengembangkan keterampilan sosial, mengenali emosi, dan belajar mengelola rasa kecewa. Di ruang belajar, tantangan ini dapat terlihat ketika anak mudah marah, menangis saat ditegur, atau kesulitan bekerja sama dengan teman. Situasi tersebut menjadi perhatian tim dosen Universitas Al Azhar Indonesia (UAI) yang menggelar seminar parenting bertema “Penguatan Komunikasi Empatik untuk Mendukung Kesehatan Mental Anak” bagi orang tua dan guru di Yayasan Yatim Piatu Pejaten (YYPP), Jakarta Selatan. Kegiatan ini membekali orang tua dan guru dengan pendekatan komunikasi yang membantu anak menghadapi tantangan emosional di tengah semakin dekatnya kehidupan mereka dengan teknologi digital. Seminar yang berlangsung pada 26 Juli 2026 di Masjid Jami Pejaten ini merupakan bagian dari program pengabdian kepada masyarakat yang didanai Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) UAI melalui skema Public Service Grant 2026. Sebanyak 38 peserta mengikuti kegiatan, melampaui target awal 30 peserta. Mereka terdiri atas ibu wali santri yatim, anak asuh, serta guru TKA/TPA/TQA Tarbiyatul Islam 114. Gawai dan Tantangan Emosi Anak Program ini berangkat dari observasi dan diskusi kelompok kecil bersama pengelola yayasan, guru, dan orang tua pada Februari 2026. Hasilnya menunjukkan bahwa hampir semua anak menggunakan gawai lebih dari dua jam sehari, terutama untuk menonton video dan bermain gim. Namun, sebagian besar orang tua belum memiliki strategi pendampingan yang memadai. Penggunaan gawai yang berlebihan tanpa pengaturan dan pendampingan dapat mengurangi kesempatan anak untuk berinteraksi langsung, berlatih menyelesaikan konflik, dan belajar menghadapi rasa bosan atau kecewa. Tantangan muncul ketika anak harus menghentikan aktivitas digital, mengikuti arahan guru, atau berbagi perhatian dengan teman-temannya. Kondisi tersebut tidak berarti setiap anak yang menggunakan gawai akan mengalami masalah emosi. Namun, kebiasaan digital yang tidak seimbang perlu menjadi perhatian bersama karena perkembangan emosi anak membutuhkan interaksi, keteladanan, dan pendampingan dari orang dewasa. “Kesehatan mental anak tidak cukup dijaga dengan larangan. Anak membutuhkan orang dewasa yang mau mendengarkan dan membantu mereka mengenali perasaannya. Karena itu, yang kami kuatkan adalah orang tua dan gurunya, sebab merekalah yang setiap hari berinteraksi dengan anak,” ujar Dr. Dra. Kussusanti, M.Si., Ketua Tim Pengabdian sekaligus dosen Program Studi Ilmu Komunikasi UAI. Bagi guru, memahami perilaku anak menjadi langkah penting sebelum memberikan teguran. Anak yang marah ketika gawainya diambil, misalnya, tetap perlu belajar mematuhi batasan. Namun, guru dan orang tua juga perlu membantu anak mengenali kekecewaannya, memahami aturan, dan menemukan cara yang lebih sehat untuk mengungkapkan perasaan. Empat Bekal Praktis untuk Guru dan Orang Tua Untuk menjawab kebutuhan tersebut, seminar menghadirkan empat sesi yang memadukan psikologi perkembangan, ilmu komunikasi, pendidikan anak usia dini, dan nilai-nilai Islam. Sesi pertama bersama Nurfadilah, S.Psi., M.Psi., membahas kesehatan mental anak serta peran orang tua dan guru. Peserta diajak memahami bahwa kesehatan mental tidak sekadar berarti bebas dari gangguan, tetapi juga mencakup kemampuan anak merasakan, mengekspresikan, dan mengelola emosi secara sehat sesuai tahap perkembangannya. Pada sesi kedua, Kussusanti memperkenalkan komunikasi empatik dan asertif. Pendekatan ini mengajak orang dewasa memahami perasaan anak sebelum mengarahkan perilakunya, sekaligus menyampaikan kebutuhan secara jujur tanpa bersikap agresif maupun pasif. Penerapannya dapat dimulai dari kebiasaan sederhana, seperti menggunakan kata “tolong”, menghindari ucapan kasar, dan meminta maaf kepada anak ketika melakukan kesalahan. Sesi ketiga bersama Ruvira Arindita, S.I.Kom., M.Si., secara khusus membahas pendampingan emosional anak di era digital. Materinya mencakup kesepakatan durasi layar, pemilihan konten, dan pentingnya kehadiran orang tua saat anak menggunakan gawai. Sementara itu, Safira Hasna, S.I.Kom., M.Si., memperkenalkan kegiatan membaca dan bercerita sebagai sarana membantu anak mengenali berbagai emosi, melatih empati, serta membangun kedekatan dengan orang tua dan guru. Diskusi berlangsung aktif. Sejumlah peserta menanyakan cara menghadapi anak yang tantrum ketika gawainya diambil, sementara ibu wali santri lainnya berbagi pengalaman tentang tantangan mengasuh anak seorang diri. Ketua Yayasan Yatim Piatu Pejaten, Ir. Prima Haris Nuryawan, M.B.A., menyambut baik kegiatan tersebut. “Kami bersyukur orang tua dan guru di sini mendapat bekal yang selama ini belum pernah mereka terima. Banyak ibu wali santri yang mengasuh sendiri, sehingga pendampingan seperti ini sangat berarti,” ujarnya. Pengetahuan Meningkat, Pendampingan Berlanjut Dampak kegiatan diukur melalui pre-test sebelum penyampaian materi dan post-test setelah sesi tanya jawab. Hasilnya, rata-rata skor pengetahuan peserta meningkat dari 60 persen menjadi 90 persen. Sebanyak 80 persen peserta menilai materi bermanfaat, sedangkan 85 persen menyatakan akan menerapkannya di rumah. Untuk menjaga keberlanjutan program, tim UAI membentuk komunitas belajar melalui grup WhatsApp yang mempertemukan orang tua, guru, dan tim pelaksana sebagai ruang konsultasi dan berbagi pengalaman. Tim juga membuka layanan hotline konsultasi pribadi serta tengah menyusun modul komunikasi empatik, panduan aktivitas penguatan emosi untuk kegiatan TKA/TPA/TQA, dan lembar observasi sederhana bagi guru. “Kami ingin aspek emosinya juga dirawat, dengan nilai yang sudah dekat dengan keseharian mereka, yakni kasih sayang, kesabaran, dan tutur kata yang baik,” kata Kussusanti. Ke depan, tim berencana mengembangkan simulasi dan role play, mengukur perubahan pola komunikasi orang tua dan guru, serta mereplikasi model pendampingan ini di lembaga pendidikan keagamaan nonformal lainnya. Di tengah tantangan kebiasaan bergawai, guru memiliki peran penting untuk membantu anak membangun keseimbangan antara aktivitas digital, interaksi sosial, dan pengelolaan emosi. Melalui komunikasi empatik, pendidikan tidak hanya berfokus pada penguasaan materi dan pembentukan akhlak, tetapi juga pada kemampuan anak memahami diri sendiri dan menghargai orang lain. Upaya ini sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya poin 4 tentang pendidikan berkualitas dan poin 16 tentang masyarakat yang damai dan bebas kekerasan.
Saatnya Upgrade Cara Mengajar
Melek Digital Bersama Hacktiv8 Sahabat Guru Hebat, Dunia pendidikan di era digital saat ini bergerak dengan kecepatan yang belum pernah kita bayangkan sebelumnya. Jika dulu papan tulis dan kapur menjadi simbol utama ruang kelas, kini layar interaktif, kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), dan materi berbasis digital telah mengambil alih peran penting dalam keseharian belajar-mengajar. Sebagai pendidik, kita tentu merasakan betul besarnya tantangan yang kita hadapi. Murid-murid kita hari ini adalah generasi digital native yang sangat akrab dengan teknologi. Pertanyaannya, apakah kita sebagai guru sudah siap mendampingi dan memimpin mereka di garis depan teknologi ini? Menjadi guru di era digital bukan sekadar bisa mengoperasikan gawai, melainkan bagaimana kita mampu mengintegrasikan teknologi untuk membuat pembelajaran menjadi lebih hidup, relevan, dan bermakna. Namun, seringkali kita dihadapkan pada keterbatasan keterampilan teknis. Di sinilah pentingnya bagi kita untuk terus belajar (lifelong learning), melakukan upskilling, dan memperkaya wawasan digital agar tidak tertinggal oleh zaman. Kabar baiknya, langkah untuk meng-upgrade diri kini menjadi jauh lebih mudah berkat kehadiran institusi pelatihan digital terkemuka seperti Hacktiv8. Berdiri sejak tahun 2016 di bawah naungan PT Hacktivate Teknologi Indonesia, Hacktiv8 telah berpengalaman melahirkan talenta digital siap kerja yang menguasai teknologi, data, hingga kecerdasan buatan (AI). Sebagai mitra resmi Google Cloud Partner Network dan kolaborator IBM SkillsBuild di Indonesia, kurikulum yang ditawarkan selalu disusun berbasis kebutuhan industri terkini. Mulai dari program AI-Enhanced Full Stack Developer, Data Science & AI Machine Learning, hingga Comprehensive Data Analytics, semuanya dirancang secara fleksibel untuk membantu siapa saja mendalami dunia teknologi dari nol maupun tingkat lanjut. Menyadari peran krusial pendidik dalam membangun fondasi masa depan bangsa, Hacktiv8 menghadirkan program khusus Tech for Teacher. Program ini dirancang khusus untuk memberikan kesempatan bagi para guru, dosen, tutor bimbingan belajar, dan tenaga pendidik lainnya untuk mendalami keterampilan digital melalui program bootcamp berkualitas tinggi. Manfaatnya luar biasa. Selain memperkuat literasi digital pribadi, keterampilan baru ini dapat langsung diaplikasikan untuk merancang metode pengajaran yang lebih interaktif, kreatif, dan adaptif terhadap kebutuhan murid di abad ke-21. Mari jadikan momen ini sebagai langkah nyata untuk berinvestasi pada kemampuan diri kita sendiri. Mengajar di era digital berarti kita pun harus siap belajar menaklukkan teknologi. Spesial bagi Sahabat Guru Hebat yang ingin mengembangkan potensi diri, Hacktiv8 memberikan penawaran istimewa melalui Promo Canggih Hacktiv8. Nikmati potongan spesial diskon 30% khusus untuk tenaga pendidik dan dosen yang ingin mengikuti program bootcamp! Gunakan kode promo TECHTEACHERSH8 saat melakukan pendaftaran. Kuota promo ini terbatas selama persediaan masih ada, jadi jangan lewatkan kesempatan emas ini untuk upgrade skill digital dan upgrade cara mengajar Anda! Kunjungi segera tautan pendaftaran resmi di my.hacktiv8.com/canggihpp dan jadilah bagian dari transformasi pendidikan digital bersama Hacktiv8!
Inspirasi dari Pemenang MNAE, Guru Bisa Menjadi Edukator Tanpa Batas
Sahabat guru hebat… Pernahkah terpikir bahwa pembelajaran tidak harus berhenti ketika bel sekolah berbunyi? Bagi Muhammad Hendrawan, guru Bahasa Indonesia yang mengajar siswa kelas 9 dan 11 di Bina Tunas Bangsa School, Jakarta, jawabannya adalah tidak. Baginya, menjadi guru di era digital berarti bersedia hadir di ruang yang dekat dengan kehidupan peserta didik. Termasuk melalui media sosial. Sebagai guru Bahasa Indonesia, Hendrawan memandang bahasa bukan sekadar alat komunikasi. Bahasa adalah bagian dari identitas bangsa sekaligus jembatan yang menghubungkan generasi masa kini dengan nilai-nilai yang dimiliki. Karena itu, ia memilih media sosial sebagai salah satu ruang untuk memperluas pembelajaran bahasa Indonesia. Ia secara rutin membuat konten edukatif mengenai kebahasaan. Mulai dari ejaan yang sering keliru digunakan, kata baku dan tidak baku, struktur kalimat, hingga keterampilan berbahasa yang relevan dengan konteks kehidupan sehari-hari. Menariknya, Hendrawan tidak menyajikan materi tersebut dengan pendekatan yang kaku. Ia justru masuk ke percakapan yang sedang berlangsung di tengah masyarakat. Sambil menyelam minum air. Konten yang dibuatnya tidak hanya membahas bahasa, tetapi juga mengaitkannya dengan isu atau konteks yang sedang ramai diperbincangkan. Dengan cara tersebut, pembelajaran Bahasa Indonesia terasa lebih dekat, aktual, dan relevan bagi generasi muda. Salah satu kekuatan inovasi Hendrawan adalah kemampuannya melihat bahwa peristiwa yang sedang ramai di media sosial pun dapat menjadi pintu masuk pembelajaran. Ia pernah membuat konten mengenai penggunaan kata dan ejaan dalam berbagai isu aktual. Misalnya, membahas penggunaan kata dalam pemberitaan atau percakapan publik, kemudian mengajak audiens melihat apakah penggunaan bahasa tersebut sudah tepat. Pada kesempatan lain, ia memanfaatkan siaran langsung YouTube yang tengah ramai ditonton masyarakat untuk mengajak audiens mengenali kata baku dan tidak baku. Konten tersebut bahkan memperoleh perhatian yang sangat besar dan disebut telah mencapai 2,8 juta views. Bagi seorang guru, angka tersebut bukan sekadar jumlah penonton. Hal itu menunjukkan bahwa materi pembelajaran dapat menemukan audiens yang jauh lebih luas ketika guru mampu menerjemahkan pengetahuan ke dalam bahasa dan format yang sesuai dengan kebiasaan generasi digital. Di sinilah inovasi Hendrawan menjadi menarik. Ia tidak berusaha membuat media sosial menjadi “kelas formal” baru. Sebaliknya, ia membawa semangat pembelajaran ke dalam ruang yang memang sudah digunakan oleh peserta didik dan masyarakat. Yang lebih penting, inovasi digital tersebut tidak berdiri sendiri. Apa yang dilakukan Hendrawan di media sosial juga terhubung dengan praktik pembelajaran di kelas. Ketika mengajarkan materi menulis surat kepada siswa kelas 9, misalnya, ia mengajak siswa menulis surat kepada Presiden. Namun, siswa tidak langsung diminta menulis. Mereka terlebih dahulu harus melakukan riset mengenai persoalan yang akan diangkat, kemudian menyusun dan mendekorasi bagian depan surat. Pendekatan serupa juga terlihat ketika Hendrawan mengajarkan puisi. Ia memberikan contoh puisi yang kontekstual dan mengadaptasi karya WS Rendra sebagai bagian dari proses pembelajaran. Dengan demikian, siswa tidak hanya belajar mengenai teori bahasa dan sastra. Mereka belajar menghubungkan teks dengan realitas, melakukan riset, menyampaikan gagasan, sekaligus mengembangkan kreativitas. Memanfaatkan AI, Bukan Bergantung pada AI Inovasi Hendrawan juga menyentuh perkembangan teknologi kecerdasan artifisial atau AI. Ia berkolaborasi dengan AI Gemini untuk membuat konten edukasi mengenai penggunaan kata yang sering keliru. Contohnya beda dalam penggunaan “mengubah” dan “merubah”. Namun, menariknya, teknologi dalam praktik Hendrawan bukanlah tujuan akhir. AI digunakan sebagai alat bantu untuk membuat pembelajaran bahasa menjadi lebih menarik dan mudah dipahami. Pengetahuan, konteks, dan keputusan pedagogis tetap berada di tangan guru. Pandangan tersebut sejalan dengan pesan penting yang juga muncul dalam perbincangan mengenai inovasi pendidikan. Bahwa teknologi dapat membantu mempercepat proses, tetapi guru tetap menjadi pihak yang memahami kebutuhan peserta didik. Dengan kata lain, teknologi tidak menggantikan guru yang memahami muridnya. Teknologi justru menjadi semakin bermakna ketika digunakan oleh guru untuk menjawab kebutuhan murid. Guru Tidak Harus Menunggu Ruang Besar untuk Berdampak Kisah Muhammad Hendrawan membawa satu pelajaran penting bagi kita. Bahwa inovasi tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar. Satu konten tentang kata baku. Satu video pendek tentang ejaan. Satu pembelajaran menulis surat. Satu contoh puisi yang dikaitkan dengan kehidupan nyata. Bahkan satu kolaborasi sederhana dengan teknologi. Hal-hal tersebut mungkin terlihat kecil. Namun, ketika dilakukan secara konsisten dan dibagikan melalui ruang digital, dampaknya dapat melampaui batas ruang kelas. Semangat inilah yang diangkat melalui Mentari National Awards for Educators (MNAE). Setelah lebih dari 25 tahun berkontribusi di sektor pendidikan, Mentari Group menghadirkan MNAE sebagai platform untuk mengapresiasi sekaligus mengangkat praktik baik para pendidik di Indonesia. Pada 2026, MNAE menjaring 770 pendidik dari 679 sekolah di 228 kota. Setelah melalui proses seleksi dan penjurian, sebanyak 20 pendidik terpilih sebagai penerima penghargaan dalam tiga kategori yaitu Mentari Leadership Awards, Mentari Changemaker Awards, dan Mentari Educreator Awards. Kisah Hendrawan memperlihatkan mengapa praktik baik seperti ini layak mendapatkan panggung. Sebab, inovasi pendidikan bukan hanya tentang siapa yang memiliki teknologi paling canggih. Inovasi adalah tentang bagaimana seorang guru membaca kebutuhan murid, menemukan cara baru untuk menjawabnya, lalu terus belajar memperbaiki cara tersebut. Dan di sinilah Sahabat Guru Hebat dapat mengambil pelajaran dari Muhammad Hendrawan. Tidak perlu menunggu memiliki fasilitas sempurna untuk mulai berinovasi. Tidak harus menunggu menjadi guru yang terkenal. Tidak pula harus selalu menciptakan sesuatu yang sepenuhnya baru. Mulailah dari masalah yang kita lihat di kelas. Dengarkan kebutuhan murid. Cari cara yang lebih dekat dengan dunia mereka. Manfaatkan teknologi dengan bijak. Lalu, jangan simpan praktik baik itu sendirian. Bagikan agar guru lain dapat belajar darinya. Karena bisa jadi, satu ide sederhana dari ruang kelas kita hari ini adalah inspirasi yang dibutuhkan guru lain di tempat yang berbeda. Sahabat Guru Hebat, Inovasi tidak selalu dimulai dari panggung nasional. Sering kali, ia lahir dari kegelisahan kecil seorang guru di ruang kelas. Yang membuatnya menjadi besar adalah keberanian untuk mencoba, konsistensi untuk menjalankan, dan kemauan untuk berbagi.
Dari Kelas ke ARTJOG
Pagi itu, halaman SMP Negeri 3 Tempel, Sleman, lebih ramai dari biasanya. Ratusan siswa berkumpul di halaman sekolah, namun bukan untuk mengikuti upacara atau kegiatan belajar mengajar seperti hari-hari biasa. Hari itu mereka akan dibawa dalam sebuah pembelajaran di luar ruang kelas. Yup, ratusan anggota sekolah yang terdiri dari siswa, guru, karyawan, dan mahasiswa praktik kerja tersebut tengah bersiap menuju ARTJOG 2026 di Jogja National Museum, Yogyakarta. 14 bus berukuran sedang sudah menanti untuk mengangkut seluruh rombongan. Perjalanan itu singkat. Mereka berangkat sekitar pukul 10.00 WIB dan sekitar 13.30 WIB, telah kembali ke sekolah. Namun bagi Bu Mulasih, Kepala Sekolah SMP Negeri 3 Tempel yang mendampingi rombongan, kesempatan tersebut memberikan pengalaman yang layak dibawa pulang ke sekolah. “Alhamdulillah kami sudah melakukan kunjungan ke ARTJOG. Seluruh rombongan berjumlah 403 personil terdiri dari siswa kelas 7 dan 9, guru karyawan dan mahasiswa PK,” ujar Mulasih. Kunjungan berlangsung lancar. Mereka pulang tak hanya membawa oleh-oleh dokumentasi perjalanan, namun juga pengalaman bagi siswa untuk berjumpa langsung dengan karya seni dan ruang pameran yang mungkin tidak setiap hari mereka datangi. “Alhamdulillah lancar. Terima kasih Satkaara dan KGSB, sudah diberi kesempatan berkunjung ke ARTJOG,” ujarnya. Pengalaman SMP Negeri 3 Tempel tersebut adalah salah satu bagian dari antusiasme yang lebih luas di kalangan guru yang tergabung dalam Komunitas Guru Satkaara Berbagi (KGSB). Melalui Satkaara Communications, sebagai lembaga payung KGSB, lebih dari 6.000 tiket gratis ARTJOG 2026 didistribusikan ke berbagai komunitas. KGSB kemudian membuka akses tersebut kepada para anggotanya, sekolah tempat mereka mengajar, siswa, rekan guru, hingga keluarga. Di Kulon Progo, sejumlah sekolah dalam jejaring KGSB juga memanfaatkan tiket-tiket tersebut untuk memberi pengalaman berharga bagi para siswanya. SD Muhammadiyah Worawari Kulon Progo dan SMP Negeri 1 Pengasih menyiapkan kunjungan satu kelas pada akhir pekan. Antusiasme terlihat sejak pendaftaran dibuka. Pada salah satu tahap distribusi, pengurus KGSB mencatat 1.467 tiket telah terdaftar untuk dikirimkan. Jumlah tersebut kemudian meningkat menjadi sekitar 2.800 tiket, dan terus meningkat hingga menjelang penutupan event, hampir seluruh tiket telah berada di tangan yang tepat. Pengurus KGSB memang memberi keluasan kepada para anggota KGSB untuk mengajak sebanyak mungkin siswa maupun komunitas di lingkungannya untuk hadir dalam event ARTJOG. Bahkan, ketika jumlah penerima dalam satu sekolah cukup besar, kuota tiket masih memungkinkan untuk ditambah. Seorang guru, misalnya, mendapat kesempatan untuk mengajak keluarga atau memperluas manfaat tiket kepada lebih banyak anggota komunitas sekolah. Dengan demikian, tiket gratis tersebut tidak berhenti sebagai fasilitas bagi guru. Ia berkembang menjadi kesempatan bagi satu komunitas pendidikan untuk mengalami ARTJOG bersama-sama. Menariknya, tidak semua tiket yang telah dialokasikan kemudian digunakan. Ketika terdapat tiket yang tidak terpakai, ada sekolah yang melimpahkan tiket tersebut untuk mahasiswa seni dari ISI Yogyakarta dan Universitas Negeri Yogyakarta. Pilihan itu membuat manfaat program bergerak lebih jauh. Tiket yang semula diperuntukkan bagi komunitas guru dan sekolah dapat diteruskan kepada generasi muda yang memang tengah menekuni bidang seni. Bagi KGSB dan Satkaara, semangat semacam ini sejalan dengan gagasan awal program, yakni menghadirkan seni sebagai salah satu ruang belajar yang dapat diakses lebih luas. Sebab bagi seorang guru, membawa siswa ke ruang seni bukan semata-mata mengajak mereka melihat karya. Ada kesempatan untuk mengajak siswa bertanya, mengamati, menafsirkan, berdiskusi, bahkan mempertanyakan sesuatu yang sebelumnya tidak pernah mereka pikirkan. Ketika belajar tidak berhenti di ruang kelas ARTJOG 2026 berlangsung pada 19 Juni hingga 30 Agustus 2026 di Jogja National Museum. Tahun ini, ARTJOG mengusung tema “ARS LONGA: GENERATIO”, bagian pertama dari trilogi kuratorial Ars Longa Trilogia yang akan berlangsung hingga 2028. Tema tersebut mengeksplorasi dialog dan praktik lintas generasi dalam seni. ARTJOG menghadirkan karya dari 25 seniman undangan dan 19 seniman muda berusia maksimal 35 tahun. Pada saat yang sama, festival ini juga menghadirkan ARTJOG Kids yang melibatkan 52 anak dan remaja berusia 6–15 tahun. Kehadiran ARTJOG Kids menjadi menarik bagi komunitas pendidikan karena memperlihatkan bahwa seni tidak hanya berbicara dari perspektif seniman dewasa. Anak-anak dan remaja juga diberi ruang untuk menunjukkan cara mereka melihat dan memahami dunia. Program ARTJOG Kids sendiri telah dirintis sejak 2022 sebagai medium pembelajaran seni dan melalui seni bagi anak-anak. Program ini menjadi bagian dari upaya ARTJOG menghadirkan pendekatan yang lebih dekat dengan dunia anak sekaligus memperkenalkan seni rupa kontemporer kepada generasi muda. Bagi guru, pengalaman semacam ini dapat menjadi pintu masuk pembelajaran yang berbeda. Di situ, Guru bisa menularkan pemikiran kepada para siswanya. Bahwa sebuah karya seni tidak selalu hadir dengan jawaban. Ia justru bisa memunculkan pertanyaan: Mengapa karya ini dibuat? Apa yang ingin disampaikan senimannya? Mengapa benda sederhana dapat menjadi karya seni? Mengapa satu karya bisa dimaknai berbeda oleh setiap orang? Pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat dibawa kembali ke sekolah, menjadi bahan diskusi di kelas, bahkan menjadi cara baru bagi guru untuk mengajak siswa berpikir kritis dan melihat sesuatu dari perspektif berbeda. ARTJOG sendiri telah berkembang sejak pertama kali hadir sebagai Jogja Art Fair pada 2008, kemudian menggunakan nama ARTJOG sejak 2010. Dalam perjalanannya, festival ini berkembang tidak hanya sebagai ajang presentasi karya seni, tetapi juga menjadi ruang pertemuan antara seniman, publik, komunitas, dan berbagai program edukasi. Perjalanan 403 warga SMP Negeri 3 Tempel menuju ARTJOG mungkin terlihat seperti sebuah kunjungan singkat. Namun di balik perjalanan itu ada sebuah gagasan yang lebih panjang, bahwa proses belajar dapat berlangsung di mana saja. Di dalam kelas, guru mengajarkan siswa untuk membaca buku. Di ruang seni, mereka belajar membaca karya. Dan dari kedua ruang itu, bisa lahir hal yang sama. Kemampuan untuk melihat, bertanya, dan memahami dunia dengan cara ayang lebih luas.
Menyiapkan Anak untuk Dunia yang Terus Berubah
Kolaborasi KGSB dan Departemen Psikologi FISIP Universitas Brawijaya mengajak guru, orang tua, dan pendidik melihat kembali makna kesiapan anak menghadapi masa depan. Seorang anak pulang membawa rapor dengan nilai nyaris sempurna. Orang tua bangga, guru merasa lega. Anak pun mendapat apresiasi karena berhasil memenuhi standar yang selama ini dianggap sebagai ukuran keberhasilan. Namun, beberapa tahun kemudian, ketika memasuki dunia kerja, tantangan yang dihadapi sang anak ternyata tidak lagi berbentuk soal pilihan ganda atau ujian akhir semester. Ia harus bekerja dengan orang-orang yang berbeda karakter. Ia harus mampu menyampaikan ide, menghadapi kritik, mengelola tekanan, menyelesaikan konflik, dan mengambil keputusan dalam situasi yang tidak selalu memiliki jawaban pasti. Di titik inilah muncul pertanyaan yang semakin relevan di era perubahan yang serba cepat: Apakah prestasi akademik saja cukup untuk menjadi bekal menghadapi masa depan? Pertanyaan tersebut menjadi benang merah dalam webinar bertajuk “Mempersiapkan Generasi Adaptif di Dunia Kerja” yang diselenggarakan oleh Komunitas Guru Satkaara Berbagi (KGSB) bersama Departemen Psikologi FISIP Universitas Brawijaya. Webinar yang merupakan bagian dari kolaborasi berkelanjutan sejak 2023 ini diikuti lebih dari ratusan peserta yang terdiri atas guru, tenaga kependidikan, orang tua, hingga siswa dari berbagai daerah di Indonesia. Hadir sebagai narasumber adalah Dr. Ika Widyarini, M.LHR., Psikolog, dosen Departemen Psikologi FISIP Universitas Brawijaya yang banyak menyoroti pentingnya penguatan soft skills dan pendekatan mentoring dalam mempersiapkan generasi masa depan. Dunia Kerja yang Berubah Cepat Dalam sambutannya, Koordinator Program dan Pelatihan KGSB, Riki M. Iskandar, menegaskan bahwa tantangan yang akan dihadapi generasi muda saat ini berbeda dengan generasi sebelumnya. Menurutnya, perubahan yang berlangsung begitu cepat menuntut generasi muda tidak hanya memiliki kemampuan akademik, tetapi juga keterampilan nonteknis yang menjadi fondasi penting dalam kehidupan dan dunia kerja abad ke-21. Kemampuan berkomunikasi, berkolaborasi, berpikir kreatif, mengelola diri, hingga menghadapi ketidakpastian menjadi keterampilan yang perlu dibangun sejak dini melalui proses pendampingan yang tepat. “Melalui webinar ini kami berharap peserta memperoleh perspektif baru mengenai pentingnya penguatan soft skills dan peran mentoring dalam mempersiapkan generasi yang adaptif dan siap menghadapi masa depan,” ujarnya. Pesan tersebut terasa semakin relevan ketika melihat realitas dunia kerja saat ini. Banyak profesi yang kini berkembang pesat bahkan belum dikenal lima atau sepuluh tahun lalu. Sementara itu, perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan membuat sebagian keterampilan teknis semakin mudah dipelajari secara mandiri. Yang justru semakin bernilai adalah kemampuan manusia untuk belajar, beradaptasi, bekerja sama, dan menyelesaikan masalah. Karena itu, menurut Dr. Ika, pertanyaan yang perlu diajukan bukan lagi sekadar “Apakah anak saya pintar?”, melainkan “Apakah anak saya siap menghadapi perubahan?” Ketika Nilai Saja Tidak Memadai Selama bertahun-tahun, sistem pendidikan sering kali menempatkan capaian akademik sebagai indikator utama keberhasilan. Padahal, kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa banyak individu dengan prestasi akademik tinggi tetap mengalami kesulitan ketika memasuki dunia profesional. Mereka mungkin menguasai teori dan konsep, tetapi belum tentu siap menghadapi dinamika kerja tim, tekanan pekerjaan, perubahan situasi, atau komunikasi dengan berbagai pihak. Dan di sinilah pentingnya soft skills sebagai jembatan antara dunia pendidikan dan dunia kerja. “Sekolah memberikan fondasi pengetahuan dan keterampilan akademik. Perguruan tinggi memberikan spesialisasi keilmuan. Namun di antara keduanya terdapat jembatan yang sering terlupakan, yaitu soft skills,” jelas Dr. Ika. Kemampuan nonteknis tersebut, lanjut Dr. Ika, tidak muncul secara instan. Ia tumbuh melalui pengalaman, interaksi, refleksi, dan proses pendampingan yang konsisten sejak usia dini. Dari Mengarahkan Menjadi Mendampingi Salah satu gagasan penting yang dibahas dalam webinar adalah perubahan paradigma dari pola asuh tradisional menuju pendekatan mentoring. Selama ini banyak orang dewasa terbiasa mengambil peran sebagai pemberi jawaban. Ketika anak menghadapi masalah, orang tua atau guru segera memberikan solusi. Ketika anak bingung menentukan pilihan, orang dewasa langsung menunjukkan jalan yang dianggap paling benar. Pendekatan tersebut memang efektif dalam jangka pendek. Namun dunia masa depan menuntut sesuatu yang berbeda. Anak-anak perlu belajar berpikir, mengevaluasi pilihan, memahami konsekuensi, dan mengambil keputusan secara mandiri. Di sinilah peran mentor menjadi penting. Mentor bukan orang yang selalu memiliki semua jawaban. Mentor adalah sosok yang membantu anak menemukan jawabannya sendiri. Mentor menciptakan ruang aman bagi anak untuk mencoba, melakukan kesalahan, memperbaiki diri, dan terus bertumbuh. Tujuannya bukan membentuk anak yang selalu benar, melainkan anak yang mampu belajar dari setiap pengalaman. Empat Pilar Membangun Generasi Adaptif Dalam pemaparannya, Dr. Ika memperkenalkan empat pilar utama yang dapat menjadi cetak biru pengembangan generasi adaptif. 1. Komunikasi dan Kemampuan Interpersonal Di dunia kerja modern, kualitas ide sering kali ditentukan oleh kemampuan seseorang menyampaikan dan mengomunikasikannya. Karena itu anak perlu dilatih untuk menyampaikan pendapat dengan percaya diri, mendengarkan orang lain, memahami perspektif yang berbeda, dan membangun relasi yang sehat. Kemampuan ini dapat dibangun melalui diskusi sederhana di rumah, presentasi di kelas, maupun percakapan sehari-hari yang memberi ruang bagi anak untuk mengemukakan pikirannya. Dr. Ika mencontohkan bahwa ketika anak menghadapi konflik dengan teman, orang tua tidak harus langsung memberikan solusi. Sebaliknya, orang tua dapat mengajukan pertanyaan seperti: “Menurutmu pilihan yang paling baik apa?” “Kalau kamu melakukan itu, apa dampaknya?” Pertanyaan semacam ini membantu anak melatih kemampuan berpikir kritis sekaligus keterampilan komunikasi reflektif. 2. Kerja Sama Tim dan Kepemimpinan Hampir tidak ada pekerjaan masa kini yang dapat diselesaikan sendirian. Karena itu anak perlu belajar bekerja sama, berbagi tanggung jawab, memahami perbedaan, dan menyelesaikan konflik secara konstruktif. Kepemimpinan dalam konteks ini tidak semata-mata berarti memimpin orang lain. Kepemimpinan dimulai dari kemampuan mengelola diri sendiri dan memberi pengaruh positif kepada lingkungan sekitar. Kemampuan tersebut dapat dibangun melalui berbagai pengalaman nyata, mulai dari kegiatan organisasi sekolah hingga proyek sederhana bersama keluarga atau komunitas. Menurut Dr. Ika, pengalaman langsung merupakan guru terbaik bagi anak untuk memahami makna kolaborasi. 3. Manajemen Diri dan Etos Kerja Pilar berikutnya adalah kemampuan mengelola diri. Dunia kerja tidak hanya membutuhkan individu yang cerdas, tetapi juga mereka yang mampu mengatur waktu, mengelola sumber daya, dan bertahan menghadapi tantangan. Dalam sesi webinar, Dr. Ika menyoroti tiga kemampuan utama: Ia menjelaskan bahwa dalam setiap proses belajar terdapat fase yang sering disebut sebagai lembah frustrasi. Pada fase ini seseorang mulai merasa lelah, kesulitan, kehilangan kepercayaan diri, bahkan ingin menyerah. Dan justru pada titik inilah peran mentor menjadi sangat penting. Anak perlu memahami bahwa kegagalan bukanlah lawan dari keberhasilan, melainkan bagian dari proses menuju keberhasilan itu sendiri. 4. Pola
Student Contribution Index (SCI), Inovasi Penilaian untuk Meningkatkan Partisipasi dan Keadilan Belajar
Kolaborasi antara Komunitas Guru Satkaara Berbagi (KGSB) dan Departemen Psikologi FISIP Universitas Brawijaya kembali menghadirkan ruang diskusi pendidikan melalui webinar bertajuk Student Contribution Index (SCI): Inovasi Penilaian untuk Meningkatkan Partisipasi dan Keadilan Belajar, Sabtu (16/5/2026). Webinar yang telah menjadi bagian dari kerja sama berkelanjutan sejak 2023 ini diikuti guru dan tenaga pendidik anggota KGSB dari berbagai daerah di Indonesia. Dalam sambutannya, Ketua KGSB Ardyles Faesilio menyampaikan bahwa kolaborasi dengan Departemen Psikologi FISIP Universitas Brawijaya merupakan langkah strategis untuk mempertemukan dunia perguruan tinggi dengan praktik pendidikan di lapangan. Menurutnya, tantangan pembelajaran yang terus berubah membutuhkan ruang diskusi yang mampu menjawab persoalan nyata para pendidik. “Kolaborasi ini menjadi momentum penting untuk menghadirkan ruang belajar bersama yang relevan dengan dinamika pembelajaran saat ini. Kami berharap para pendidik dapat memperoleh wawasan praktis untuk membangun pembelajaran yang lebih partisipatif, transparan, dan berkeadilan,” ujarnya. Ketua Departemen Psikologi FISIP Universitas Brawijaya, Dita Rachmayani, menegaskan komitmen pihak kampus dalam menghadirkan program-program yang berdampak bagi dunia pendidikan. Ia menyebut SCI sebagai salah satu pendekatan inovatif yang dapat membantu guru melihat proses belajar siswa secara lebih utuh. “Penilaian tidak hanya berfokus pada hasil akhir, tetapi juga proses dan kontribusi siswa dalam pembelajaran. Dengan begitu, iklim belajar yang lebih adil dapat tercipta dan siswa merasa dihargai,” katanya. Materi utama webinar disampaikan oleh Omar K. Burhan, dosen sekaligus ilmuwan psikologi sosial dan organisasi yang meneliti relasi sosial, keadilan organisasi, dan inovasi pembelajaran. Dalam pemaparannya, Omar menjelaskan bahwa SCI lahir dari keresahan yang sering muncul dalam tugas kelompok mahasiswa. “Saat masih mengajar di USU, banyak mahasiswa melaporkan anggota kelompok yang tidak berkontribusi. Persoalannya bukan sekadar ada laporan, tetapi bagaimana dosen memiliki dasar objektif untuk menaikkan atau menurunkan nilai berdasarkan kontribusi nyata masing-masing,” jelasnya. Bersama dosen dari Universitas Syiah Kuala, Omar kemudian mengembangkan sistem SCI yang kini telah berbentuk aplikasi penilaian kontribusi individu dalam kerja kelompok. Dalam paparannya, Omar menjelaskan adanya paradoks dalam pembelajaran berbasis tim (team-based learning). Di satu sisi, metode ini terbukti mampu meningkatkan keterlibatan belajar, self-directed learning, dan hasil akademik. Namun di sisi lain, banyak mahasiswa justru membenci kerja kelompok karena dianggap tidak efisien, menimbulkan frustrasi, dan terutama menghadirkan ketidakadilan dalam penilaian. “Masalah utamanya sebenarnya bukan pada metode kerja kelompoknya, melainkan bagaimana kita menilainya,” tegas Omar. Ia menjelaskan bahwa sistem penilaian kolektif tradisional sering kali menyembunyikan kontribusi individu, mendorong social loafing atau perilaku menumpang kerja teman, sekaligus menghukum mahasiswa yang bekerja lebih keras. Karena itu, SCI dirancang untuk menciptakan “keteridentifikasian kontribusi”, yaitu kemampuan sistem dalam mengukur kontribusi setiap anggota kelompok secara jelas dan terukur. Melalui SCI, setiap anggota kelompok secara anonim mendistribusikan 100 poin kontribusi kepada seluruh anggota tim. Data tersebut kemudian diolah oleh SCI Engine untuk menghasilkan indeks kontribusi masing-masing individu. Mahasiswa dengan kontribusi lebih besar dapat memperoleh reward berupa penyesuaian nilai lebih tinggi, sementara kontribusi yang rendah dapat memperoleh penyesuaian nilai lebih rendah secara proporsional. Dalam salah satu contoh yang dipaparkan, nilai dasar proyek kelompok sebesar 75 dapat direkalibrasi menjadi 77,5 bagi mahasiswa dengan SCI 1,10 karena bekerja melebihi porsi normal, sementara mahasiswa dengan SCI 0,85 memperoleh nilai 71,25 karena kontribusinya lebih rendah. Omar juga memperkenalkan spektrum perilaku dalam kerja kelompok, mulai dari free-rider yang sengaja menahan kontribusi tetapi tetap menikmati hasil kelompok, social loafer yang bekerja di bawah standar, hingga compensator, yakni anggota yang bekerja ekstra keras untuk menutupi kekurangan anggota lain. “Keadilan bukan berarti semua siswa mendapat nilai yang sama, tetapi nilai yang benar-benar merepresentasikan usaha,” ujarnya. Diskusi webinar berlangsung aktif. Para guru mengangkat berbagai persoalan, mulai dari rendahnya motivasi belajar siswa, tantangan membangun tanggung jawab dalam tugas kelompok, hingga potensi kolusi antarsiswa dalam sistem penilaian kontribusi. Salah satu peserta, Arum Eka Prihatiningsih, menyoroti fenomena siswa yang menganggap sekolah sekadar kewajiban hadir tanpa dorongan untuk berprestasi. Sementara itu, Tb Muhyidin mempertanyakan kemungkinan adanya “persekongkolan” antarsiswa dalam pemberian skor kontribusi. Menanggapi hal tersebut, Omar menegaskan bahwa SCI tidak dirancang sebagai alat penghukuman, melainkan sebagai mekanisme refleksi dan kontrol sosial dalam kelompok. Transparansi kontribusi diyakini dapat membangun rasa tanggung jawab sekaligus mendorong budaya belajar yang lebih sehat dan adil.
Saatnya Guru Menjadi EduCreator
Sahabat Guru Hebat, Perubahan digital bukan hanya mengubah cara siswa belajar, tetapi juga cara kita, sebagai guru, menyampaikan makna. Hari ini, mengajar tidak lagi cukup berhenti di kelas. Kita ditantang untuk mengemas pembelajaran agar relevan, menarik, dan benar-benar berdampak, sebuah pendekatan yang, disadari atau tidak, semakin dekat dengan cara kerja dunia komunikasi. Semangat inilah yang terasa dalam webinar kolaborasi Komunitas Guru Satkaara Berbagi (KGSB) dan Mentari Group pada 2 Mei 2026. Mengusung tema “Guru sebagai EduCreator”, kegiatan tersebut diikuti ratusan pendidik dari berbagai jenjang, baik anggota KGSB maupun non KGSB. Diskusi dan pembelajaran ini mengajak kita melihat peran guru dari sudut pandang baru, bukan semata sebagai pengajar, namun juga komunikator pembelajaran. Pertanyaannya, jika kita adalah komunikator, sudahkah jelas apa pesan yang ingin kita sampaikan? Apa nilai unik yang kita bawa? Siapa sebenarnya “audiens” kita, dan apakah mereka merasa terhubung? Di sinilah tantangan sesungguhnya. Bukan sekadar menguasai teknologi, tetapi memahami bagaimana pesan kita bisa “sampai” dan “tinggal” dalam pikiran siswa. Founder KGSB Ruth Andriani, menegaskan bahwa peran guru kini meluas yaitu menjadi fasilitator, mentor, sekaligus motivator. Ketiganya membutuhkan kemampuan membaca kebutuhan siswa, membangun keterlibatan, dan menjaga konsistensi pesan. Tanpa itu, konten akan mudah lewat begitu saja, sebaik apapun medianya. Dari sisi praktis, EduCreator Fikri Suhardi mengingatkan pentingnya menemukan fokus atau niche. Bagi guru, ini bisa berarti kejelasan gaya mengajar, pendekatan, atau kekuatan materi. Tanpa fokus, pesan mudah kabur. Dengan fokus, dampak menjadi lebih terasa. Namun di titik ini, kita perlu jujur bertanya, apakah yang kita buat benar-benar menjawab kebutuhan siswa, atau sekadar mengikuti arus? Sementara itu, Head of Marketing Communications Mentari Group Bunga Mega menekankan bahwa konten edukatif yang tepat tidak hanya membantu pemahaman, tetapi juga membentuk karakter. Artinya, setiap materi yang kita bagikan, baik di kelas maupun di platform digital, ikut membangun cara berpikir siswa. Dalam kesempatan yang sama, Mentari Group juga memperkenalkan program Mentari National Awards for Educators (MNAE) 2026, sebuah ajang apresiasi berskala nasional untuk menjaring dan mengapresiasi guru serta kepala sekolah inspiratif sebagai agen perubahan di dunia pendidikan. Salah satu kategori pada ajang ini adalah Mentari EduCreator Award. Kategori ini terbuka bagi guru di seluruh Indonesia yang memanfaatkan platform digital untuk menjadi EduCreator dengan berbagi praktik pengajaran serta memberikan dampak dalam penguatan literasi, numerasi, dan pendidikan karakter. Pendaftaran program MNAE dibuka mulai 25 Februari hingga 29 Mei 2026. Selengkapnya informasi pendaftaran dapat diakses pada kanal www.mentarigroups.com/mnae. Antusiasme peserta webinar menunjukkan banyak guru mulai melihat peluang untuk memperluas dampak melalui media digital. Namun peluang ini datang bersama tanggung jawab yaitu menjaga kualitas, kredibilitas, dan tujuan pembelajaran tetap menjadi prioritas. Mungkin refleksi terpentingnya ada di sini, jika kita adalah EduCreator, maka “jejak” apa yang sedang kita bangun? Dan apakah yang kita bagikan hari ini benar-benar mendekatkan siswa pada versi terbaik dirinya?
Menjadi Kartini Masa Kini
Guru yang Menggerakkan Perubahan Sahabat Guru Hebat,Belum lama ini kita memperingati Hari Kartini (21 April). Sebuah momentum yang bukan sekadar mengenang sosok perempuan pejuang emansipasi, tetapi juga merefleksikan nilai-nilai perjuangan yang terus hidup hingga hari ini. Kartini bukan hanya tentang sejarah, melainkan tentang keberanian berpikir, keteguhan memperjuangkan pendidikan, dan keyakinan bahwa perubahan dimulai dari kesadaran. Sebagai pendidik, guru memegang peran yang sangat strategis dalam melanjutkan semangat Kartini. Jika dahulu Kartini memperjuangkan akses pendidikan bagi perempuan, hari ini kita melanjutkannya dengan memastikan setiap anak, tanpa terkecuali, mendapatkan kesempatan belajar yang bermakna, adil, dan memerdekakan. Nilai utama dari Hari Kartini yang relevan untuk kita renungkan adalah keberanian untuk berpikir kritis. Kartini berani mempertanyakan tradisi yang membatasi, sekaligus menawarkan gagasan baru yang membuka jalan perubahan. Dalam konteks pendidikan, hal ini menjadi panggilan bagi kita untuk tidak sekadar mengajar, tetapi juga membangun ruang dialog, mendorong rasa ingin tahu, dan menumbuhkan keberanian siswa untuk bertanya. Selain itu, Kartini juga mengajarkan tentang ketulusan dalam pengabdian. Perjuangannya lahir dari kepedulian yang mendalam terhadap sesama. Sahabat Guru Hebat,Setiap langkah kecil di kelas, setiap perhatian, setiap dorongan, dan setiap kesabaran adalah bagian dari pengabdian yang berdampak besar bagi masa depan generasi bangsa. Namun menjadi “Kartini masa kini” tidak selalu berarti harus melakukan hal besar. Justru sering kali dimulai dari hal sederhana. Seperti menciptakan suasana belajar yang aman, menghargai perbedaan, dan terus belajar untuk menjadi lebih baik. Di sinilah kekuatan seorang guru sejati. Yang tidak hanya mentransfer ilmu, tetapi juga menanamkan nilai dan membentuk karakter. Pertanyaannya, sejauh mana kita sudah menghidupkan nilai-nilai Kartini dalam praktik kita sehari-hari?Apakah kita sudah cukup berani untuk berinovasi?Apakah kita sudah cukup peka terhadap kebutuhan siswa?Atau justru masih terjebak dalam rutinitas yang membatasi potensi kita sebagai agen perubahan? Hari Kartini adalah undangan untuk berhenti sejenak, merenung, dan memperbarui niat.Karena sejatinya, perjuangan belum selesai.Ia berlanjut di ruang-ruang kelas, dalam interaksi kita dengan siswa, dan dalam komitmen kita untuk terus bertumbuh. Sahabat Guru Hebat,Mari kita lanjutkan semangat Kartini dengan cara kita, di tempat kita, untuk masa depan yang lebih cerah.
Harmonisasi Psikolog dan Guru BK dalam RUU Sisdiknas: Dari Simbolik ke Sistemik
Oleh: Juli Sugiati, M.Pd.Kepala SD Negeri Lenteng Agung 09 Pagi Niat pemerintah yang disampaikan oleh Ketua Komisi X DPR RI, Hetifah Sjaifudian, untuk memformalkan peran psikolog dalam RUU Sisdiknas patut diapresiasi sebagai langkah maju untuk memanusiakan sekolah. Namun, kita harus memastikan bahwa masuknya tenaga profesional ini tidak sekadar menjadi “aksesori” regulasi atau solusi instan di permukaan. Kesehatan mental bukanlah masalah yang bisa diselesaikan hanya dengan menambah personel di ruangan khusus, melainkan harus dimulai dari perbaikan ekosistem sekolah secara menyeluruh. Kita tentu sepakat bahwa sekolah adalah tempat menumbuhkan “ruh dan akal”. Namun demikian, hadirnya psikolog di sekolah jangan sampai membuat kita merasa bahwa tugas menjaga kesehatan mental anak hanya menjadi milik mereka. Di lapangan, kesehatan mental murid justru dimulai dari hal-hal sederhana: senyuman guru di gerbang sekolah dan ruang kelas yang aman tanpa perundungan. Karena itu, kebijakan ini harus dimaknai sebagai dukungan sistem agar guru tidak “sendirian” dalam menjaga kebahagiaan anak di sekolah. Regulasi ini juga perlu dipastikan benar-benar menyentuh aspek preventif, seperti menciptakan kurikulum yang tidak membebani mental serta lingkungan yang bebas dari kekerasan. Dengan demikian, sekolah dapat menjadi rumah yang nyaman bagi “ruh dan akal” setiap anak. Keberadaan psikolog pendidikan dalam undang-undang ini harus diletakkan dalam kerangka kolaborasi, bukan kompetisi atau penggantian peran Guru Bimbingan dan Konseling (BK). Di sekolah, kita telah memiliki Guru BK yang memahami keseharian murid secara dekat. Hadirnya psikolog pendidikan dalam aturan baru ini perlu diposisikan sebagai mitra ahli, bukan pengganti. RUU ini harus memperjelas pembagian peran: Guru BK sebagai pengelola kesejahteraan psikologis harian sekaligus pelaku deteksi dini, sementara psikolog berperan dalam penanganan kasus yang lebih klinis dan mendalam. Ibaratnya, Guru BK adalah “dokter umum” yang selalu siaga menemani keseharian dan curahan hati anak, sedangkan psikolog adalah “dokter spesialis” untuk menangani kasus yang lebih kompleks. Dengan pembagian ini, penanganan masalah anak dapat berlangsung lebih cepat, tepat, dan tidak membingungkan secara birokratis. Pada akhirnya, kesehatan mental merupakan tanggung jawab kolektif yang tidak dapat sepenuhnya didelegasikan kepada psikolog atau dibebankan kepada Guru BK saja. Kita memahami bahwa kondisi psikologis murid sangat dipengaruhi oleh cara guru kelas berinteraksi, serta bagaimana pimpinan sekolah mengambil kebijakan. Pernyataan bahwa “pendidikan adalah membangun ruh” menuntut komitmen semua pihak untuk meningkatkan literasi kesehatan mental. Karena itu, kita berharap RUU Sisdiknas tidak hanya berfokus pada pertanyaan “siapa yang bertugas”, tetapi juga pada “bagaimana sistem melindungi”. Setiap guru dan tenaga kependidikan perlu didukung agar tetap sehat secara mental, memiliki ruang untuk melakukan self-care, dan mampu menebarkan energi positif serta empati yang tulus dalam mendampingi tumbuh kembang murid.
Strategi Finansial Ramadan
Bijak Kelola THR dan Pengeluaran Lebaran Sahabat Guru Hebat, Memasuki pekan pertama Ramadan, ritme kehidupan perlahan berubah. Aktivitas mengajar tetap berjalan, tanggung jawab keluarga tetap menanti, sementara ruang ibadah terasa semakin luas. Di tengah kesibukan tersebut, Ramadan sesungguhnya menghadirkan kesempatan berharga untuk berhenti sejenak guna menata ulang arah hidup, termasuk cara kita mengelola rezeki. Bagi seorang guru, kondisi finansial bukan sekadar persoalan ekonomi pribadi. Stabilitas keuangan berpengaruh langsung pada ketenangan pikiran, kualitas kehadiran di kelas, serta kemampuan memberi perhatian yang utuh kepada peserta didik. Guru yang tenang secara batin akan lebih mudah menebarkan energi positif, kesabaran, dan kebijaksanaan. Karena itu, mengatur keuangan selama Ramadan bukan tindakan duniawi semata, melainkan bagian dari menjaga keberlangsungan peran mulia sebagai pendidik. Mengapa Ramadan Rentan Secara Finansial? Bulan Ramadan membawa perubahan ritme kehidupan yang hampir menyentuh seluruh aspek keseharian, termasuk pola pengeluaran. Tanpa disadari, kebutuhan finansial biasanya meningkat seiring perubahan aktivitas dan suasana batin yang khas di bulan suci ini. Perubahan pertama muncul dari pola konsumsi. Jadwal makan yang bergeser membuat banyak keluarga lebih sering membeli takjil, menghadiri buka bersama, atau memilih makanan praktis karena energi fisik yang menurun setelah beraktivitas seharian. Pengeluaran kecil yang terasa ringan setiap hari perlahan dapat terakumulasi menjadi jumlah yang signifikan. Di saat yang sama, Ramadan menumbuhkan semangat berbagi yang semakin kuat. Keinginan menunaikan zakat, memperbanyak sedekah, serta membantu keluarga dan lingkungan sekitar menjadi bagian indah dari ibadah sosial. Nilai ini menghadirkan keberkahan, namun tetap membutuhkan perencanaan agar kebaikan dapat dilakukan tanpa menimbulkan tekanan finansial di kemudian hari. Menjelang akhir Ramadan, perhatian mulai tertuju pada persiapan Lebaran. Pembelian pakaian baru, pengiriman hampers, rencana mudik, hingga kebutuhan menjamu tamu hadir hampir bersamaan. Perpaduan antara tradisi, kebahagiaan, dan dorongan emosional sering membuat pengeluaran meningkat lebih cepat dari yang direncanakan. Ramadan akhirnya menjadi periode yang sensitif secara finansial—bukan karena rezeki berkurang, tetapi karena banyak kebutuhan datang dalam waktu yang sama. Kesadaran inilah yang menjadi langkah awal menuju pengelolaan yang lebih bijak. Mengapa Guru Perlu Mengatur Keuangan Selama Ramadan? Guru adalah profesi yang setiap hari memberi. Memberi ilmu, perhatian, kesabaran, bahkan sering kali dukungan personal kepada siswa dan lingkungan sekolah. Tanpa disadari, peran memberi ini juga membutuhkan fondasi finansial yang sehat. Ketika kondisi keuangan tidak stabil, beban mental mudah meningkat. Konsentrasi terganggu, energi emosional terkuras, dan ruang refleksi spiritual menjadi lebih sempit. Sebaliknya, stabilitas finansial membantu guru menjalani Ramadan dengan hati yang lebih lapang—tenang dalam ibadah, fokus dalam mengajar, dan bijak dalam berbagi. Ramadan mengajarkan pengendalian diri. Bukan hanya menahan lapar dan emosi, tetapi juga menahan dorongan konsumsi berlebih. Mengelola keuangan dengan sadar adalah bentuk praktik nyata dari nilai puasa itu sendiri. Strategi 4 Pos Keuangan Ramadan Agar pengelolaan lebih sederhana, Sahabat Guru Hebat dapat membagi keuangan Ramadan ke dalam empat pos utama. 1. Kebutuhan Harian (±50%) Ramadan mengajarkan kesederhanaan, bukan peningkatan konsumsi. Karena itu, alokasikan anggaran untuk sahur dan berbuka secukupnya. Jangan lupa, transportasi serta tagihan rutin. 2. Pos Ibadah & Berbagi (±20%) Sejak awal, sisihkan alokasi anggaran untuk zakat, infak, sedekah dan bantuan sosial. Memberi akan terasa ringan ketika direncanakan, bukan diberikan dari sisa pengeluaran. 3. Dana Lebaran (±20%) Mulai sejak pekan pertama Ramadan, Sahabat Guru Hebat bisa mengalokasikan anggaran untuk pakaian Lebaran, hampers, kebutuhan keluarga dan perjalanan mudik. Persiapan secara bertahap akan membantu menghindari keputusan belanja yang emosional di akhir bulan Ramadan. 4. Dana Pasca Lebaran (±10%) Komponen ini seringkali terabaikan, padahal inilah yang menjaga ketenangan ketika aktivitas sekolah kembali normal setelah libur panjang. Mengelola THR dengan Bijak Tunjangan Hari Raya sering dipersepsikan sebagai tambahan untuk dibelanjakan. Padahal, THR dapat menjadi momentum memperkuat fondasi finansial tahunan. Sebagian dapat dialokasikan untuk tabungan atau dana darurat, sebagian untuk kewajiban keluarga dan sosial, sebagian untuk kebutuhan Lebaran, dan sisanya sebagai bentuk penghargaan bagi diri sendiri. Ketika THR dikelola dengan sadar, manfaatnya akan terasa jauh melampaui Hari Raya. Tips Praktis di Pekan Pertama Ramadan Mulailah dengan membuat daftar kebutuhan Lebaran sejak awal. Tentukan batas anggaran sebelum terpapar berbagai promo musiman. Biasakan menunda pembelian non-prioritas selama beberapa hari agar keputusan tetap rasional. Yang paling penting, bedakan antara kebutuhan yang membawa ketenangan dan keinginan yang muncul karena tekanan sosial. Ramadhan sejatinya mengajarkan rasa cukup. Sahabat Guru Hebat, Ramadan bukan hanya perjalanan spiritual, tetapi juga latihan kehidupan. Bagi seorang guru, setiap keputusan-termasuk keputusan finansial, menjadi bagian dari teladan yang dilihat oleh murid dan keluarga. Semoga ketika Syawal tiba, yang tersisa bukan kelelahan, melainkan rasa syukur. Bukan kecemasan finansial, tetapi ketenangan hati karena Ramadan dijalani dengan sadar, seimbang, dan penuh keberkahan. Selamat menjalani Ramadan, Sahabat Guru Hebat.Mari terus bertumbuh bersama dalam iman, ilmu, dan kebijaksanaan mengelola amanah rezeki
