Sahabat Guru Hebat, Perubahan digital bukan hanya mengubah cara siswa belajar, tetapi juga cara kita, sebagai guru, menyampaikan makna. Hari ini, mengajar tidak lagi cukup berhenti di kelas. Kita ditantang untuk mengemas pembelajaran agar relevan, menarik, dan benar-benar berdampak, sebuah pendekatan yang, disadari atau tidak, semakin dekat dengan cara kerja dunia komunikasi. Semangat inilah yang terasa dalam webinar kolaborasi Komunitas Guru Satkaara Berbagi (KGSB) dan Mentari Group pada 2 Mei 2026. Mengusung tema “Guru sebagai EduCreator”, kegiatan tersebut diikuti ratusan pendidik dari berbagai jenjang, baik anggota KGSB maupun non KGSB. Diskusi dan pembelajaran ini mengajak kita melihat peran guru dari sudut pandang baru, bukan semata sebagai pengajar, namun juga komunikator pembelajaran. Pertanyaannya, jika kita adalah komunikator, sudahkah jelas apa pesan yang ingin kita sampaikan? Apa nilai unik yang kita bawa? Siapa sebenarnya “audiens” kita, dan apakah mereka merasa terhubung? Di sinilah tantangan sesungguhnya. Bukan sekadar menguasai teknologi, tetapi memahami bagaimana pesan kita bisa “sampai” dan “tinggal” dalam pikiran siswa. Founder KGSB Ruth Andriani, menegaskan bahwa peran guru kini meluas yaitu menjadi fasilitator, mentor, sekaligus motivator. Ketiganya membutuhkan kemampuan membaca kebutuhan siswa, membangun keterlibatan, dan menjaga konsistensi pesan. Tanpa itu, konten akan mudah lewat begitu saja, sebaik apapun medianya. Dari sisi praktis, EduCreator Fikri Suhardi mengingatkan pentingnya menemukan fokus atau niche. Bagi guru, ini bisa berarti kejelasan gaya mengajar, pendekatan, atau kekuatan materi. Tanpa fokus, pesan mudah kabur. Dengan fokus, dampak menjadi lebih terasa. Namun di titik ini, kita perlu jujur bertanya, apakah yang kita buat benar-benar menjawab kebutuhan siswa, atau sekadar mengikuti arus? Sementara itu, Head of Marketing Communications Mentari Group Bunga Mega menekankan bahwa konten edukatif yang tepat tidak hanya membantu pemahaman, tetapi juga membentuk karakter. Artinya, setiap materi yang kita bagikan, baik di kelas maupun di platform digital, ikut membangun cara berpikir siswa. Dalam kesempatan yang sama, Mentari Group juga memperkenalkan program Mentari National Awards for Educators (MNAE) 2026, sebuah ajang apresiasi berskala nasional untuk menjaring dan mengapresiasi guru serta kepala sekolah inspiratif sebagai agen perubahan di dunia pendidikan. Salah satu kategori pada ajang ini adalah Mentari EduCreator Award. Kategori ini terbuka bagi guru di seluruh Indonesia yang memanfaatkan platform digital untuk menjadi EduCreator dengan berbagi praktik pengajaran serta memberikan dampak dalam penguatan literasi, numerasi, dan pendidikan karakter. Pendaftaran program MNAE dibuka mulai 25 Februari hingga 29 Mei 2026. Selengkapnya informasi pendaftaran dapat diakses pada kanal www.mentarigroups.com/mnae. Antusiasme peserta webinar menunjukkan banyak guru mulai melihat peluang untuk memperluas dampak melalui media digital. Namun peluang ini datang bersama tanggung jawab yaitu menjaga kualitas, kredibilitas, dan tujuan pembelajaran tetap menjadi prioritas. Mungkin refleksi terpentingnya ada di sini, jika kita adalah EduCreator, maka “jejak” apa yang sedang kita bangun? Dan apakah yang kita bagikan hari ini benar-benar mendekatkan siswa pada versi terbaik dirinya?
Menjadi Kartini Masa Kini
Guru yang Menggerakkan Perubahan Sahabat Guru Hebat,Belum lama ini kita memperingati Hari Kartini (21 April). Sebuah momentum yang bukan sekadar mengenang sosok perempuan pejuang emansipasi, tetapi juga merefleksikan nilai-nilai perjuangan yang terus hidup hingga hari ini. Kartini bukan hanya tentang sejarah, melainkan tentang keberanian berpikir, keteguhan memperjuangkan pendidikan, dan keyakinan bahwa perubahan dimulai dari kesadaran. Sebagai pendidik, guru memegang peran yang sangat strategis dalam melanjutkan semangat Kartini. Jika dahulu Kartini memperjuangkan akses pendidikan bagi perempuan, hari ini kita melanjutkannya dengan memastikan setiap anak, tanpa terkecuali, mendapatkan kesempatan belajar yang bermakna, adil, dan memerdekakan. Nilai utama dari Hari Kartini yang relevan untuk kita renungkan adalah keberanian untuk berpikir kritis. Kartini berani mempertanyakan tradisi yang membatasi, sekaligus menawarkan gagasan baru yang membuka jalan perubahan. Dalam konteks pendidikan, hal ini menjadi panggilan bagi kita untuk tidak sekadar mengajar, tetapi juga membangun ruang dialog, mendorong rasa ingin tahu, dan menumbuhkan keberanian siswa untuk bertanya. Selain itu, Kartini juga mengajarkan tentang ketulusan dalam pengabdian. Perjuangannya lahir dari kepedulian yang mendalam terhadap sesama. Sahabat Guru Hebat,Setiap langkah kecil di kelas, setiap perhatian, setiap dorongan, dan setiap kesabaran adalah bagian dari pengabdian yang berdampak besar bagi masa depan generasi bangsa. Namun menjadi “Kartini masa kini” tidak selalu berarti harus melakukan hal besar. Justru sering kali dimulai dari hal sederhana. Seperti menciptakan suasana belajar yang aman, menghargai perbedaan, dan terus belajar untuk menjadi lebih baik. Di sinilah kekuatan seorang guru sejati. Yang tidak hanya mentransfer ilmu, tetapi juga menanamkan nilai dan membentuk karakter. Pertanyaannya, sejauh mana kita sudah menghidupkan nilai-nilai Kartini dalam praktik kita sehari-hari?Apakah kita sudah cukup berani untuk berinovasi?Apakah kita sudah cukup peka terhadap kebutuhan siswa?Atau justru masih terjebak dalam rutinitas yang membatasi potensi kita sebagai agen perubahan? Hari Kartini adalah undangan untuk berhenti sejenak, merenung, dan memperbarui niat.Karena sejatinya, perjuangan belum selesai.Ia berlanjut di ruang-ruang kelas, dalam interaksi kita dengan siswa, dan dalam komitmen kita untuk terus bertumbuh. Sahabat Guru Hebat,Mari kita lanjutkan semangat Kartini dengan cara kita, di tempat kita, untuk masa depan yang lebih cerah.
Harmonisasi Psikolog dan Guru BK dalam RUU Sisdiknas: Dari Simbolik ke Sistemik
Oleh: Juli Sugiati, M.Pd.Kepala SD Negeri Lenteng Agung 09 Pagi Niat pemerintah yang disampaikan oleh Ketua Komisi X DPR RI, Hetifah Sjaifudian, untuk memformalkan peran psikolog dalam RUU Sisdiknas patut diapresiasi sebagai langkah maju untuk memanusiakan sekolah. Namun, kita harus memastikan bahwa masuknya tenaga profesional ini tidak sekadar menjadi “aksesori” regulasi atau solusi instan di permukaan. Kesehatan mental bukanlah masalah yang bisa diselesaikan hanya dengan menambah personel di ruangan khusus, melainkan harus dimulai dari perbaikan ekosistem sekolah secara menyeluruh. Kita tentu sepakat bahwa sekolah adalah tempat menumbuhkan “ruh dan akal”. Namun demikian, hadirnya psikolog di sekolah jangan sampai membuat kita merasa bahwa tugas menjaga kesehatan mental anak hanya menjadi milik mereka. Di lapangan, kesehatan mental murid justru dimulai dari hal-hal sederhana: senyuman guru di gerbang sekolah dan ruang kelas yang aman tanpa perundungan. Karena itu, kebijakan ini harus dimaknai sebagai dukungan sistem agar guru tidak “sendirian” dalam menjaga kebahagiaan anak di sekolah. Regulasi ini juga perlu dipastikan benar-benar menyentuh aspek preventif, seperti menciptakan kurikulum yang tidak membebani mental serta lingkungan yang bebas dari kekerasan. Dengan demikian, sekolah dapat menjadi rumah yang nyaman bagi “ruh dan akal” setiap anak. Keberadaan psikolog pendidikan dalam undang-undang ini harus diletakkan dalam kerangka kolaborasi, bukan kompetisi atau penggantian peran Guru Bimbingan dan Konseling (BK). Di sekolah, kita telah memiliki Guru BK yang memahami keseharian murid secara dekat. Hadirnya psikolog pendidikan dalam aturan baru ini perlu diposisikan sebagai mitra ahli, bukan pengganti. RUU ini harus memperjelas pembagian peran: Guru BK sebagai pengelola kesejahteraan psikologis harian sekaligus pelaku deteksi dini, sementara psikolog berperan dalam penanganan kasus yang lebih klinis dan mendalam. Ibaratnya, Guru BK adalah “dokter umum” yang selalu siaga menemani keseharian dan curahan hati anak, sedangkan psikolog adalah “dokter spesialis” untuk menangani kasus yang lebih kompleks. Dengan pembagian ini, penanganan masalah anak dapat berlangsung lebih cepat, tepat, dan tidak membingungkan secara birokratis. Pada akhirnya, kesehatan mental merupakan tanggung jawab kolektif yang tidak dapat sepenuhnya didelegasikan kepada psikolog atau dibebankan kepada Guru BK saja. Kita memahami bahwa kondisi psikologis murid sangat dipengaruhi oleh cara guru kelas berinteraksi, serta bagaimana pimpinan sekolah mengambil kebijakan. Pernyataan bahwa “pendidikan adalah membangun ruh” menuntut komitmen semua pihak untuk meningkatkan literasi kesehatan mental. Karena itu, kita berharap RUU Sisdiknas tidak hanya berfokus pada pertanyaan “siapa yang bertugas”, tetapi juga pada “bagaimana sistem melindungi”. Setiap guru dan tenaga kependidikan perlu didukung agar tetap sehat secara mental, memiliki ruang untuk melakukan self-care, dan mampu menebarkan energi positif serta empati yang tulus dalam mendampingi tumbuh kembang murid.
Strategi Finansial Ramadan
Bijak Kelola THR dan Pengeluaran Lebaran Sahabat Guru Hebat, Memasuki pekan pertama Ramadan, ritme kehidupan perlahan berubah. Aktivitas mengajar tetap berjalan, tanggung jawab keluarga tetap menanti, sementara ruang ibadah terasa semakin luas. Di tengah kesibukan tersebut, Ramadan sesungguhnya menghadirkan kesempatan berharga untuk berhenti sejenak guna menata ulang arah hidup, termasuk cara kita mengelola rezeki. Bagi seorang guru, kondisi finansial bukan sekadar persoalan ekonomi pribadi. Stabilitas keuangan berpengaruh langsung pada ketenangan pikiran, kualitas kehadiran di kelas, serta kemampuan memberi perhatian yang utuh kepada peserta didik. Guru yang tenang secara batin akan lebih mudah menebarkan energi positif, kesabaran, dan kebijaksanaan. Karena itu, mengatur keuangan selama Ramadan bukan tindakan duniawi semata, melainkan bagian dari menjaga keberlangsungan peran mulia sebagai pendidik. Mengapa Ramadan Rentan Secara Finansial? Bulan Ramadan membawa perubahan ritme kehidupan yang hampir menyentuh seluruh aspek keseharian, termasuk pola pengeluaran. Tanpa disadari, kebutuhan finansial biasanya meningkat seiring perubahan aktivitas dan suasana batin yang khas di bulan suci ini. Perubahan pertama muncul dari pola konsumsi. Jadwal makan yang bergeser membuat banyak keluarga lebih sering membeli takjil, menghadiri buka bersama, atau memilih makanan praktis karena energi fisik yang menurun setelah beraktivitas seharian. Pengeluaran kecil yang terasa ringan setiap hari perlahan dapat terakumulasi menjadi jumlah yang signifikan. Di saat yang sama, Ramadan menumbuhkan semangat berbagi yang semakin kuat. Keinginan menunaikan zakat, memperbanyak sedekah, serta membantu keluarga dan lingkungan sekitar menjadi bagian indah dari ibadah sosial. Nilai ini menghadirkan keberkahan, namun tetap membutuhkan perencanaan agar kebaikan dapat dilakukan tanpa menimbulkan tekanan finansial di kemudian hari. Menjelang akhir Ramadan, perhatian mulai tertuju pada persiapan Lebaran. Pembelian pakaian baru, pengiriman hampers, rencana mudik, hingga kebutuhan menjamu tamu hadir hampir bersamaan. Perpaduan antara tradisi, kebahagiaan, dan dorongan emosional sering membuat pengeluaran meningkat lebih cepat dari yang direncanakan. Ramadan akhirnya menjadi periode yang sensitif secara finansial—bukan karena rezeki berkurang, tetapi karena banyak kebutuhan datang dalam waktu yang sama. Kesadaran inilah yang menjadi langkah awal menuju pengelolaan yang lebih bijak. Mengapa Guru Perlu Mengatur Keuangan Selama Ramadan? Guru adalah profesi yang setiap hari memberi. Memberi ilmu, perhatian, kesabaran, bahkan sering kali dukungan personal kepada siswa dan lingkungan sekolah. Tanpa disadari, peran memberi ini juga membutuhkan fondasi finansial yang sehat. Ketika kondisi keuangan tidak stabil, beban mental mudah meningkat. Konsentrasi terganggu, energi emosional terkuras, dan ruang refleksi spiritual menjadi lebih sempit. Sebaliknya, stabilitas finansial membantu guru menjalani Ramadan dengan hati yang lebih lapang—tenang dalam ibadah, fokus dalam mengajar, dan bijak dalam berbagi. Ramadan mengajarkan pengendalian diri. Bukan hanya menahan lapar dan emosi, tetapi juga menahan dorongan konsumsi berlebih. Mengelola keuangan dengan sadar adalah bentuk praktik nyata dari nilai puasa itu sendiri. Strategi 4 Pos Keuangan Ramadan Agar pengelolaan lebih sederhana, Sahabat Guru Hebat dapat membagi keuangan Ramadan ke dalam empat pos utama. 1. Kebutuhan Harian (±50%) Ramadan mengajarkan kesederhanaan, bukan peningkatan konsumsi. Karena itu, alokasikan anggaran untuk sahur dan berbuka secukupnya. Jangan lupa, transportasi serta tagihan rutin. 2. Pos Ibadah & Berbagi (±20%) Sejak awal, sisihkan alokasi anggaran untuk zakat, infak, sedekah dan bantuan sosial. Memberi akan terasa ringan ketika direncanakan, bukan diberikan dari sisa pengeluaran. 3. Dana Lebaran (±20%) Mulai sejak pekan pertama Ramadan, Sahabat Guru Hebat bisa mengalokasikan anggaran untuk pakaian Lebaran, hampers, kebutuhan keluarga dan perjalanan mudik. Persiapan secara bertahap akan membantu menghindari keputusan belanja yang emosional di akhir bulan Ramadan. 4. Dana Pasca Lebaran (±10%) Komponen ini seringkali terabaikan, padahal inilah yang menjaga ketenangan ketika aktivitas sekolah kembali normal setelah libur panjang. Mengelola THR dengan Bijak Tunjangan Hari Raya sering dipersepsikan sebagai tambahan untuk dibelanjakan. Padahal, THR dapat menjadi momentum memperkuat fondasi finansial tahunan. Sebagian dapat dialokasikan untuk tabungan atau dana darurat, sebagian untuk kewajiban keluarga dan sosial, sebagian untuk kebutuhan Lebaran, dan sisanya sebagai bentuk penghargaan bagi diri sendiri. Ketika THR dikelola dengan sadar, manfaatnya akan terasa jauh melampaui Hari Raya. Tips Praktis di Pekan Pertama Ramadan Mulailah dengan membuat daftar kebutuhan Lebaran sejak awal. Tentukan batas anggaran sebelum terpapar berbagai promo musiman. Biasakan menunda pembelian non-prioritas selama beberapa hari agar keputusan tetap rasional. Yang paling penting, bedakan antara kebutuhan yang membawa ketenangan dan keinginan yang muncul karena tekanan sosial. Ramadhan sejatinya mengajarkan rasa cukup. Sahabat Guru Hebat, Ramadan bukan hanya perjalanan spiritual, tetapi juga latihan kehidupan. Bagi seorang guru, setiap keputusan-termasuk keputusan finansial, menjadi bagian dari teladan yang dilihat oleh murid dan keluarga. Semoga ketika Syawal tiba, yang tersisa bukan kelelahan, melainkan rasa syukur. Bukan kecemasan finansial, tetapi ketenangan hati karena Ramadan dijalani dengan sadar, seimbang, dan penuh keberkahan. Selamat menjalani Ramadan, Sahabat Guru Hebat.Mari terus bertumbuh bersama dalam iman, ilmu, dan kebijaksanaan mengelola amanah rezeki
Inspirasi Program Ramadan yang Bermakna untuk Guru & Siswa
Sahabat Guru Hebat,Ramadan di sekolah sering hadir sebagai rangkaian agenda yang terasa akrab: pesantren kilat, lomba-lomba, pembagian takjil, buka puasa bersama, dan berbagai kegiatan serupa. Semua itu baik, bernilai, dan patut diapresiasi. Namun, ada pertanyaan yang layak kita renungkan bersama adalah, apakah rangkaian kegiatan tersebut sungguh membentuk jiwa siswa—dan tentu juga jiwa guru, atau sekadar mengisi kalender sekolah? Sebagai guru, Ramadan sejatinya bisa kita posisikan lebih dalam lagi. Bukan sekadar momentum kegiatan, melainkan ruang pedagogi batin yaitu ruang pembelajaran karakter yang terstruktur, konsisten, dan berbekas setelah Ramadan berlalu. Kalender sekolah bukan hambatan, melainkan alur desain pengalaman. Dengan memaknainya sebagai “alur cerita pendidikan Ramadan”, kita dapat merancang pengalaman belajar yang bertahap. Mulai dari menata niat, mempraktikkan nilai, lalu menjaga keberlanjutannya. Bagaimana praktiknya? Berikut kerangka praktis program Ramadan berbasis fase kalender sekolah yang bisa diterapkan. Fase 1 — Awal Ramadan (KBM Masih Relatif Normal) Pada fase awal Ramadan, ketika kegiatan belajar mengajar masih relatif normal, ruang yang perlu kita buka adalah orientasi makna dan penataan niat. Di fase ini, guru dan siswa diajak menyelaraskan kembali niat belajar-mengajar sebagai ibadah, sekaligus menata ekspektasi Ramadan agar realistis namun tetap bermakna. Bagi siswa, kebiasaan sederhana seperti menulis jurnal niat 30 hari —yakni satu niat kecil yang dijaga konsistensinya, dapat menjadi latihan karakter yang nyata. Misalnya jujur saat tugas, menata emosi di kelas, membantu teman. Tantangan mikro-perilaku harian, misalnya satu kebaikan konkret per hari, akan membantu mereka mempraktikkan nilai tanpa beban kompetisi. Nilai tantangan ini berujung pada skor, tapi refleksi singkat di akhir pekan. Bagi guru, Ramadan dapat dimulai dengan kontrak batin mengajar. Guru dapat memilih satu kebiasaan profesional yang ingin diperbaiki selama bulan suci seperti ketepatan waktu, bahasa yang lebih empatik, atau memberi umpan balik yang lebih bermakna. Ritual hening singkat sebelum masuk kelas seperti doa personal, meski hanya lima menit, sering kali berdampak besar pada kualitas kehadiran batin. Jika fase ini berjalan baik, tanda-tandanya akan terasa. Suasana kelas akan lebih tenang dan interaksi lebih tertib, meski beban akademik tetap berjalan. Fase 2 — Pertengahan Ramadan (Program Khusus/Pesantren Kilat) Memasuki pertengahan Ramadan, ketika sekolah biasanya mengadakan program khusus atau pesantren kilat, fokus dapat digeser dari sekadar “mengetahui” menuju mempraktikkan nilai dan mengalami pengalaman sosial nyata.Siswa dapat diajak mengerjakan proyek amal berbasis masalah di sekitar mereka, dengan kegiatan yang bukan sekadar berbagi, tetapi memahami kebutuhan riil lingkungan terdekat. Wawancara sederhana dengan profesi yang tetap bekerja saat Ramadan, seperti petugas kebersihan, marbot masjid, Satpam, perawat, akan membuka mata mereka tentang nilai ketekunan dan amanah. Bagi guru, fase ini bisa dimanfaatkan sebagai ruang saling belajar. Semacam klinik refleksi praktik mengajar untuk membahas dilema nyata di kelas selama Ramadan seperti kelelahan siswa atau disiplin saat puasa. Bisa juga untuk observasi singkat antar-guru dengan umpan balik yang spesifik dan solutif. Indikator keberhasilannya bukan sekadar dilihat dari dokumentasi kegiatan, melainkan refleksi tertulis dan dampak yang terasa di luar pagar sekolah. Fase 3 — Akhir Ramadan (Menjelang Libur & Idulfitri) Menjelang akhir Ramadan, perhatian perlu diarahkan pada integrasi nilai dan komitmen pasca-Ramadan. Di sinilah “puncak spiritual” dijembatani dengan keberlanjutan karakter.Siswa dapat menulis surat untuk diri mereka sendiri tentang satu kebiasaan baik yang ingin dijaga setelah libur. Surat disimpan wali kelas dan dikembalikan 2–3 minggu setelah masuk sekolah. Forum apresiasi karakter akan membantu menegaskan perubahan perilaku nyata yang terjadi selama Ramadan. Bagi guru, memilih satu praktik baik yang akan dipertahankan pasca-Ramadan—entah refleksi singkat di akhir pelajaran atau umpan balik yang lebih personal, bisa menjadi langkah konkret untuk menjaga keberlanjutan. Refleksi bersama dalam komunitas KGSB dapat menghimpun praktik-praktik berdampak lintas sekolah, sehingga yang dibagikan bukan sekadar daftar kegiatan, melainkan pembelajaran yang hidup. Indikator keberhasilannya bisa dilihat dari komitmen tertulis dan mekanisme tindak lanjut setelah libur. Sahabat Guru Hebat,Agar semua ikhtiar ini tidak jatuh menjadi seremonial, ada beberapa prinsip desain yang layak kita jaga bersama. Kebiasaan kecil yang konsisten selama 30 hari bisa lebih membentuk karakter daripada satu event besar. Setiap aktivitas perlu ditutup dengan refleksi singkat agar nilai tidak berhenti di permukaan. Guru berperan sebagai teladan operasional yang bukan hanya mengarahkan, tetapi memperlihatkan praktik nyata. Dampak diukur dari perubahan perilaku, bukan jumlah kegiatan. Dan yang tak kalah penting, setiap program dirancang dengan satu kebiasaan yang bisa bertahan setelah Ramadan. Jika Ramadan di sekolah hanya dipahami sebagai kalender program, dampaknya akan berhenti di dokumentasi. Namun jika kita memaknainya sebagai kurikulum batin, dampaknya akan merembes ke cara guru hadir di kelas dan cara siswa memaknai belajar. Di titik inilah KGSB memiliki posisi strategis. Komunitas kesayangan ini bukan sekadar perkumpulan untuk berbagi agenda, melainkan komunitas bertumbuh yang merawat kedalaman makna di balik setiap aktivitas. Ramadan menjadi momentum desain ulang: dari yang ramai di permukaan, menuju yang kuat di fondasi. Selamat menunaikan ibadah puasa bagi Sahabat Guru Hebat yang menjalankan.Semoga Allah menerima amal ibadah kita, melapangkan langkah dalam mendidik, menguatkan niat dalam setiap lelah, dan menumbuhkan keberkahan pada ilmu yang dibagikan.Semoga Ramadan ini menjadi ruang bertumbuh bagi jiwa pendidik dan jiwa-jiwa yang dididik. Aamiin.
KGSB dan Politeknik Tempo Gelar Webinar Cek Fakta
Menyiapkan Generasi Emas Anti Hoaks Komunitas Guru Satkaara Berbagi (KGSB) bekerja sama dengan Politeknik Tempo menyelenggarakan Webinar Cek Fakta bertajuk “Sinergi Guru KGSB dan KORSTE dalam Menjaga Integritas Informasi di Sekolah” melalui Zoom Meeting. Kegiatan ini diikuti oleh anggota KGSB sebagai upaya memperkuat peran guru dalam menghadapi banjir hoaks di era media sosial. Dalam pemaparannya, Ariadne Khatarina Moniaga dan Richard Kannedy dari komunitas cek fakta KORSTE Politeknik Tempo menegaskan bahwa jurnalisme pada dasarnya adalah proses verifikasi informasi menjadi berita. Artinya, sebuah informasi tidak layak disebut “berita” sebelum melewati proses pengecekan fakta yang sistematis, kontekstual, dan berbasis bukti. Narasumber menekankan bahwa menentukan “fakta” tidak selalu sederhana, karena bergantung pada konteks, definisi istilah, serta kualitas sumber rujukan. Di sinilah peran guru menjadi krusial. Ia harus mampu membiasakan siswa berpikir presisi, bukan reaktif. Dalam sesi praktik, peserta dikenalkan pada berbagai tools cek fakta yang digunakan tim KORSTE serta peran AI dalam membantu penelusuran gambar, lokasi, dan konteks visual. Melalui sebuah games , peserta diajak berlatih menguji keaslian konten visual yang sering dimanipulasi di media sosial. Namun, narasumber menegaskan bahwa AI hanyalah alat bantu, bukan pengganti nalar kritis. Interpretasi akhir tetap harus dilakukan manusia dengan mempertimbangkan konteks dan etika. Guru sebagai Benteng Integritas Informasi Melalui webinar ini, KGSB dan Politeknik Tempo menegaskan bahwa guru bukan sekadar pengajar materi pelajaran, tetapi penjaga integritas informasi di sekolah. Dengan membekali diri pada konsep-konsep yang diajarkan dalam webinar tersebut, serta penguasaan literasi digital, guru diharapkan mampu menjadi sumber informasi yang kredibel serta menumbuhkan budaya berpikir kritis pada siswa. Selain itu juga mampu membentengi sekolah dari infiltrasi hoaks yang merusak nalar dan karakter
Menapaki Tahun Baru dengan Sikap Konstruktif
Tahun 2026 hadir setelah 2025 menguji banyak hal dalam dunia pendidikan. Di tengah tantangan yang berlanjut, KGSB memilih untuk tetap konstruktif. Merawat akal sehat, menjaga etika, dan melanjutkan kerja bersama yang bermakna
Menumbuhkan Empati Anak Didik di Tengah Banyaknya Bencana
Bencana dapat menjadi ruang belajar empati ketika sekolah mengarahkan kepedulian anak untuk diwujudkan dalam aksi nyata.
KGSB 4 Tahun
KGSB 4 tahun – merayakan sikap konstruktif para guru yang terus membangun nilai di tengah tantangan pendidikan yang tidak mudah. Langkah kecil yang dijalani bersama menjadi arah kolektif untuk tumbuh, bertahan, dan memberikan dampak yang bermakna.
“Ruang Kosong di Rumah Megah”
Anak itu bukan bermasalah. Ia hanya sedang berkata pelan,”Ada ruang kosong di diri saya. Tolong jangan biarkan tetap kosong.”
