Sinergi Membangun Generasi Berkarakter Komunitas Guru Satkaara Berbagi (KGSB) bersama Universitas Maranatha, Bandung, menyelenggarakan webinar bertajuk “Good Parenting – No Bullying”. Acara yang berlangsung pada Minggu (13/1/2025) sore ini mengangkat isu krusial tentang pola asuh, bullying, dan pentingnya peran lingkungan sekolah dalam membentuk karakter generasi muda. Webinar menghadirkan tiga narasumber berpengalaman. Masing-masing adalah Skidderwati Pasaribu, S.H., yang membahas fenomena bullying dan dasar hukum yang melindungi korban serta pelaku di bawah pendekatan keadilan restoratif. Lalu Celerina Asri, S.Pd., yang menyoroti peran lingkungan sekolah dalam mendukung pembentukan karakter remaja melalui rasa aman, kebersamaan, komunikasi terbuka, dan apresiasi positif. Serta Ruth G. K. Winarno, S.Psi., Psikolog dan anggota KGSB, yang menjelaskan pola asuh efektif untuk membentuk karakter kuat pada remaja. Webinar ini diikuti oleh lebih dari 60 peserta anggota KGSB serta para mahasiswa S2 Psikologi Universitas Maranatha. Para peserta mendapatkan pemahaman yang mendalam tentang pentingnya sinergi antara keluarga, sekolah, dan masyarakat dalam membangun generasi muda yang berkarakter. Dalam paparannya, Skidderwati Pasaribu menekankan bahwa bullying merupakan perilaku agresif yang dilakukan secara sengaja dan berulang, dengan dampak serius pada korban, seperti stres, depresi, hingga keinginan bunuh diri. Ia juga menguraikan payung hukum Indonesia yang mendukung perlindungan anak, seperti UU No. 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak serta UU Sistem Peradilan Pidana Anak (SPPA) yang mendukung pendekatan keadilan restoratif untuk memulihkan hubungan korban dan pelaku. Ruth Winarno menambahkan pentingnya peran pola asuh dalam membentuk karakter anak. Ia menjelaskan empat tipe pola asuh berdasarkan teori Baumrind, yaitu otoriter, permisif, tidak terlibat, dan otoritatif. “Pola asuh otoritatif yang seimbang antara disiplin dan kebebasan sangat efektif dalam membangun karakter anak yang mandiri, jujur, dan penuh tanggung jawab,” ujarnya. Ia juga menekankan pentingnya penanaman sembilan karakter utama pada anak, seperti cinta Tuhan, tanggung jawab, jujur, dan toleransi. Peran orang tua dalam hal ini, adalah menjadi teladan, membimbing anak mendekatkan diri pada Tuhan, serta membantu menemukan potensi anak untuk dikembangkan. Sementara Celerina Asri memaparkan bahwa sekolah sebagai lingkungan kedua setelah keluarga harus bisa menciptakan rasa aman, kebersamaan, dan komunikasi yang terbuka untuk membantu remaja mengembangkan karakter positif. “Lingkungan sekolah yang sehat adalah fondasi penting untuk mengurangi risiko bullying dan meningkatkan hubungan sosial yang sehat,” jelasnya. Menurut teori Bronfenbrenner dan Maslow, lingkungan sekolah yang sehat menjadi fondasi penting dalam mengurangi risiko bullying dan membangun hubungan sosial yang positif. Program seperti pendidikan karakter, pelatihan empati, dan sistem pelaporan yang aman menjadi solusi efektif dalam mencegah bullying. Acara diakhiri dengan sesi tanya jawab interaktif yang memberikan ruang bagi peserta untuk berbagi pengalaman dan mendapatkan solusi praktis dari para narasumber. Kesimpulan dari webinar ini menegaskan bahwa kolaborasi antara orang tua, guru, dan siswa sangat penting. Dengan menciptakan lingkungan yang aman dan penuh kasih, kita dapat membantu anak-anak tumbuh menjadi generasi yang berkarakter, percaya diri, dan memiliki nilai-nilai moral yang kuat. Upaya ini memerlukan peran aktif semua pihak demi menciptakan masa depan yang lebih baik. “Kolaborasi adalah kunci,” tandas Ruth Andriani, founder KGSB. “Dengan menciptakan lingkungan yang aman dan penuh kasih, kita dapat membantu anak-anak tumbuh menjadi individu yang percaya diri, berempati, dan memiliki nilai-nilai moral yang kuat,”pungkasnya.
Satkaara Berbagi Bekali Mental Health First Aid Kit untuk Guru KGSB
Guru memegang peran penting sebagai garda terdepan dalam mendeteksi dan merespon gangguan kesehatan mental siswa. Webinar Mental Health First Aid (MHFA) Kit yang diselenggarakan oleh Satkaara Berbagi bekerjasama dengan Rumah Guru BK pada awal kelahiran KGSB tiga tahun silam ini, memberikan panduan praktis bagi tenaga pendidik untuk mendeteksi dan menangani gangguan psikologis siswa melalui kolaborasi The Teaching Triangle antara guru, orang tua, dan siswa. Webinar diselenggarakan pada Sabtu (18/12/2021) dan melibatkan 193 guru anggota Komunitas Guru Satkaara Berbagi (KGSB) serta menghadirkan narasumber profesional, termasuk psikolog Reneta Kristiani, M.Psi., dan pendidik Ana Susanti, M.Pd. Dalam webinar tersebut, disoroti dampak pandemi terhadap kesehatan mental siswa, seperti kebosanan, learning loss, hingga kecemasan. Melalui metode MHFA yang meliputi langkah Look, Listen, Link, guru diajarkan cara mendeteksi, merespon, dan merujuk siswa dengan masalah psikologis. Tema Mental Health First Aid (MHFA) dipilih berdasarkan hasil polling nasional pada November 2021 yang melibatkan 106 guru anggota KGSB tingkat SD hingga SMA dari 20 provinsi. Polling ini mengungkap berbagai permasalahan yang sering dihadapi guru dalam kegiatan belajar mengajar (KBM), termasuk cara mengenali dan merespons gejala gangguan kesehatan mental siswa secara tepat demi mendukung perkembangan mental yang positif. Mental Health First Aid: Kunci Guru Menjaga Kesehatan Mental Siswa “Guru memiliki peran besar menjaga kesehatan mental murid. Webinar ini kami harapkan dapat meningkatkan kompetensi guru dalam mendukung siswa secara optimal,” ujar Ruth Andriani, founder KGSB yang juga merupakan Co-Founder PT Cetta Satkaara. Hasil penelitian Mental Health First Aid USA pada 2021 menunjukkan bahwa satu dari lima anak berusia 13–18 tahun (22 persen) pernah mengalami gangguan kesehatan mental yang serius di beberapa tahap kehidupan mereka. Rentang usia tersebut mencakup para siswa yang ketika itu mengikuti kegiatan belajar mengajar (KBM) dengan metode Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ), Pembelajaran Tatap Muka (PTM) terbatas, atau sistem blended learning. Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) selama pandemi terbukti memberikan dampak signifikan pada aspek psikososial siswa, seperti munculnya perasaan bosan, kekhawatiran, burnout, hingga learning loss. Menurut Kemendikbud, Pembelajaran Tatap Muka (PTM) terbatas dianggap sebagai salah satu solusi efektif untuk mengatasi berbagai gangguan psikologis tersebut. Namun, tidak dapat disangkal bahwa beberapa siswa masih mengalami masalah psikologis meskipun telah mengikuti PTM terbatas. Reneta Kristiani, M.Psi., dalam paparannya menjelaskan tiga langkah dasar dalam Mental Health First Aid (MHFA) Kit: Look, Listen, dan Link. Ketiga tahapan ini merupakan tanggung jawab bersama dalam sistem The Teaching Triangle yang melibatkan sekolah (guru), orang tua, dan siswa. Tahap berikutnya adalah menerapkan 10 langkah pertolongan MHFA, yaitu: Reneta menekankan pentingnya kerjasama dalam The Teaching Triangle untuk menciptakan perubahan positif pada proses pembelajaran. Ada dua jenis perubahan yang diharapkan: “Guru dan orang tua jangan hanya berfokus pada hasil akademik siswa, tetapi lebih pada proses dan perubahan nilai yang lebih mendalam. Relasi yang baik antara murid, guru, dan orang tua adalah kunci,” jelas Reneta. Praktik Pendekatan Bertahap oleh Guru Siti Aisyah, M.Pd., Kons., Guru BK SMPN 18 Semarang sekaligus anggota KGSB, membagikan pengalamannya dalam menghadapi berbagai kendala siswa selama pandemi, seperti rendahnya pemahaman materi, tugas menumpuk, hingga kecemasan. Ia menggunakan pendekatan bertahap melalui cyber counseling via chat, DM, telepon, atau video call, yang terbukti efektif mengatasi keterbatasan komunikasi saat pandemi. Senada dengan Reneta, Siti juga aktif menjalin komunikasi harmonis dengan orang tua siswa, baik melalui undangan ke sekolah maupun kunjungan rumah (home visit). Ia menekankan pentingnya koordinasi dengan pihak sekolah untuk mendapatkan dukungan. “Saya juga membuat grup WhatsApp dengan orang tua untuk menyampaikan informasi penting dan menjaga kedekatan, sehingga mereka merasa lebih nyaman berkomunikasi dengan saya,” ungkapnya. Upaya ini menjadi salah satu solusi nyata dalam mendukung kesehatan mental siswa selama proses pembelajaran berlangsung.
Pelatihan KGSB: Kelas Penulisan Dongeng 44 JP”Cerita Anak dari Khatulistiwa”
KGSB bekerja sama dengan Wong Indonesia Nulis (WIN) mengadakan:Pelatihan KGSB: Kelas Penulisan Dongeng 44 JP“Cerita Anak dari Khatulistiwa” Pemateri:Angela Corine, M,Pd – Pendongeng dan Penulis Buku Anak BabelTitik Kartitiani – Penulis dan Jurnalis SeniorKetentuan Peserta:Khusus Anggota KGSB Jadwal Acara:Hari, TanggalSabtu, 14 September 2024 (Pembekalan & Pelatihan)Sabtu, 28 September 2024 (Presentasi & Evaluasi) Link Registrasi : https://bit.ly/PelatihanKGSBKelasPenulisanBukuDongeng GRATIS TIDAK DIPUNGUT BIAYA Peserta akan mendapatkan E-Certificate 44 JP Contact Person:Alfa – 0857 1084 0700 Ketentuan dan Persyaratan Setiap calon peserta wajib mengirimkan karya tulisan kepada panitia untuk diseleksi, dengan ketentuan penulisan sebagai berikut : 1. Tema penulisan “Cerita Anak dari Khatulistiwa”2. Tulisan bersifat fiksi sesuai dengan tema.3. Gaya penulisan santai dengan tetap memperhatikan EYD atau PUEBI yang baik.4. Tulisan berjumlah minimal 1.500 – 2.000 kata.5. Tulisan wajib orisinil.6. Batas akhir pengiriman karya tulisan : Rabu, 11 September 2024.7. Karya tulisan dikirim melalui email ke kontak.kgsb@gmail.com8. Peserta wajib mengikuti rangkaian pelatihan sampai selesai
Webinar Satkaara dan Rumah Guru BK: Kesehatan Mental Siswa Sering Luput Diperhatikan
KOMPAS.com – Kesehatan mental murid di masa pandemi seringkali luput untuk diperhatikan, terutama dalam kegiatan belajar mengajar (KBM) di era kenormalan baru yang memberikan banyak tantangan kepada murid. Menurut hasil penelitian Mental Health First Aid USA 2021 menyebut satu dari lima anak berusia 13-18 tahun (22 persen) mengalami gangguan kesehatan mental parah di beberapa titik selama hidup mereka. Pada rentang usia tersebut merupakan usia anak didik yang kini tengah menjalani KBM baik dengan PJJ, PTM Terbatas maupun blended. Faktanya, pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) selama pandemi saat ini berdampak pada aspek psikososial murid. Mulai dari perasaan bosan, khawatir, burn out sampai learning loss. Menurut Kemendikbud, PTM Terbatas menjadi salah satu solusi efektif mengatasi berbagai gangguan psikologis yang dialami siswa. Namun tidak menutup kemungkinan beberapa siswa masih mengalami gangguan psikologis meskipun sudah menjalani PTM Terbatas. Sebagai wujud nyata komitmen dan kepedulian Satkaara terhadap pendidikan dan kesehatan mental murid serta guru di Indonesia, Satkaara Berbagi kembali berkolaborasi dengan Rumah Guru BK menghadirkan webinar bagi Komunitas Guru Satkaara Berbagi (KGSB). Webinar diselelenggarapakan pada Sabtu, 18 Desember 2021 melalui platform zoom ini diikuti 193 guru anggota KGSB dan mengangkat tema “Mental Health First Aid (MHFA) Kit”. Baca juga: Psikolog Unair: Tanda Seseorang Alami Gangguan Kesehatan Mental Psikosis Peran guru dalam kesehatan mental siswa Tema MHFA ini dipilih berdasarkan poling nasional yang dilakukan per November 2021 kepada 106 guru ditingkat SD hingga SMA dari 20 provinsi. Poling tersebut menanyakan seputar permasalahan yang sering ditemui guru dalam kegiatan belajar mengajar (KBM), termasuk cara mengenal dan merespon gejala kesehatan siswa dengan tepat untuk perkembangan mental yang positif. Narasumber dalam webinar tersebut yakni: adalah Reneta Kristiani (Psikolog dan Dosen Fakultas Psikologi Unika Atma Jaya), Ana Susanti (Founder Rumah Guru BK dan Widyaiswara Kemendikbud). Kegiatan webinar MFA juga melibatkan anggota KGSB yaitu Guru BK SMPN 18 Semarang, Siti Aisyah dan Guru BK SMAN 34 Jakarta, Juli Sugiati. Co-Founder dan Senior Advisor PT Cetta Satkaara, Ruth Andriani menuturkan webinar MHFA ini diharapkan dapat meningkatkam kompetensi dan kapabilitas guru serta kita berperan serta dalam meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. “Guru memiliki peran yang besar dalam menjaga kesehatan mental murid selama KBM berlangsung. Oleh sebab itu, kami menilai penting bagi para guru untuk memahami tentang Mental Health First Aid Kit langsung dari narasumber profesional,” ujar Ruth. Dalam paparannya, Reneta menjelaskan tiga langkah dasar dalam melakukan Mental First Aid Kit yakni Look, Listen dan Link. Ketiga tahapan tersebut menjadi tanggung jawab sekolah (guru), orangtua dan siswa yang merupakan sistem (The Teaching Triangle). Setelah melakukan pengamatan pada murid, maka selanjutnya adalah 10 langkah pertolongan Mental First Aid meliputi: Bersiap-siaplah, Perhatikan, Mendengar dan menyimak, Bertanya, Memberikan respons yang empatik, Belajar, Hadir, Tunjukkan kepedulian dan kasih yang tanpa syarat, Rujuk untuk mendapatkan bantuan profesional serta Menjaga kesehatan mental diri sendiri. https://www.kompas.com/edukasi/read/2021/12/19/123733471/webinar-satkaara-dan-rumah-guru-bk-kesehatan-mental-siswa-sering-luput
Webinar KGSB: Pengelolaan Kelas yang Berbasis Psikologi Siswa
Sahabat Guru Hebat, Dewasa ini, pemahaman mengenai psikologi siswa sangat penting untuk menciptakan lingkungan belajar yang kondusif dan efektif. Pengelolaan kelas berbasis psikologi siswa dapat meningkatkan motivasi belajar, keterlibatan, dan kesejahteraan emosional siswa. Studi dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi menunjukkan bahwa 70% siswa yang merasa didukung secara emosional melaporkan peningkatan motivasi belajar, dan 65% melaporkan peningkatan keterlibatan dalam kegiatan belajar. Oleh karena itu, para pendidik perlu strategi efektif dalam mengelola kelas dengan memperhatikan kebutuhan psikologis siswa. Webinar ini bertujuan memberikan wawasan kepada para pendidik tentang pentingnya pengelolaan kelas berbasis psikologi siswa. Diharapkan, para pendidik dapat mengadopsi pendekatan holistik untuk menciptakan suasana belajar yang mendukung perkembangan emosional dan akademis siswa. KGSB Present: WEBINAR“Pengelolaan Kelas yang Berbasis Psikologi Siswa” Narasumber: 1. Ana Susanti, M.Pd. CEP, CHt. (Founder Rumah Guru BK dan Widyaiswara di PPSDM Kemendikbudristek RI) 2. Naila Kamaliya, M.Psi.,Psikolog, Dosen Prodi Psikologi, FISIP, Universitas Brawijaya MC● Jumianawati, S.Psi, M.Pd (Guru BK SMA Negeri 1 Cipari & Anggota KGSB) Moderator● Aulianti Jaya, M.Pd. (Guru BK SMAN 76 Jakarta & Anggota KGSB) Jadwal Acara:Hari, tanggal: Sabtu, 24 Agustus 2024Waktu : Pkl. 12.30-15.15 (WIB)/ 13.30-16.15 (WITA)/ 14.30-17.15 (WIT) BATAS WAKTU PENDAFTARAN23 Agustus 2024 #WebinarKGSB#PengelolaanKelasBerbasisPsikologiSiswa#KomunitasGuruSatkaaraBerbagi#berbagiberdampakbernilai
Webinar KGSB: Pengelolaan Kelas yang Berbasis Psikologi Siswa
Sahabat Guru Hebat, Dewasa ini, pemahaman mengenai psikologi siswa sangat penting untuk menciptakan lingkungan belajar yang kondusif dan efektif. Pengelolaan kelas berbasis psikologi siswa dapat meningkatkan motivasi belajar, keterlibatan, dan kesejahteraan emosional siswa. Studi dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi menunjukkan bahwa 70% siswa yang merasa didukung secara emosional melaporkan peningkatan motivasi belajar, dan 65% melaporkan peningkatan keterlibatan dalam kegiatan belajar. Oleh karena itu, para pendidik perlu strategi efektif dalam mengelola kelas dengan memperhatikan kebutuhan psikologis siswa. Webinar ini bertujuan memberikan wawasan kepada para pendidik tentang pentingnya pengelolaan kelas berbasis psikologi siswa. Diharapkan, para pendidik dapat mengadopsi pendekatan holistik untuk menciptakan suasana belajar yang mendukung perkembangan emosional dan akademis siswa. KGSB Present: WEBINAR“Pengelolaan Kelas yang Berbasis Psikologi Siswa” Narasumber: MC● Jumianawati, S.Psi, M.Pd (Guru BK SMA Negeri 1 Cipari & Anggota KGSB) Moderator● Aulianti Jaya, M.Pd. (Guru BK SMAN 76 Jakarta & Anggota KGSB) Jadwal Acara:Hari, tanggal: Sabtu, 24 Agustus 2024Waktu : Pkl. 12.30-15.15 (WIB)/ 13.30-16.15 (WITA)/ 14.30-17.15 (WIT)Platform: ZOOM Meeting (Link akan diberikan H-1 acara melalui WA) BATAS WAKTU PENDAFTARAN23 Agustus 2024 GRATIS TIDAK DIPUNGUT BIAYA LINK REGISTRASIhttps://bit.ly/KGSBPengelolaanKelasBerbasisPsikologiSiswa E-CERTIFICATE (Khusus untuk anggota KGSB)
Peran Guru dalam Menangani Tindak Kekerasan Seksual pada Anak di Sekolah
Per Agustus 2023, Komite Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mencatat terdapat 723 kasus kekerasan yang berhubungan dengan satuan pendidikan. Dari data tersebut, 487 kasus merupakan kekerasan seksual yang melibatkan anak di sekolah. Setiap jenjang pendidikan harus memiliki Standar Operasional Prosedur (SOP) penanganan tindak kekerasan seksual di sekolah sebagaimana dituangkan dalam Permendikbud Nomor 82 Tahun 2015 tentang Pencegahan dan Penanggulangan Tindak Kekerasan di Lingkungan Satuan Pendidikan. Penanganan tindak kekerasan seksual harus sesuai dengan prinsip dukungan psikologis atau psychological first aid (PFA) yang meliputi, safeguard, sustain, comfort, advise, dan activate KGSB Present: WEBINAR“Peran Guru dalam Menangani Tindak Kekerasan Seksual pada Anak di Sekolah” Narasumber: MC● Elshinta T.K Sambenthiro (Guru BK SMPN 1 Balikpapan & Anggota KGSB) Moderator● Kustanti P., S.Pd., Kons (Guru BK SMPN 2 Kalipuro Banyuwangi & Anggota KGSB) Jadwal Acara:Hari, tanggal: Sabtu, 24 Februari 2024Pukul : 12.30-15.15 (WIB)/ 13.30-16.15 (WITA)/ 14.30-17.15 (WIT)Platform: ZOOM Meeting (Link akan diberikan H-1 acara melalui WA) BATAS WAKTU PENDAFTARAN23 Februari 2024 GRATIS TIDAK DIPUNGUT BIAYA LINK REGISTRASIhttps://bit.ly/KGSBTanganiKekerasanSeksual Contact Person:Riki – 0856 100 7674
Tenaga Pendidik Diharapkan Berikan Konseling Tepat kepada Korban Bullying
Tenaga Pendidik Diharapkan Berikan Konseling Tepat kepada Korban Bullying BULLYING atau perundungan masih menjadi masalah yang cukup serius di Indonesia. Kasus bullying kembali menjadi sorotan publik dan kasusnya semakin meningkat. Berdasarkan data dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) setidaknya terdapat lebih dari 226 kasus kekerasan fisik dan psikis, termasuk perundungan. KPAI juga mencatat selama periode 2016-2020 ada 665 anak yang harus berhadapan dengan hukum karena menjadi pelaku kekerasan. Rinciannya, 506 anak melakukan kekerasan fisik dan 149 anak melakukan kekerasan psikis. Data dari Programme for International Students Assessment (PISA) pada 2018 menunjukkan, sebanyak 41,1% siswa di Indonesia mengaku pernah mengalami perundungan. Di tahun yang sama, Indonesia menempati posisi kelima tertinggi dari 78 negara sebagai negara yang paling banyak mencatat kasus perundungan di lingkungan sekolah. Survei Nasional Pengalaman Hidup Anak dan Remaja (SNPHAR) oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) di 2018 menyatakan bahwa 2 dari 3 anak remaja pernah mengalami kekerasan, dan 3 dari 4 kasus tersebut merupakan kasus antarteman sebayanya. Jika dibiarkan, bullying dapat memberikan dampak yang merugikan korban secara berkepanjangan seperti stres, depresi, bahkan trauma. Selain itu, korban bullying mengalami masalah kesehatan dan penurunan performa akademis. Masalah bullying di sekolah perlu diatasi dengan kerja sama dari guru di sekolah dan keluarga siswa. Salah satu yang bisa dilakukan oleh tenaga pendidik untuk menangani dampak bullying ialah memberikan konseling yang tepat kepada para korban bullying di sekolah. Menyadari bahaya dampak bullying kepada siswa, Komunitas Guru Satkaara Berbagi (KGSB) mengadakan Webinar KGSB bertajuk Teknik Konseling kepada Korban Bullying di Sekolah pada Sabtu (15/4). Webinar yang diikuti ratusan tenaga pendidik anggota KGSB dari Indonesia dan Timor Leste menghadirkan beberapa narasumber yang kompeten di bidangnya. Masing-masing adalah Nanda Rossalia, M.Psi, psikolog yang merupakan Sekretaris Program Studi S1 Fakultas Psikologi UNIKA Atma Jaya; Ana Susanti, M.Pd,CEP, CHt, Founder Rumah Guru BK dan Widyaiswara Balai Besar Guru Penggerak Provinsi Jawa Barat di Kemendikbud Ristek RI, serta Manggar Istanti., S.Pd., M.Pd. Anggota KGSB yang merupaka Guru BK di SMPN 2 Jayapura.
KGSB: Kesenjangan generasi picu konflik bila ditangani kurang baik
KGSB: Kesenjangan generasi picu konflik bila ditangani kurang baik Jakarta (ANTARA) – Komunitas Guru Satkaara Berbagi (KGSB) menyatakan kesenjangan generasi antara guru dan murid berpotensi memicu konflik apabila ditangani kurang baik, sehingga diperlukan pemahaman untuk para guru agar bisa menjembatani dalam proses belajar mengajar. “Kesenjangan generasi ini rawan akan konflik bila ditangani dengan kurang baik, termasuk perbedaan pemahaman antara guru dan murid. Kesenjangan generasi antara guru dan murid sering kali menjadi pembatas atau hambatan dalam pembelajaran,” ujar Ketua KGSB, Ardyles Faesilio dalam keterangannya di Jakarta, Minggu.
KGSB Latih 80 Guru Cegah Masalah Kesehatan Mental Siswa
KGSB Latih 80 Guru Cegah Masalah Kesehatan Mental Siswa. PFA digelar daring selama tiga kali yakni 27 April 2024, 4 Mei 2024 dan 11 Mei 2024. Pelatihan PFA Batch II diikuti 80 guru anggota KGSB yang telah lolos proses seleksi dan merupakan tenaga pendidik dari berbagai tingkat pendidikan. Mulai dari PAUD hingga SMA/SMK serta Sekolah Luar Biasa (SLB). Domisili mereka tersebar dari berbagai wilayah Indonesia, ditambah beberapa peserta dari negara tetangga yakni Timor Leste. Pelatihan ini bertujuan sebagai respon atas fenomena meningkatnya masalah kesehatan mental di kalangan siswa. Artikel ini telah tayang di Tribun-Timur.com dengan judul KGSB Latih 80 Guru Cegah Masalah Kesehatan Mental Siswa, https://makassar.tribunnews.com/2024/05/11/kgsb-latih-80-guru-cegah-masalah-kesehatan-mental-siswa.
